Pukul 06.00 WIB langit masih berwarna biru. Terasa segerombolan angin membelai mesra dedaunan di samping kamar minimalis itu. Dari sudut kamar berdinding hijau muda terlihat gadis kecil tengah menggeliat, menggerak-gerakkan badannya yang berbalut piyama putih.
Sesekali ia menguap, lalu mengucek matanya yang agak sendu. Nampak sekali suasana libur di hari Minggu. Setelah mematikan alarm di jam bekernya, gadis itu menuruni ranjang tidur secara perlahan. Arah dapur yang ditujunya. Dituangkannya air putih ke dalam gelas bergambar Frozen. Teguk demi teguk air masuk membasahi kerongkongannya.
"Tiara, kamu sudah bangun, Nak?" sapa seorang wanita muda berusia sekira tiga puluhan. Tiara hanya menganggukkan kepalanya.
"Bunda sudah buatkan nasi goreng. Nanti setelah sarapan, kamu mandi terus nonton TV. Acara kartun kesukaan kamu sudah mau mulai, nanti kamu ketinggalan. Oh iya, Bunda juga sudah siapkan buku-buku cerita di meja TV. Semoga hari kamu menyenangkan, sayang..."
Bosan. Satu kata yang terlintas di hati gadis enam tahun itu. Jangankan hari sekolah, hari libur pun Tiara hanya berdiam di rumah. Tidak seperti teman-teman sebayanya yang asyik bermain gundu, lompat tali, ada juga yang berolahraga bulu tangkis, meskipun koknya sering bersarang di jaring net.
Terdengar suara Risma menjerit. Ia mengumpati Andri yang menggantungkan sandalnya di atas pohon. Ada juga Syifa yang duduk manis sambil menggendong boneka beruangnya, sedang teman-temannya yang lain asyik tertawa melihat Dida yang tambun dikejar-kejar Tama yang jangkung. Semua tertawa riang, sementara Tiara hanya dapat memandangnya dari balik jendela.
“Kamu tidak perlu iri dengan mereka." Tiara mengangguk. Nampaknya ia masih betah berdiri di balik tirai merah marun.
“Dulu waktu kecil, Bunda sering membawamu ke taman tetangga kita. Di sana ada banyak tanaman bermacam warna. Kamu pun sangat senang jika Bunda bawa ke sana. Kamu masih ingat, Nak? Mungkin tidak. Usiamu baru satu tahun lebih waktu itu. Berjalan pun kamu belum lancar." Tampak Bunda tersenyum, tapi seperti senyum kepalsuan.
“Sampai datang hari itu. Hari yang merebut riangnya gadis kecil Bunda. Batu sebesar kepalamu menggoda kaki Bunda yang tengah berlari hingga terjatuh. Sampai tubuh mungilmu terlepas saat kobaran api membesar dengan bantuan angin. Setelah itu semuanya gelap. Bunda hanya melihatmu terbaring di rumah sakit. Matamu tertutup, lalu Bunda...” Bunda terisak, tidak sanggup melanjutkan cerita.
Melihat bundanya menangis, Tiara perlahan menghampirinya. Tangannya mengusap air mata sang bunda seolah ingin menguatkan. Jari-jarinya yang masih saling menempel terasa halus di pipi bunda. Wajahnya yang masih belum rata terlihat ayu di mata bunda.
"Telima… katih…, Bunda..."
Tangis bunda semakin menjadi. Ia baru saja mendengar kalimat pertama anaknya setelah sekian tahun. Ia yakin putrinya akan kembali, meski harus menjalani operasi beberapa kali.
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
Tidak ada komentar:
Posting Komentar