Jumat, 28 September 2018

Ketika R Menduri Hati

Ini bukan salahmu, kau mengikuti garis takdir hidupmu saja. Kau hanya mengiyakan saat Dia mendatangkannya. Ini bukan salahmu, kau hanya menjalani alur langit dan bumi, mengalirkan syair tentang segi tiga. Ini bukan salahmu saat orang memandang surat undangan dalam genggamanku. Ini bukan salahmu saat foto di undangan itu adalah fotomu dan bidadarimu. Ini salahku, pandai menyimpan rasa, takut menumbuhkan cinta, aku pula yang tersiksa.
"Kemarin aku bertemu dengannya," kata Ane tadi pagi.
"Apa dia mengatakan sesuatu?" tanyaku.
“Dia hanya menitipkan surat undangan itu."
Kembali kutatap surat yang masih terlipat di telapak tanganku, warna merah. Seperti ada api di dalamnya mataku, semakin lama api itu kian membakar. Tak tahan, kutumpahkan saja semuanya. Sedang Ane tak mampu berbuat apapun.
Bangku di taman itu menjadi saksi bisu betapa sesaknya rasa ini. Sangat sakit. Tangan mulus Ane perlahan merangkul pundak yang tak sadar kugetarkan. Di pundak Anelah aku memuaskan rasa ingin menjerit, menangis, dan menghilang. Teriakan yang tak terdengar, hanya tersimpan dalam hati.
Sembilan bulan yang lalu ia dan aku bertemu untuk pertama kalinya di acara pertunangan Ane. Setelah acara selesai, Ane memperkenalkan seorang laki-laki. Sosok pendiam, ramah, tapi mampu menarik perhatianku.
“Siapa tahu kalian berjodoh," kata Ane setengah berbisik jahil.
"Regi," suara lembutnya terdengar saat pertama kali ia menyebutkan nama.
“Nurma," jawabku.
Januari 2017 pertama kalinya tangan kami berjabat. Tak butuh waktu lama untuk aku dan Regi saling mengenal. Saling bertukar nomor kontak, menikmati makan malam di pinggir jalan, menghabiskan waktu untuk berbagi cerita.
Mei 2017 aku kembali bertemu dengan Ane. Sejak dipindahkan ke kantor utama, Ane memilih pindah tempat tinggal agar lebih dekat dengan tempat kerjanya.
"Bagaimana kabarmu, Nur?"
"Seperti yang kau lihat."
“Lalu bagaimana dengan Regi? Cieee...." Ane tertawa kecil.
"Maksudmu apa, Ne?"
“Kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu. Lihat, pipimu memerah. Wah, apa kalian sudah pacaran? Kenapa tidak memberi tahu aku? Jahat kamu, Nur. Apa kau sudah tidak menganggapku sahabat?"
Pipiku memerah? Benarkah? Kulirik Ane. Bibirnya terkatup rapat, agak dimonyongkan sedikit rupanya.
“Sudahlah, Ne. Jangan goda aku terus.”
"Tapi aku juga ingin tahu, Nur. Kalian sudah kenal baik, pasti sudah ada perkembangan ke arah yang lebih serius kan? Pacaran kek, tunangan, atau langsung menikah. Kamu suka Regi, kan?" kujawab pertanyaan Ane dengan anggukan malu-malu. Anggukan kepalaku dibalas dengan senyum ringan dihiasi lesung pipit di pipinya.
"Aku sayang kamu, Nur. Aku ingin melihatmu bahagia, dan aku yakin Regilah orangnya. Orang yang selalu bisa membuatmu tersenyum dan tertawa.”
Suasana saat itu sungguh membahagiakan, tak seperti yang sekarang.
"Regi akan menikah. Bukan dengan aku, tapi dengan..." mulutku tertutup, lalu Ane menenangkan.
"Aku pun tak habis pikir, kenapa ceritanya seperti ini. Maafkan aku, Nur...”
"Tidak ada yang bisa disalahkan, Ne. Mungkin Ulfa adalah pilihan Regi. Aku saja yang bodoh, terlalu yakin dengan sikap manisnya. Tanpa aku sadari bahwa ada cinta di antara mereka."
"Tapi Ulfa sahabatmu, dan dia tahu antara kamu dan Regi..." Aku tersenyum, menahan sesak yang menyelimuti hati.

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

2 komentar:

Nefilia H mengatakan...

Ya ampun, kasihan. Miris ya :')
Aku suka ga kuat baca yang beginian. Ikutan baper xD

Tulisannya dah bagus nih, hanya saja coba diratakan kanan kiri, biar makin sedap bacanya :D

Unknown mengatakan...

Mksh ka... iya soalnya ngunggahnya pake hp, jd susah diratakan. Hehe mksh masukannya...