Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 Oktober 2018

Impian Rasti


Sekeranjang sayuran dibawanya. Gadis itu tersenyum saat para tetangga menyapa, menampakkan dua gigi gingsul sehingga terlihat semakin manis. Banyak pemuda yang tergila-gila padanya, karena bukan hanya punya wajah yang ayu, sikapnya pun santun dan sederhana. Sudah banyak lamaran yang datang kepadanya, namun tak ada satu pun yang diterima. Sesampainya dari pasar, Rasti kaget karena di rumahnya sedang ada tamu. Pak Sanif, sahabat almarhum ayahnya tengah berbicara dengan bu Siti, ibu Rasti.
“Aku belum ingin menikah, Bu,” kata Rasti kepada ibunya setelah pak Sanif berpamitan.
“Sudah sebelas laki-laki yang datang melamarmu, dan semuanya ditolak. Sekarang ada pak Sanif datang melamar buat anaknya, moso’ harus Ibu tolak lagi, Nduk?” tanya bu Siti.
“Aku masih muda, Bu. Masih banyak impian yang harus aku kejar,” jawab Rasti.
“Aldo itu anak yang baik, sopan, dan sudah punya pekerjaan. Kalian juga sudah kenal dari kecil. Kalau setiap lamaran yang datang ditolak, Ibu takut ndak ada lagi laki-laki yang mau menikahi kamu.”
“Aku masih punya cita-cita ingin kuliah, Bu. Sebelum meninggal, bapak ingin melihat aku kuliah di kota. Belajar di gedung tinggi sampai aku dapat nilai yang tinggi juga. Walaupun bapak sudah tidak bisa melihatku lagi, tapi aku yakin bapak bahagia kalau aku bisa kuliah dan jadi seorang dokter. Kalau aku menikah sekarang, bagaimana dengan impian itu, Bu?”
Bu Siti mematung. Ia teringat Awono, yang suka menghabiskan waktu dengan minum teh tawar buatannya. Teh tanpa gula, tapi suaminya selalu mengatakan itu adalah teh termanis, semanis si pembuatnya. Di pelupuk matanya terbayang sesosok lelaki jangkung kurus hitam. Di gendang telinganya terdengar kembali sayup-sayup rayuan dan wejangan Awono yang selalu membekas di hati.
“Ibu kenapa?” tanya Rasti mengagetkan bu Siti.
“Ibu teringat akan bapakmu. Meskipun kerjanya serabutan, bahkan untuk makan saja sering puasa, tapi bapakmu ingin anaknya sekolah yang tinggi agar jadi orang sukses. Baiklah, Nduk. Ibu dukung semua keputusanmu. Ibu yakin kamu sudah besar, bisa memilih jalan hidup yang baik buat keluarga kita.”


#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Kamis, 04 Oktober 2018

INDAH


Lelaki beristri itu berjalan dengan gagah, ia melewati kerumunan anak kecil yang tengah bermain gundu di gang sempit. Ibu-ibu kompleks enggan untuk menggodanya, bahkan menyapa pun tidak. Sambil bersiul kecil, sampailah ia di sebuah rumah minimalis bercat dinding hijau muda. Di depan teras, istrinya tengah duduk di atas kursi rotan. Suwanto, lelaki berjenggot itu lalu mendekati istrinya.
“Apa tidak ada lagi yang bisa kaulakukan selain berdiam diri sepanjang hari di rotan tua itu?” tanya Suwanto setelah mempertemukan bokongnya dengan kursi rotan di sebelah Marni.
“Apa harus aku jawab setelah pertanyaan itu selalu kaulontarkan setiap pagi?” Marni kembali bertanya.
“Aku bosan, Marni. Lihatlah keadaanmu sekarang. Badan tak segar, mata cekung, rambut berantakan, bahkan secangkir kopi atau teh pun tak pernah ada untukku. Ingat, Marni. Masih ada aku yang harus kauurus.”
“Kau sudah tua dan bisa mengurus kebutuhanmu sendiri. Tak seperti Indahku yang malang, dia masih terlalu kecil untuk merasakan kepedihan. Kenapa tak kaubunuh saja aku, Wanto? Aku pun bosan hidup berpuluh-puluh tahun dengan berpura-pura tidak ada rasa bersalah. Aku mau mati saja dan menyusul Indah. Pasti dia sudah besar dan menjadi gadis yang cantik di sana. Kulitnya putih mewarisi kulitku, rambutnya hitam lurus, dan hidungnya mancung mirip hidungmu.” Marni tersenyum tipis, sedangkan Suwanto hanya terdiam sambil menatap tingkah istri tercintanya.
“Kau masih ingat? Saat suaranya pertama kali kita dengar, kita menangis menyambutnya dalam pangkuan. Bayi yang sangat cantik, kata suster waktu itu. Itu air mata bahagia, tidak seperti satu tahun kemudian saat kita kembali menangis bersama untuk kedua kalinya. Indah merintih kesakitan, sampai suaranya pun hampir tak terdengar. Ia ingin menjerit minta tangan-tangan dokter itu memeriksanya. Tapi apa yang terjadi? Sungguh tak habis kupikir, mereka sudah cuci tangan sebelum menyentuh putri kecil kita. Inikah keadilan yang harus kita terima sebab kita orang tak terbiaya?”
“Sudahlah, Marni. Kejadian itu sudah dua puluh tahun berlalu. Indah pun tak akan suka melihatmu terus mengutuk takdir seperti ini. Kau tahu, semua tetangga memandang miring tentangmu. Dipikirnya kau sudah tak waras. Aku sedih mendengarnya, Marni. Kumohon, sadarlah dan terimalah kenyataan ini dengan ikhlas. Demi aku, juga demi Indah,” kata Suwanto dengan mata berkaca-kaca.
Marni tetap bergeming. Dengan mata kosong, ia berdiri dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, meninggalkan Suwanto yang mengusap air mata. Sebagai seorang ayah yang kehilangan putri semata wayangnya, Suwanto merasakan hal yang sama. Namun, ia menyimpan rasa sedihnya sendiri, membiarkan Indah berlalu dengan kenangannya.

#TantanganODOP4
#onedayonepost
#odopbatch6
#fiksi

Minggu, 30 September 2018

MAR


“Keterlaluan bapakmu itu! Anak sudah besar, biaya hidup makin bertambah, bapakmu kerjanya cuma keluyuran. Boro-boro cari kerjaan, malah nambah beban. Awas saja kalau dia pulang tidak membawa apa-apa, akan ada sapu yang melayang,” celoteh ibu sambil mengacungkan sapu rombeng ke arah pintu.
Seperti biasanya, malam ini terjadi keributan di gubuk tua kami. Kekacauan itu sudah menjadi menu makan malam keluarga, aku yang masih duduk di kelas satu SD pun mulai terbiasa.
“Aku masuk kamar dulu ya, Bu. Ada PR yang belum dikerjakan,” kataku sambil membuka pintu kamar.
“Belajar yang benar, jangan seperti bapakmu,” jawab ibu dengan nada kesal.
Tak berapa lama, bapak datang. Pintu reot terbuka, menampakkan wajah tanpa berdosa bapak. Seperti harimau bertemu babi hutan, tanpa menunggu basa-basi omelan ibu langsung meluncur. Di ruang tamu beralaskan tanah, tak ada jawaban kasar sedikit pun yang keluar dari mulut bapak. Itu yang kudengar dari kamar.
“Bapak dari mana saja? Berangkat dari pagi sampai petang, tapi pulang tidak membawa uang sepeser pun. Mau makan apa kita, Pak? Beras sudah habis, belum lagi biaya sekolah Yani. Bapak coba cari kerjaan, biar kehidupan kita tidak sengsara seperti sekarang ini. Aku capek hati, Pak… dari awal menikah sampai sudah punya buntut masih saja hidup serba kekurangan.”
“Marleni, istriku, seharian ini Bapak cari kerja. Tapi mungkin belum rezeki kita…” jawab bapak.
“Tiap hari alasannya cari kerja, tapi mana hasilnya? Jangan-jangan benar apa yang dibilang tetangga, Bapak sering nongkrong di  warung pojok mbak Ratih. Ngaku, Pak…”
“Kamu jangan percaya omongan orang lain. Bisa jadi mereka iri sama kita.”
“Terus wanita itu siapa?” suara ibu terdengar semakin meninggi.
“Wanita yang mana?” tanya bapak tetap dengan suara lembut.
“Wanita yang katanya suka nongkrong sama Bapak itu,” jawab ibu ketus.
“Masih katanya kan? Sudahlah, Mar. Percayalah, suamimu ini laki-laki yang setia dan bertanggung jawab.”
Tutur lembut bapak membuat ibu sedikit tenang, aku pun akhirnya bisa tidur lelap setelah PR selesai dikerjakan. Keesokan paginya, aku dibonceng ibu ke sekolah. Dengan mengayuh sepeda, kami menyusuri pematang sawah yang terhampar luas.
Aku baru ingat, botol minum yang ibu siapkan belum dimasukkan ke dalam tas. Karena sudah di tengah jalan, ibu memutuskan untuk membeli air mineral di warung. Sampailah kami di sebuah warung yang tak jauh dari pertigaan jalan. Aku yang menunggu di bawah pohon kaget mendengar jerit dan tangisan ibu. Di sana sudah ada bapak, ibu, mbak Ratih si penjaga warung, dan seorang wanita. Aku mengenalnya, Bi Marlina, adik kandung ibu. Rupanya itulah alasan bapak sering pergi pagi, pulang malam, dan malas mencari uang. Kulihat air mata ibu yang terus mengalir, lalu kuarahkan pandangan pada bapak. Tangannya masih menggandeng tangan bi Marlina, sedangkan bi Marlina sendiri terlihat malu dan berusaha menyembunyikan bibir merahnya.

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Jumat, 28 September 2018

Ketika R Menduri Hati

Ini bukan salahmu, kau mengikuti garis takdir hidupmu saja. Kau hanya mengiyakan saat Dia mendatangkannya. Ini bukan salahmu, kau hanya menjalani alur langit dan bumi, mengalirkan syair tentang segi tiga. Ini bukan salahmu saat orang memandang surat undangan dalam genggamanku. Ini bukan salahmu saat foto di undangan itu adalah fotomu dan bidadarimu. Ini salahku, pandai menyimpan rasa, takut menumbuhkan cinta, aku pula yang tersiksa.
"Kemarin aku bertemu dengannya," kata Ane tadi pagi.
"Apa dia mengatakan sesuatu?" tanyaku.
“Dia hanya menitipkan surat undangan itu."
Kembali kutatap surat yang masih terlipat di telapak tanganku, warna merah. Seperti ada api di dalamnya mataku, semakin lama api itu kian membakar. Tak tahan, kutumpahkan saja semuanya. Sedang Ane tak mampu berbuat apapun.
Bangku di taman itu menjadi saksi bisu betapa sesaknya rasa ini. Sangat sakit. Tangan mulus Ane perlahan merangkul pundak yang tak sadar kugetarkan. Di pundak Anelah aku memuaskan rasa ingin menjerit, menangis, dan menghilang. Teriakan yang tak terdengar, hanya tersimpan dalam hati.
Sembilan bulan yang lalu ia dan aku bertemu untuk pertama kalinya di acara pertunangan Ane. Setelah acara selesai, Ane memperkenalkan seorang laki-laki. Sosok pendiam, ramah, tapi mampu menarik perhatianku.
“Siapa tahu kalian berjodoh," kata Ane setengah berbisik jahil.
"Regi," suara lembutnya terdengar saat pertama kali ia menyebutkan nama.
“Nurma," jawabku.
Januari 2017 pertama kalinya tangan kami berjabat. Tak butuh waktu lama untuk aku dan Regi saling mengenal. Saling bertukar nomor kontak, menikmati makan malam di pinggir jalan, menghabiskan waktu untuk berbagi cerita.
Mei 2017 aku kembali bertemu dengan Ane. Sejak dipindahkan ke kantor utama, Ane memilih pindah tempat tinggal agar lebih dekat dengan tempat kerjanya.
"Bagaimana kabarmu, Nur?"
"Seperti yang kau lihat."
“Lalu bagaimana dengan Regi? Cieee...." Ane tertawa kecil.
"Maksudmu apa, Ne?"
“Kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu. Lihat, pipimu memerah. Wah, apa kalian sudah pacaran? Kenapa tidak memberi tahu aku? Jahat kamu, Nur. Apa kau sudah tidak menganggapku sahabat?"
Pipiku memerah? Benarkah? Kulirik Ane. Bibirnya terkatup rapat, agak dimonyongkan sedikit rupanya.
“Sudahlah, Ne. Jangan goda aku terus.”
"Tapi aku juga ingin tahu, Nur. Kalian sudah kenal baik, pasti sudah ada perkembangan ke arah yang lebih serius kan? Pacaran kek, tunangan, atau langsung menikah. Kamu suka Regi, kan?" kujawab pertanyaan Ane dengan anggukan malu-malu. Anggukan kepalaku dibalas dengan senyum ringan dihiasi lesung pipit di pipinya.
"Aku sayang kamu, Nur. Aku ingin melihatmu bahagia, dan aku yakin Regilah orangnya. Orang yang selalu bisa membuatmu tersenyum dan tertawa.”
Suasana saat itu sungguh membahagiakan, tak seperti yang sekarang.
"Regi akan menikah. Bukan dengan aku, tapi dengan..." mulutku tertutup, lalu Ane menenangkan.
"Aku pun tak habis pikir, kenapa ceritanya seperti ini. Maafkan aku, Nur...”
"Tidak ada yang bisa disalahkan, Ne. Mungkin Ulfa adalah pilihan Regi. Aku saja yang bodoh, terlalu yakin dengan sikap manisnya. Tanpa aku sadari bahwa ada cinta di antara mereka."
"Tapi Ulfa sahabatmu, dan dia tahu antara kamu dan Regi..." Aku tersenyum, menahan sesak yang menyelimuti hati.

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Senin, 24 September 2018

Pura-Pura Bahagia Itu Menyakitkan

Hari ini, langit begitu panas. Angin enggan menyapaku yang tengah dilanda gelisah. Kemeja batik oranye dengan celana Levis hitam tak membuatku yakin saat kakiku melangkah ke sebuah acara pernikahan. Di sana terlihat sepasang pengantin, bahagia sekali kelihatannya. Mempelai wanita sangat cantik, balutan gaun biru toska menambah keanggunannya. Mempelai laki-laki tampan dengan kemeja putih berbalut jas hitam.
“Lihat Lina, dia cantik, bukan?" tanya Priyo sambil menunjuk sang ratu sehari yang sejak tadi tak pernah menutup senyumnya. Aku tersenyum kecut, mengacuhkan pertanyaan Priyo.
Sampeyan mau jadi patung di sini atau mau kondangan? Gudeg itu sudah manggil-manggil aku, Den..." kata Priyo dengan memasang wajah kelaparan.
"Pikiranmu makan terus. Katanya kamu mau menemani aku, tapi di otakmu cuma makanan saja," jawabku agak ketus. Jahatnya Priyono, tak peduli dengan rasaku.
“Habis jarang banget ada gudeg di pesta pernikahan orang Jakarta. Kamu ini kaya ndak tahu aku saja..."
"Ya sudah. Kita berikan ucapan selamat ke pengantin dulu. Setelah itu, kamu boleh makan gudeg sepuasnya."
Priyo yang datang bersamaku mengisyaratkan agar kakiku melangkah lebih cepat. Matanya masih saja melirik barisan prasmanan, gudeg itu seolah punya daya tarik yang luar biasa. Sampailah aku di pelaminan bernuansa emas itu. Tinggal lima langkah lagi mataku dan matanya akan saling bertatap, seperti ketika tangannya masih mau kugenggam erat. Tak bisa dimungkiri, keringat dingin membasahi keningku sejak tiga puluh menit yang lalu, tepatnya sejak aku berdiri mematung menyaksikan pemandangan di hadapanku itu. Di sana harusnya aku yang menjadi pemeran utama.
Sampailah aku di hadapannya. Benar saja, keringatku semakin deras ketika senyum khasnya menyapa kedatanganku. Kujulurkan tangan, seraya mengucapkan selamat dan doa, meski sekadar basa-basi. Kebetulan yang menyakitkan. Di saat yang bersamaan, mengalunlah lagu Kandas. Bertambah hancurlah hatiku, suara vokalis organ itu begitu mendayu, membuka imajinasiku dengannya, Lina.
"Terima kasih sudah menyempatkan hadir di acara pernikahanku, Denis," ucap Lina. Dia tersenyum, membuat penyesalan itu semakin memuncak. Bodohnya aku, melepas wanita yang bukan hanya sederhana, tapi ia juga baik, sabar, dan pengertian hanya karena tergoda kecantikan dunia.
“Aku pun berharap suatu saat kamu akan menemukan seseorang yang kauinginkan, yang bisa melihat kekuranganmu menjadi kelebihan yang tak terlihat dari orang lain," lanjut Lina.
“Aku ikut berbahagia untukmu, Lin," sekali lagi kuulurkan tangan kepadanya. Kuanggap sebagai salam perpisahan.
“Pura-pura bahagia itu menyakitkan ya, Den,” kata Priyo sambil menikmati santapannya, langsung kubalas dengan mata melotot.

#tantanganODOP3
#onedayonepost
#odopbatch6
#fiksi

Kamis, 20 September 2018

Diamlah

"Diamlah! Aku tak mau lagi dengar nama itu," gadis itu membanting buku tebal bersampul hitam.
“Tapi dia bapakmu, Rin. Bagaimana pun dia tetap bapakmu, orang yang telah membesarkan dan mendidikmu. Coba kamu renungkan. Dia menjadi orang tua tunggal sejak ibumu meninggal. Dari pagi sampai sore banting tulang di ladang, tidur malamnya terganggu dengan tangisanmu yang minta dibuatkan susu, sedangkan waktu untuk istirahat saja dia tidak punya," tegas Weni, sahabat Rina.
"Sudahlah, Wen. Itu memang kewajibannya sebagai ayah."
"Kamu tahu kewajiban seorang ayah, tapi kamu sendiri tidak mau tahu tentang kewajibanmu sebagai anak."
Masih dengan motor Honda tuanya, Rina meninggalkan Weni yang masih terheran dengan sikap Rina. Sebagai sahabat, Weni tak pernah lelah mengingatkan Rina yang sikapnya terkadang keterlaluan. Pak Soleh memang bukan ayah yang sempurna, tapi ia rela memberikan nyawanya untuk sang anak. Betapa ruginya Rina karena telah menyia-nyiakan pak Soleh, pikir Weni.
Rina melajukan motornya dengan kecepatan lambat. Maklum, motor keluaran tahun 2000 itu sudah tak kuat berlari kencang. Dari kejauhan tampak punggung seorang lelaki tua, memegang cangkul di ladang milik tetangganya. Ialah pak Soleh, tetap semangat meski terik matahari membakar kulitnya.
"Bapak..." teriak Rina dari kejauhan. Ia segera menghampiri ayahnya setelah memarkirkan motor di tepi ladang.
Pak Soleh menoleh. Senyum tergurat di bibirnya, mengetahui anak kesayangannya datang. “Ada apa? Tumben Rina mau menginjakkan kaki di ladang,” tanya pak Soleh dalam hati. Ia bergegas ke pinggir, mengusap keringat di dahinya.
"Rina... tumben sekali kamu menyusul Bapak ke sini. Ada apa, Nak?" tanya pak Soleh sumringah.
"Aku minta uang. Teman-temanku semua, termasuk Weni, ingin berlibur ke Yogyakarta.”
"Bapak belum punya uang, Nak..."
"Tiap aku minta uang selalu jawabannya seperti itu. Terus kapan Bapak punya uangnya? Bapak kan janji akan memberikan apapun yang aku minta, mana buktinya? Jangankan minta motor baru, minta jalan-jalan saja Bapak tidak bisa mengabulkan."
"Bukan begitu, Nak. Kalau Bapak punya uang..."
"Sudahlah, Pak. Bapak bisanya cuma janji. Aku benci Bapak…" Rina pergi dengan penuh amarah, sedang pak Soleh hanya memandang Rina yang semakin jauh dengan motornya.

#tantanganODOP2
#onedayonepost
#odopbatch6
#fiksi

Rabu, 19 September 2018

Maafkan Bapak

Ketika turun dari motor Honda tuanya, yang terlihat dari wajah Rina adalah kemarahan. Bibirnya terkunci rapat, sedang seragam putih abunya basah dengan keringat. Kakinya dengan cepat melangkah ke dalam rumah berdinding bambu.
Langit sudah menggelap. Seorang lelaki tua meringkuk di atas dipan reot. Ia membukakan mata ketika mendengar suara langkah kaki menyapu tanah.
"Rina, kamu sudah datang. Tadi tanaman di ladang rusak karena serangan hama, jadi Bapak membereskannya dulu. Bapak capek, tadi istirahat sebentar, tapi Bapak malah ketiduran. Maafkan Bapak, Rina..." lelaki tua itu bangun dan menghampiri anak gadisnya. Rina tak menjawab. Ia sama sekali tak peduli dengan tampilan lelah di wajah ayahnya.
"Kamu sudah makan, Nak?" tanya pak Soleh dengan penuh rasa bersalah.
"Kamu mau makan apa? Biar Bapak yang masak. Tapi maaf, Nak, di dapur hanya ada nasi dan tempe. Bapak belum punya uang buat beli bahan makanan yang lainnya.”
Ditatap mata ayahnya dalam-dalam. Bukan senyum ramah, melainkan hardikan yang diterima pak Soleh.
"Memangnya Bapak pernah memberi aku makan yang enak? Tiap hari tahu, tempe, tahu, tempe, paling hebatnya telur ceplok. Itu pun terhitung sebulan sekali. Bapak itu bukan bapak yang baik. Bapak tidak pernah memberikan apa yang aku minta."
Mendengar kata-kata anaknya, tubuh kurus pak Soleh bergetar, meski perlakuan seperti itu bukanlah pertama kali baginya.
“Jangankan makan enak, buat sekolah saja aku harus menahan malu tiap hari. Baju putih yang aku pakai ke sekolah ini baju sejak SMP. Enam tahun, Pak... dan Bapak tidak pernah membelikan baju baru. Rok abu-abu ini saja dapat dikasih tetangga. Terus Bapak bisanya apa?"
"Maafkan Bapak, Nak..." suara miris itu terdengar semakin parau.
"Sekarang Bapak lihat baju aku yang basah ini. Motor butut itu mogok, Pak. Aku harus mendorongnya berkilo-kilo, ditambah Bapak tidak memberikan uang untuk membeli bensin. Semua ini salah Bapak. Bapak tidak bisa memberikan kebahagiaan buat aku. Aku menyesal jadi anak Bapak..."
Tanpa mengindahkan ayahnya yang masih terisak, gadis berambut sepinggang itu membanting gelas seng yang sedari tadi terpajang di meja dekat dipan reot ayahnya. Napas pak Soleh tersengal, kedua tangannya menutup muka, dan kadang mengusap air yang mengalir dari mata.
"Maafkan Bapak, Nak..."

#tantanganODOP2
#onedayonepost
#odopbatch6
#fiksi

Senin, 17 September 2018

Manda dan Kian

"Jangan menangis."
Hanya kalimat sendu itu yang kudengar darinya. Setelah enam bulan tak bertemu, air mataku tak tahan untuk berurai. Rindu pasti, tapi ada hal lain yang membuat mataku panas melihat perbedaan pada dirinya.
Cukup lama kami bergulat dengan diam. Anak angin perlahan mengibaskan helaian rambut yang sedari tadi menutupi mukaku, menyembunyikan mata yang sembab.
"Di tempat ini aku menyatakan cinta. Taman ini juga yang akan memberikan jawaban akan kelanjutan hubungan kita,” katanya. Kulihat kepalanya tertunduk. Namun aku masih tetap dengan diamku.
"Mungkin diammu itu adalah sebuah jawaban. Aku cukup mengerti..."
Kudengar ia menghela napas. Aku pun sudah bosan dengan diamku.
“Dari awal, sekarang, atau sampai kapanpun, aku menerimamu dan tak peduli dengan keadaanmu." Mendengar jawabanku, perlahan ia mengangkat wajahnya. Aku menghampirinya, lalu kupeluk laki-laki berkulit langsat itu.
"Apa kau siap menjalani hubungan dengan orang cacat seperti aku?" Aku tak peduli dengan pertanyaannya. Masih kupeluk ia yang duduk di kursi roda.
“Kianku yang sekarang ngga kalah ganteng dengan Kianku yang dulu ko," jawabku dengan senyum simpul. Awalnya memang sulit, tapi rasa sayangku padanya mengalahkan dari kesulitan apapun.
“Aku takut ayah dan ibumu tak menerimaku,” kata Kian saat kuminta ia bertemu dengan orang tuaku.
“Biarkan ini menjadi roller coaster kehidupan kita. Manda dan Kian tak akan terpisah, seperti janji pertama kita. Dan aku siap menjadi kaki buatmu."
Dua minggu berlalu. Bahagia luar biasa saat kutahu ayah dan ibu sama sekali tidak keberatan dengan keadaan Kian. Ayah dan ibu merestui rencana pernikahanku. Semua persiapan telah dilakukan. Gedung, tenda, catering, undangan, semua sudah siap. Layaknya pasangan pengantin, aku dan Kian menjalani masa pingit. Rindu tak terbendung, akhirnya datanglah hari yang dinanti itu.
Kebaya putih telah melekat di tubuhku. Melati bergelantung di rambutku. Kondenya memang berat, tapi lebih berat rasa rinduku pada Kian. Bahagia luar biasa, dalam hitungan jam aku akan menjadi Nyonya Kian Mandala.
Ponselku berdering. Muncullah nama Kianku dalam layar.
"Hallo... Manda..." kudengar suara dari seberang sana. Suara itu tak asing, tak lain itu suara Mba Risna, kakak Kian.
"Iya, Mba..." jawabku. Jantungku berdegup kencang, sayup-sayup terdengar suara isak mba Risna.
"Kian..." suara mba Risna kembali tertahan.
"Ada apa dengan Kian, Mba? Kian di mana? Akad nikah setengah jam lagi, tapi kenapa Kian belum datang juga?"
Mba Risna tak menjawab. Suara isak itu semakin terdengar jelas.
"Kian sudah tenang, Manda. Ia sudah tidak merasakan sakit lagi."
Tidak. Dengan sekuat tenaga kupastikan ini hanya mimpi. Tapi seketika aku terbangun. Setengah jam perjalanan kutempuh, kulihat wajahnya putih bersih. Ia tidur dan tersenyum, seolah ingin bangkit dan menyapa kedatanganku. Tiba-tiba mba Risna menepuk bahuku dari belakang, mengalihkan pandanganku dari jasad Kian.
“Kakinya lumpuh bukan karena kecelakaan, tapi karena kanker tulang yang menggerogoti tubuhnya. Ia sangat mencintaimu, Manda. Ia tak mau membagi sakit denganmu. Lihatlah. Ia tersenyum saat menyebut namamu dalam napas terakhirnya.”

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Senin, 10 September 2018

Terima Kasih, Bunda...

Pukul 06.00 WIB langit masih berwarna biru. Terasa segerombolan angin membelai mesra dedaunan di samping kamar minimalis itu. Dari sudut kamar berdinding hijau muda terlihat gadis kecil tengah menggeliat, menggerak-gerakkan badannya yang berbalut piyama putih.
Sesekali ia menguap, lalu mengucek matanya yang agak sendu. Nampak sekali suasana libur di hari Minggu. Setelah mematikan alarm di jam bekernya, gadis itu menuruni ranjang tidur secara perlahan. Arah dapur yang ditujunya. Dituangkannya air putih ke dalam gelas bergambar Frozen. Teguk demi teguk air masuk membasahi kerongkongannya.
"Tiara, kamu sudah bangun, Nak?" sapa seorang wanita muda berusia sekira tiga puluhan. Tiara hanya menganggukkan kepalanya.
"Bunda sudah buatkan nasi goreng. Nanti setelah sarapan, kamu mandi terus nonton TV. Acara kartun kesukaan kamu sudah mau mulai, nanti kamu ketinggalan. Oh iya, Bunda juga sudah siapkan buku-buku cerita di meja TV. Semoga hari kamu menyenangkan, sayang..."
Bosan. Satu kata yang terlintas di hati gadis enam tahun itu. Jangankan hari sekolah, hari libur pun Tiara hanya berdiam di rumah. Tidak seperti teman-teman sebayanya yang asyik bermain gundu, lompat tali, ada juga yang berolahraga bulu tangkis, meskipun koknya sering bersarang di jaring net.
Terdengar suara Risma menjerit. Ia mengumpati Andri yang menggantungkan sandalnya di atas pohon. Ada juga Syifa yang duduk manis sambil menggendong boneka beruangnya, sedang teman-temannya yang lain asyik tertawa melihat Dida yang tambun dikejar-kejar Tama yang jangkung. Semua tertawa riang, sementara Tiara hanya dapat memandangnya dari balik jendela.
“Kamu tidak perlu iri dengan mereka." Tiara mengangguk. Nampaknya ia masih betah berdiri di balik tirai merah marun.
“Dulu waktu kecil, Bunda sering membawamu ke taman tetangga kita. Di sana ada banyak tanaman bermacam warna. Kamu pun sangat senang jika Bunda bawa ke sana. Kamu masih ingat, Nak? Mungkin tidak. Usiamu baru satu tahun lebih waktu itu. Berjalan pun kamu belum lancar." Tampak Bunda tersenyum, tapi seperti senyum kepalsuan.
“Sampai datang hari itu. Hari yang merebut riangnya gadis kecil Bunda. Batu sebesar kepalamu menggoda kaki Bunda yang tengah berlari hingga terjatuh. Sampai tubuh mungilmu terlepas saat kobaran api membesar dengan bantuan angin. Setelah itu semuanya gelap. Bunda hanya melihatmu terbaring di rumah sakit. Matamu tertutup, lalu Bunda...” Bunda terisak, tidak sanggup melanjutkan cerita.
Melihat bundanya menangis, Tiara perlahan menghampirinya. Tangannya mengusap air mata sang bunda seolah ingin menguatkan. Jari-jarinya yang masih saling menempel terasa halus di pipi bunda. Wajahnya yang masih belum rata terlihat ayu di mata bunda.
"Telima… katih…, Bunda..."
Tangis bunda semakin menjadi. Ia baru saja mendengar kalimat pertama anaknya setelah sekian tahun. Ia yakin putrinya akan kembali, meski harus menjalani operasi beberapa kali.

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Rabu, 27 September 2017

BAHAGIA UNTUK IZZA



Memiliki wajah yang rupawan tak selamanya bisa menjamin kebahagiaan bagi seorang wanita. Bagi sebagian wanita, kecantikan fisik memang menjadi faktor utama yang menjadikannya bahagia, tapi tidak bagi seorang gadis berkulit putih keturunan Tionghoa, Izza. Memiliki rambut panjang hitam yang selalu tergerai, mata sipit, hidung mancung, dan serba-serbi kelebihan lainnya tidak menjadikan hari-harinya penuh warna cerah. Sebaliknya, penuh awan mendung yang selalu menyelimuti hati kecilnya.
“Izza, ini ada opor buat kamu. Dimakan, ya...” bu Tati memberikan bungkusan hitam dari tangannnya.
“Wah.. Bu Tati emang kokiku yang paling mengerti,” jawab Izza sambil mengulum senyum di bibir tipisnya.
Sejak kecil, Izza sering dititipkan ke bu Tati kalau mamanya sedang bekerja. Karena pekerjaan mamanya yang tidak memungkinkan membawa Izza yang masih kecil, bu Tatilah yang menjadi pengasuhnya. Tak aneh jika sampai sekarang bu Tati kadang masih memperlakukan Izza seperti anak-anak, maklum ia sendiri tidak mempunyai anak sejak dua puluh tahun menikah.
“Mamamu belum pulang?”
“Belum, Bu. Bu Tati seperti tidak tahu pekerjaan Mama saja. Pasti jam segini belum pulang, kan?”
“Ibu juga tidak habis pikir sama mama kamu. Kenapa dia tidak berhentis aja dari pekerjaannya itu? Kan masih banyak pekerjaan lain. Maaf, Izza... Bukannya Ibu lancang mau ikut campur urusan keluarga kamu, tapi Ibu kasihan melihat kamu seperti ini. Bagaimanapun juga kamu kan juga masih butuh perhatian dari Mamamu.”
“Izza juga berpikir seperti itu, Bu. Tapi Izza tidak bisa berbuat apa-apa.”
“Terusmau sampai kapan kamu sendiri seperti ini?:
“Maksud Bu Tati apa?”
“Kamu cari pacar lah,supaya ada yang menemani kalau mama kamu sedang tidak di rumah.”
“Apaan sih Bu Tati ini? Izza kan malu...”
“Ibu kan juga pernah muda, Za...”
Dua anak manusia itu bersenda gurau, tak terasa hari hampir berganti. Seperti biasa, bu Tati menemani Izza sampai mamanya pulang, seperti hari itu.
Anak kupu-kupu malam, julukan yang acapkali mendarat di telinga Izza. Geram, kesal, marah, kecewa, memang sering dirasakan Izza, tapi ia merasa tak berdaya dengan keadaan. Hal itulah yang membuatnya tak sebahagia gadis-gadis lain.
“Ma, mau sampai kapan Mama seperti ini? Izza sudah bukan anak kecil lagi, bukan anak yang belum mengerti waktu diledek teman-teman. Izza malu, Ma...”
“Eh, Izza... Kalau Mama tidak kerja, kita tidak akan bisa makan dan kamu tidak akan bisa sekolah sampai sekarang.”
“Tapi kan masih banyak pekerjaan yang lain, Ma...”
“Pekerjaan apa? Di kota sebesar ini tidak ada jaminan buat kebahagiaan kita kalau hanya mengandalkan kejujuran. Lagipula kamu ini, seperti orang baru saja. Semenjak papa kamu menghianati Mama dan meninggalkan kita, bagi Mama tidak ada keadilan di dunia ini. Jadi buat apa Mama menjadi orang yang baik, sedangkan orang lain bisa jahat sama kita?”
Begitu bencinya mama pada papa Izza, laki-laki yang membuat gadis manis itu tak pernah mengenal sosok ayah. Ia pergi bersama wanita lain ketika Izza masih berumur tiga bulan, dan mulai saat itulah mamanya menjadi wanita malam. Ia dididik menjadi gadis yang tak boleh percaya dengan laki-laki, karena menurut mamanya semua laki-laki itu sama.
“Izza, foto siapa ini?” tanya mama Izza sembari menunjukkan selembar foto yang ia temukan dari buku pelajaran anak semata wayangnya itu, yang tak lain adalah foto Taufan.
“Sudah berapa kali Mama bilang, kamu jangan pernah berhubungan sama yang namanya laki-laki. Yang ada kamu cuma akan sakit hati.”
“Itu cuma foto kakak kelas yang Izza suka, Ma.Dia laki-laki yang baik dan tidak seperti yang Mama katakan.”
“Tahu apa kamu tentang laki-laki? Mama jauh lebih pahamdari semua pengalaman pahit yang Mama alami.”
“Mama, tolong... Tidak semua orang itu sama dengan yang Mama pikirkan. Di dunia ini memang banyak orang jahat, tapi tetap ada laki-laki baik dan tulus. Pengalaman setiap orang itu tidak sama, Ma... Kenapa sih Mama harus berpikir seperti itu? Apa Mama tidak mau Izza bahagia?”
“Mama sayang sama kamu, makanya Mama bersikap seperti ini. Mama tidak mau kamu merasakan apa yang Mama alami. Sakit, Za... sakit...” mama Izza mengelus dadanya, terlihat setitik embun yang akan menetes dari pelupuk matanya.
“Sampai kapan pun Mama tidak akan pernah mengizinkan kamu pacaran,” lanjut mama.
“Izza tahu Mama sayang sama Izza, tapi sampai kapan Izza akan seperti ini? Izza juga mau seperti teman-teman yang lain. Izza juga berhak bahagia, Ma.”
“Kamu sudah punya Mama dan kebahagiaan itu bisa kita rangkai berdua.”
“Tapi, Ma....”
“Sekali tidak, tetap tidak. Cukup Mama saja yang menanggung semuanya.”
Pelukan hangat mama membuat Izza sedikit lebih tenang. Izza hanya bisa meratapi keadaan. Ingin rasanya ia mengutuk dunia yang dirasanya tidak adil pada kaum lemah, kaum yang teraniaya. Di satu sisi, mama adalah sosok pahlawan dalam hidupnya. Namun, ia pun ingin merasakan seperti yang dicurhatkan teman-teman sekelasnya. Setidaknya, ada hal lain yang bisa menambah semangat belajarnya.
“Aku malu, Bu.”
“Malu kenapa? Mungkin trauma yang menyebabkan mama kamu jadi seperti itu. Dengan pengalamannya yang pahit, mama kamu seolah ingin melampiaskan kekesalannya pada semua laki-laki.” Dengan lemah lembut, Bu Tati mengelus rambut Izza yang kala itu terurai lurus.
“Mama pernah cerita, dia merasa sakit hati dan mau balas dendam. Dengan menjadi wanita malam, mama akan menghancurkan rumah tangga orang lain. Setelah itu, akan ada banyak wanita yang merasakan rasa sakit hati yang pernah mama rasakan.”
“Hidup memang penuh cobaan dan masalah. Bagi sebagian orang, dunia ini memang kejam. Yang penting, bagaimana kita harus menyikapinya. Kamu sabar ya, sayang...”
Keduanya saling tersenyum.
“Apa yang harus Izza lakukan, Bu? Izza bosan mendengar cemoohan teman-teman. Apalagi saat pembagian buku raport kemarin, teman-teman ramai meledek karena waktu itu mama pakai pakaian seksi. Izza tidak suka mama ditertawakan seperti itu, tapi mama tidak mau mendengarkan permintaan Izza. Izza tidak tahu harus dengan cara agar mama mau berubah, Bu.”Bu Tati tak menjawab, namun genggamantangan dan pelukannya sedikit menentramkan perasaan Izza.
Ketika Izza mencoba memberontak, mamanya marah keras, bahkan Izza sampai dilarang untuk ke sekolah. Sudah hampir seminggu ia tak masuk sekolah, hanya menghabiskan waktu dengan sepinya suasana kamar. Bu Tati pun tak dapat berbuat apa-apa, karena kamar Izza dikunci ketika mamanya tak ada di rumah.
“Kasian Izza, May.” Bu Tati mencoba berbicara pada mama Izza ketika dirasanya sikap Maya sudah melewati batas.
“Apa urusan Bu Tati bicara begitu?”
“Saya ingin melihat keadaan Izza.”
“Izza baik-baik saja”
“Sudah berapa hari ini Izza tidak masuk sekolah. Dia butuh bersosialisasi dengan lingkungan luar.”
“Urusan Bu Tati cuma menjaga Izza kalau saya sedang tidak di rumah, tapi bukan mencampuri urusan keluarga kami lebih dalam. Jangan bawa pengaruh buruk buat Izza, Bu. Akhir-akhir ini Izza sering melawan saya, jangan-jangan Bu Tati yang menghasutnya”
“Sebelumnya saya minta maaf, Maya. Tapi apa tidak sebaiknya Izza dibiarkan saja dengan pilihannya sendiri? Menurut saya Izza sudah cukup dewasa untuk menyikapi masalah-masalah dalam hidupnya. Anak seusianya juga ingin pendapatnya didengar.”
“Memangnya saya minta pendapat Ibu? Izza itu anak saya, saya tahu apa yang terbaik buat dia. Bu Tati tidak usah ikut campur karena saya tidak akan pernah mengubah keputusan. Kebahagiaan Izza adalah tanggung jawab saya, apapun akan saya lakukan untuk membuat dia tertawa.”
“Izinkan saya untuk bertemu dengan Izza. Saya hanya ingin melihat keadaannya saja.”
“Sudah saya katakan kalau Izza baik-baik saja dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kalau sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, Bu Tati boleh pergi dari rumah saya sebelum ada masalah-masalah baru lagi.”
“Baik, Maya.Tapi satu hal yang kamu harus ingat. Bukan cuma kamu yang mau dimengerti, tapi anakmu juga.”
Sampai di suatu waktu, di mana semua orang penuh sesak, tak terkecuali mama Izza dan bu Tati, ikut melengkapi suatu acara yang sakral dan khidmat. Terlihat sekelompok ekor burung mengepakkan sayapnya di atas awan, ikut menghadiri acara yang sepertinya tak mau dilewatkan oleh setiap orang.
Dengan membawa sebuah keranjang penuh warna, sekali-sekali bu Tati menyeka air matanya, entah karena rasa haru atau karena sebab lain. Di sampingnya tengah duduk mama Izza. Dengan berlinang air mata, ia terus menatap ke satu titik di depannya. Tanah merah yang masih basah itu membuat semua tamu tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun.
Hari di mana gadis malang itu tak lagi dapat menahan beban yang dititipkan Tuhan kepadanya. Ia menyerah dengan keadaan, menghentikan semua dengan tangannya sendiri. Sungguh malang nasib gadis itu, racun itu telah menghancurkan masa depannya.
“Saya yang harus disalahkan dengan keadaan ini. Saya terlalu meninggikan ego, tapi tidak memikirkan perasaan Izza. Saya menyesal...” wanita setengah baya itu tak kuasa menahan tangis, teringat wajah anak semata wayang yang sangat ia cintai.
“Izza pernah cerita kalau dia sangat menyayangimu, May. Selama ini dia hanya memendam rasa sedihnya karena tidak mau melihat kamu semakin sedih dengan keluhannya. Izza sering melihatmu menangis di kamar, tapi dia tidak berani menanyakannya. Yang saya tahu, setiap hari Izza selalu mengatakan sayang pada mamanya di dalam tulisan diary.”
Mama Izza mendapati diary Izza di dalam laci kamarnya. Ada perasaan haru saat ia membuka diary perlahan. Foto Izza saat masih kecil yang digendong mamanya terpampang di halaman depan diary pink itu. Dengan usaha meneguhkan hati, mama Izza terus membuka isi diary yang semakin menyedot perasaannya itu.
“Ingat masa dulu bersama mama, Izza ingin seperti dulu. Kalau boleh, Izza ingin menjadi anak kecil mama, yang masih bisa merasakan hangatnya peluk dan cium mama. Izza ingin waktu bersama mama, bukan hanya uang, baju, makanan, tas, lipstik, bedak, parfum... Izza tahu mama berjuang menjadi ibu sekaligus ayah, tapi Izza tidak mau mama sampai mengorbankan diri demi Izza.
Izza kesepian, Ma... Izza butuh teman buat berkeluh kesah, sedangkan Mama tidak ada waktu buat Izza, meski hanya sehari penuh... Izza sering menunggu Mama pulang untuk bertukar cerita, tapi mama pulang terlalu larut malam, bahkan sampai dini hari dan Izza sudah tidur. Waktu Izza sarapan pagi mau berangkat sekolah, Mama masih tidur di kamar. Padahal Izza ingin sekali sarapan ditemani Mama dengan canda dan tawa. Tapi semua itu tidak menyurutkan rasa sayang Izza sama Mama, Izza tetap anak Mama yang selalu sayang pada pahlawan wanitaku. Maafkan Izza kalau suatu saat nanti Izza tidak kuat lagi bertahan. Izza sayang... Izza sayang sama Mama....”
“Mama juga sayang sama Izza... Maafkan Mama, Mama menyesal. Mama ingin Izza ada di sini dan Mama janji akan memberikan yang Izza mau. Mama akan berhenti bekerja dalam dunia gelap, Mama akan membuat Izza bangga. Katakan apa yang harus Mama perbuat agar kamu kembali lagi ada di sini? Menjadi anak Mama yang manis, sayang...”
Mata Maya membengkak. Air dari matanya tak berhenti sedetik pun. Mengapa kisah itu harus berakhir dengan penyesalan? Di saat semuanya bisa dikatakan terlambat, di saat tidak ada lagi jalan untuk merubah kekhilafan.

KETIKA R MENDURI HATI



KETIKA R MENDURI HATI
Ini bukan salahmu. Kau hanya mengikuti garis takdir hidupmu saja. Ini bukan salahmu. Kau hanya menuruti permintaan dunia. Ini bukan salahmu. Kau hanya mengiyakan saat Dia mendatangkannya. Ini bukan salahmu. Kau hanya menjalani alur langit dan bumi kita. Ini bukan salahmu. Kau hanya mengalirkan syair tentang kau dan hatinya. Ini bukan salahmu saat mereka memandang surat undangan dalam genggamanku. Ini bukan salahmu saat mereka iba menatap keadaanku. Ini bukan salahmu saat foto di kertas itu adalah fotomu. Ini bukan salahmu saat ada sosok bidadari tersenyum manis beriringan dengan fotomu. Ini tetap bukan salahmu.
Ini salahku. Aku yang pandai menyimpan rasa. Aku yang lihai menyembunyikan suka. Aku yang tak berani mengatakan “ya”. Aku yang takut menumbuhkan cinta. Aku yang mundur secara perlahan.
“Kemarin aku bertemu dengannya,” kata Ane tadi pagi.
“Apa dia mengatakan sesuatu?” tanyaku.
“Dia hanya menitipkan surat undangan itu.”
Kembali kutatap surat yang masih terlipat di telapak tanganku. Warna merah kertas undangan itu tak semerah mataku yang terasa panas. Seperti ada api di dalamnya, semakin lama api itu kian membakar. Tak tahan, kutumpahkan saja semuanya, sedang Ane tak mampu berbuat apa-apa.
Bangku di taman itu menjadi saksi bisu betapa sesaknya rasa ini. Sangat sakit. Tangan mulus Ane perlahan merangkul pundak yang tak sadar kugetarkan. Kurebahkan kepala yang begitu berat. Di pundak Anelah aku memuaskan rasaku. Rasa ingin menjerit, menangis, dan menghilang. Teriakan yang tak terdengar, hanya tersimpan dalam hati.
Inikah jawabannya? Delapan bulan yang lalu ia dan aku bertemu untuk pertama kalinya. Sebatas senyum dan salam yang hadir di antara kami. Kala itu aku tengah menghadiri acara pertunangan Ane. Aku pun larut dalam bahagia yang terpancar dari senyum sahabatku itu. Di jari manisnya sudah terpasang cincin bermata zamrud yang begitu indah.
Entah disengaja ataupun tidak, setelah acara pertunangan selesai, Ane memperkenalkan seorang laki-laki kepadaku. Sosok pendiam, ramah, tapi mampu menarik perhatianku.
“Aku ingin kebahagiaan hari ini bukan hanya buatku, tapi kita rasakan bersama. Dia teman sekantorku, orangnya baik. Aku yakin kalian cocok. Lebih bagus lagi kalau kalian berjodoh,” kata Ane setengah berbisik jahil.
“Regi,” suara lembutnya terdengar saat pertama kali ia menyebutkan nama.
“Nurma,” jawabku.
Januari 2017 pertama kalinya tangan kami berjabat. Senyum simpul pun saling tersungging. Ane benar. Tak butuh waktu lama untuk aku dan Regi saling mengenal. Saling bertukar nomor kontak, menikmati makan malam di pinggir jalan, menghabiskan waktu untuk berbagi cerita, meski sekadar cerita selama satu hari di tempat kerja masing-masing.
Mei 2017 aku kembali bertemu dengan Ane. Maklum, sejak dipindahkan ke kantor utama, Ane memilih pindah rumah agar lebih dekat dengan tempat kerjanya. Keadaan yang memaksa kami tak bisa berjumpa seperti dulu. Masa-masa SMP yang orang bilang adalah masa puber, kami habiskan dengan penuh canda tawa. Berlanjut hingga lulus, kami kompak untuk masuk ke SMA yang sama. Meskipun terlahir dari keluarga kaya, Ane tidak tumbuh menjadi remaja sombong. Selain cantik, ia adalah gadis yang sopan dan sederhana. Tak heran jika Ben tak mau melepaskan Ane. Pertunangan mereka adalah buktinya.
“Bagaimana kabarmu, Nur?”
“Seperti yang kau lihat. Aku baik, Ne.”
“Lalu bagaimana dengan Regi? Cieee....” Ane tertawa kecil.
“Maksudmu apa, Ne?”
“Kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu. Lihat, pipimu memerah. Wah, apa kalian sudah pacaran? Kenapa tidak memberi tahu aku? Jahat kamu, Nur. Aku sudah tidak dianggap sahabat lagi.”
Pipiku memerah? Benarkah? Kulirik Ane. Bibirnya terkatup rapat, agak dimonyongkan sedikit rupanya. Namun, kutahu sahabatku itu bukan orang yang mudah naik darah.
“Sudahlah, Ne. Jangan goda aku terus.”
“Tapi aku juga ingin tahu, Nur. Kalian sudah kenal baik, pasti sudah ada perkembangan ke arah yang lebih serius kan? Pacaran kek, tunangan, atau langsung menikah. Kamu suka Regi, kan?” kujawab pertanyaan Ane dengan anggukan malu-malu. Anggukan kepalaku dibalas dengan senyum ringan dihiasi lesung pipit di pipi Ane.
Kuakui apa yang dikatakan Ane memang benar. Rasa suka itu sudah hadir sejak pertama tanganku berjabat dengannya, Regi. Tapi inilah kelemahanku. Aku tak pandai mengungkapkan perasaan, apalagi rasa suka terhadap seorang laki-laki. Betapa bodohnya aku, rasa yang selama ini kututup rapat ternyata tidak bisa disembunyikan dari detektif Ane. Itulah Ane Zarita Syakilla, sahabat yang penuh dengan pengertian dan perhatian.
“Percayalah, kamu akan jadi orang pertama yang akan tahu.”
“Aku cuma ingin mendengar kabar yang terbaik, tidak seperti waktu hubungan dengan mantan-mantanmu. Aku sayang kamu, Nur. Aku ingin melihat kamu bahagia dan aku yakin Regilah orangnya. Orang yang bisa membuat kamu selalu tersenyum, menghapus air matamu yang cengeng, dan mau disuruh ke toko kue malam-malam kalau kamu mau makan roti selai coklat.”
Kami tertawa. Harapan tulus termanis Ane yang kulihat kala itu dan betapa beruntungnya aku memiliki sahabat sepertinya. Semut pun iri. Meski terkadang terjadi perselisihan, tak pernah ada jarak antara kami. Pernah ia marah, namun hanya bertahan lima menit. Waktu terlama Ane merajuk selama berkawan denganku.
Ane menyarankan aku untuk meminta kejelasan status dari Regi. HP ku berdering, ada satu pesan masuk saat lagu “Ada Cinta” tengah mengalun di sudut kamarku. Suara Acha dan Irwansyah sekejap tak terdengar ketika kulihat pesan itu dikirim dari orang yang memang sedang kutunggu kabarnya, Regi. Perasaan apa ini, Tuhan? Hanya membaca namanya, hatiku berdegup begitu kencang.
Hai, Nurma. Apa kabar? Besok bisa ketemu? Ada yang ingin aku bicarakan. Kita ketemu di Cafe Laria jam 10 pagi ya...
Waktu berjalan lambat. Kulirik jam di kamar, masih menunjukkan pukul 23.45 WIB. Kali ini sulit rasanya memejamkan mata, yang kubayangkan hanya esok tepat pukul 10.00 WIB. Tak boleh terlambat sedetik pun, pikirku.
Nanti dulu, besok adalah hari Senin di mana itu adalah hari keramat yang biasanya penuh dengan segudang tugas di kantor. Benar saja. Tumpukan kertas sudah menggunung. Vas bunga mawar mini yang setiap harinya terparkir manis di atas mejaku hampir tak terlihat karena begitu banyaknya tagihan kerjaan. Oh, Tuhan... bagaimana dengan pukul 10.00 WIB?
Arlojiku seolah mengatakan masih ada waktu. Baiklah, tidak boleh ada yang menghalangiku untuk bertemu dengan Regi. Dengan mata yang menahan kantuk, dengan sisa harapan yang kubangun sendiri, tanganku begitu cekatan melahap selembar, dua lembar, hingga beratus lembar. Mataku berubah menjadi mata elang yang tajam, membidik huruf dan angka yang berderet pada lembaran putih itu. Untunglah, jarak kantorku tak jauh dari Cafe Laria, tempat yang disebut Regi tadi malam.
Dadaku masih tersengal. Kuseka peluh manja yang sesekali menetes di kening dan pipi karena memburu waktu. Kulayangkan pandangan ke sekitar, ternyata Regi belum datang. Masih tersisa lima menit lagi untukku menyiapkan diri sebelum Regi benar-benar datang. Deg... deg... deg... ada sesuatu yang aneh. Setiap aku bertemu dengan Regi, bunga-bunga cinta tumbuh bermekaran dengan cepat. Entahlah, kali ini bukan rasa cinta, tapi ketakutan.
Akhirnya sosok itu datang. Aku menikmati senyumnya yang sudah terkulum dari kejauhan. Ia berjalan, karismanya tak luntur sedikit pun meski terpanggang sinar matahari. Ia semakin dekat, rasa ketakutanku pun semakin menjadi. Kutarik napas dalam, sedalam rasaku yang selama ini masih tersimpan manis.
Setelah menanyakan kabar, kesibukan, dan pertanyaan-pertanyaan yang terasa hanya sebagai pelengkap basa-basi di antara kami, Regi mengatakan bahwa ia akan pergi. Mulai besok ia akan tinggal di Semarang selama tiga bulan. Ia ditugaskan untuk meliput kehidupan rakyat Siwal, Kecamatan Kaliwungu.
“Mungkin ini adalah pertemuan terakhir kita. Tapi setelah aku kembali, kau adalah orang yang pertama kali aku temui. Di pertemuan kita berikutnya, aku ingin mengatakan sesuatu untuk pertama kalinya dalam hidupku. Sampai saat ini aku masih mengumpulkan keberanian untuk mengatakannya. Kuharap kamu mau bersabar untuk mendengarkan apa yang ingin kusampaikan.”
September 2017. Kenangan hari terakhir sebelum Regi pergi kembali bergerak perlahan dalam pikiranku. Kenangan tinggallah kenangan. Hanya dalam hitungan waktu dunia begitu mudah berubah. Janur kuning segar sudah melengkung, ijab lantang sudah terdengar.
Aku masih mencoba berdiri dengan sisa tenaga yang kukumpulkan. Para tamu mulai berdatangan, mengantre hanya sekadar untuk memberikan ucapan selamat atas sebuah kebahagiaan di atas duri hati. Betapa kejamnya mereka, pikirku. Kuingat tanganku masih menggenggam selembar undangan yang masih terlipat rapi. Sejak Ane memberikan benda itu, aku memang sengaja membiarkannya tetap terbungkus. Ikatan pita di atasnya tak membuat hatiku tertarik untuk membukanya sama sekali.
“Nur, kamu tidak apa-apa?” tanya Ane yang sedari tadi menemaniku berdiri mematung. Menyaksikan sebuah acara yang seharusnya sakral dan membahagiakan, tapi tidak bagiku. Aku hanya mengangguk tanpa senyum yang biasa kutunjukkan.
“Apa kamu sudah membaca undangannya?” Aku menggeleng.
“Waktu Regi menitipkan undangan itu padaku, ia berpesan agar kamu membaca semua isinya.”
Awalnya aku tak menghiraukan Ane. Apapun isi di dalamnya sudah tidak ada artinya lagi. Yang ada hanya luka dan air mata. Ada secarik kertas di dalam lipatan undangan itu. Perlahan kubuka, ada tulisan Regi yang telah menari di atasnya.
Meski hanya beberapa bulan, aku merasakan kebahagiaan yang begitu luar biasa. Pertama kali aku mengenal seorang wanita yang tidak cantik rupanya saja, tapi kepribadian dan segala yang ada pada dirinya mampu membuatku menjadi orang setengah gila.
Apa kamu ingat, di bulan Mei aku pernah menjanjikan akan mengatakan sesuatu untuk pertama kalinya dalam hidupku? Aku cinta kamu. Sayang, kalimat itu tidak bisa aku ucapkan secara langsung. Ketika kau baca surat ini, aku harap kau tidak merasakan hal yang sama agar tidak ada yang tersakiti selain aku. Mungkin ini adalah jalan yang harus dilalui olehku dan olehmu.
Tiga minggu yang lalu saat aku kembali dari Semarang, aku menepati janjiku. Aku menemuimu. Tapi aku tidak mau mengganggumu yang sedang berdua dengan seorang laki-laki gagah, tampan, putih, dan necis di depan rumahmu. Pasti dia adalah kekasihmu. Kulihat kalian begitu bahagia, kau tertawa lepas seperti tanpa beban. Saat itu juga aku mundur. Sampai seminggu berikutnya, aku dikenalkan Mama dengan Riani. Katanya, luka di hati hanya bisa diobati dengan hati yang baru. Aku memilih Riani untuk menemani hari-hariku ke depan, meski aku merasa jahat karena masih menyimpan cinta pertama di hati, Nurma.
“Dia adalah sepupuku. Konyol. Sekarang impas, kita sama-sama tersakiti...” kututup kembali undangan berinisial R&R itu dengan segala kenangannya.