#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
Ini bukan salahmu, kau mengikuti garis takdir hidupmu saja. Kau hanya mengiyakan saat Dia mendatangkannya. Ini bukan salahmu, kau hanya menjalani alur langit dan bumi, mengalirkan syair tentang segi tiga. Ini bukan salahmu saat orang memandang surat undangan dalam genggamanku. Ini bukan salahmu saat foto di undangan itu adalah fotomu dan bidadarimu. Ini salahku, pandai menyimpan rasa, takut menumbuhkan cinta, aku pula yang tersiksa.
"Kemarin aku bertemu dengannya," kata Ane tadi pagi.
"Apa dia mengatakan sesuatu?" tanyaku.
“Dia hanya menitipkan surat undangan itu."
Kembali kutatap surat yang masih terlipat di telapak tanganku, warna merah. Seperti ada api di dalamnya mataku, semakin lama api itu kian membakar. Tak tahan, kutumpahkan saja semuanya. Sedang Ane tak mampu berbuat apapun.
Bangku di taman itu menjadi saksi bisu betapa sesaknya rasa ini. Sangat sakit. Tangan mulus Ane perlahan merangkul pundak yang tak sadar kugetarkan. Di pundak Anelah aku memuaskan rasa ingin menjerit, menangis, dan menghilang. Teriakan yang tak terdengar, hanya tersimpan dalam hati.
Sembilan bulan yang lalu ia dan aku bertemu untuk pertama kalinya di acara pertunangan Ane. Setelah acara selesai, Ane memperkenalkan seorang laki-laki. Sosok pendiam, ramah, tapi mampu menarik perhatianku.
“Siapa tahu kalian berjodoh," kata Ane setengah berbisik jahil.
"Regi," suara lembutnya terdengar saat pertama kali ia menyebutkan nama.
“Nurma," jawabku.
Januari 2017 pertama kalinya tangan kami berjabat. Tak butuh waktu lama untuk aku dan Regi saling mengenal. Saling bertukar nomor kontak, menikmati makan malam di pinggir jalan, menghabiskan waktu untuk berbagi cerita.
Mei 2017 aku kembali bertemu dengan Ane. Sejak dipindahkan ke kantor utama, Ane memilih pindah tempat tinggal agar lebih dekat dengan tempat kerjanya.
"Bagaimana kabarmu, Nur?"
"Seperti yang kau lihat."
“Lalu bagaimana dengan Regi? Cieee...." Ane tertawa kecil.
"Maksudmu apa, Ne?"
“Kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu. Lihat, pipimu memerah. Wah, apa kalian sudah pacaran? Kenapa tidak memberi tahu aku? Jahat kamu, Nur. Apa kau sudah tidak menganggapku sahabat?"
Pipiku memerah? Benarkah? Kulirik Ane. Bibirnya terkatup rapat, agak dimonyongkan sedikit rupanya.
“Sudahlah, Ne. Jangan goda aku terus.”
"Tapi aku juga ingin tahu, Nur. Kalian sudah kenal baik, pasti sudah ada perkembangan ke arah yang lebih serius kan? Pacaran kek, tunangan, atau langsung menikah. Kamu suka Regi, kan?" kujawab pertanyaan Ane dengan anggukan malu-malu. Anggukan kepalaku dibalas dengan senyum ringan dihiasi lesung pipit di pipinya.
"Aku sayang kamu, Nur. Aku ingin melihatmu bahagia, dan aku yakin Regilah orangnya. Orang yang selalu bisa membuatmu tersenyum dan tertawa.”
Suasana saat itu sungguh membahagiakan, tak seperti yang sekarang.
"Regi akan menikah. Bukan dengan aku, tapi dengan..." mulutku tertutup, lalu Ane menenangkan.
"Aku pun tak habis pikir, kenapa ceritanya seperti ini. Maafkan aku, Nur...”
"Tidak ada yang bisa disalahkan, Ne. Mungkin Ulfa adalah pilihan Regi. Aku saja yang bodoh, terlalu yakin dengan sikap manisnya. Tanpa aku sadari bahwa ada cinta di antara mereka."
"Tapi Ulfa sahabatmu, dan dia tahu antara kamu dan Regi..." Aku tersenyum, menahan sesak yang menyelimuti hati.
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
Hari ini, langit begitu panas. Angin enggan menyapaku yang tengah dilanda gelisah. Kemeja batik oranye dengan celana Levis hitam tak membuatku yakin saat kakiku melangkah ke sebuah acara pernikahan. Di sana terlihat sepasang pengantin, bahagia sekali kelihatannya. Mempelai wanita sangat cantik, balutan gaun biru toska menambah keanggunannya. Mempelai laki-laki tampan dengan kemeja putih berbalut jas hitam.
“Lihat Lina, dia cantik, bukan?" tanya Priyo sambil menunjuk sang ratu sehari yang sejak tadi tak pernah menutup senyumnya. Aku tersenyum kecut, mengacuhkan pertanyaan Priyo.
“Sampeyan mau jadi patung di sini atau mau kondangan? Gudeg itu sudah manggil-manggil aku, Den..." kata Priyo dengan memasang wajah kelaparan.
"Pikiranmu makan terus. Katanya kamu mau menemani aku, tapi di otakmu cuma makanan saja," jawabku agak ketus. Jahatnya Priyono, tak peduli dengan rasaku.
“Habis jarang banget ada gudeg di pesta pernikahan orang Jakarta. Kamu ini kaya ndak tahu aku saja..."
"Ya sudah. Kita berikan ucapan selamat ke pengantin dulu. Setelah itu, kamu boleh makan gudeg sepuasnya."
Priyo yang datang bersamaku mengisyaratkan agar kakiku melangkah lebih cepat. Matanya masih saja melirik barisan prasmanan, gudeg itu seolah punya daya tarik yang luar biasa. Sampailah aku di pelaminan bernuansa emas itu. Tinggal lima langkah lagi mataku dan matanya akan saling bertatap, seperti ketika tangannya masih mau kugenggam erat. Tak bisa dimungkiri, keringat dingin membasahi keningku sejak tiga puluh menit yang lalu, tepatnya sejak aku berdiri mematung menyaksikan pemandangan di hadapanku itu. Di sana harusnya aku yang menjadi pemeran utama.
Sampailah aku di hadapannya. Benar saja, keringatku semakin deras ketika senyum khasnya menyapa kedatanganku. Kujulurkan tangan, seraya mengucapkan selamat dan doa, meski sekadar basa-basi. Kebetulan yang menyakitkan. Di saat yang bersamaan, mengalunlah lagu Kandas. Bertambah hancurlah hatiku, suara vokalis organ itu begitu mendayu, membuka imajinasiku dengannya, Lina.
"Terima kasih sudah menyempatkan hadir di acara pernikahanku, Denis," ucap Lina. Dia tersenyum, membuat penyesalan itu semakin memuncak. Bodohnya aku, melepas wanita yang bukan hanya sederhana, tapi ia juga baik, sabar, dan pengertian hanya karena tergoda kecantikan dunia.
“Aku pun berharap suatu saat kamu akan menemukan seseorang yang kauinginkan, yang bisa melihat kekuranganmu menjadi kelebihan yang tak terlihat dari orang lain," lanjut Lina.
“Aku ikut berbahagia untukmu, Lin," sekali lagi kuulurkan tangan kepadanya. Kuanggap sebagai salam perpisahan.
“Pura-pura bahagia itu menyakitkan ya, Den,” kata Priyo sambil menikmati santapannya, langsung kubalas dengan mata melotot.
#tantanganODOP3
#onedayonepost
#odopbatch6
#fiksi
"Diamlah! Aku tak mau lagi dengar nama itu," gadis itu membanting buku tebal bersampul hitam.
“Tapi dia bapakmu, Rin. Bagaimana pun dia tetap bapakmu, orang yang telah membesarkan dan mendidikmu. Coba kamu renungkan. Dia menjadi orang tua tunggal sejak ibumu meninggal. Dari pagi sampai sore banting tulang di ladang, tidur malamnya terganggu dengan tangisanmu yang minta dibuatkan susu, sedangkan waktu untuk istirahat saja dia tidak punya," tegas Weni, sahabat Rina.
"Sudahlah, Wen. Itu memang kewajibannya sebagai ayah."
"Kamu tahu kewajiban seorang ayah, tapi kamu sendiri tidak mau tahu tentang kewajibanmu sebagai anak."
Masih dengan motor Honda tuanya, Rina meninggalkan Weni yang masih terheran dengan sikap Rina. Sebagai sahabat, Weni tak pernah lelah mengingatkan Rina yang sikapnya terkadang keterlaluan. Pak Soleh memang bukan ayah yang sempurna, tapi ia rela memberikan nyawanya untuk sang anak. Betapa ruginya Rina karena telah menyia-nyiakan pak Soleh, pikir Weni.
Rina melajukan motornya dengan kecepatan lambat. Maklum, motor keluaran tahun 2000 itu sudah tak kuat berlari kencang. Dari kejauhan tampak punggung seorang lelaki tua, memegang cangkul di ladang milik tetangganya. Ialah pak Soleh, tetap semangat meski terik matahari membakar kulitnya.
"Bapak..." teriak Rina dari kejauhan. Ia segera menghampiri ayahnya setelah memarkirkan motor di tepi ladang.
Pak Soleh menoleh. Senyum tergurat di bibirnya, mengetahui anak kesayangannya datang. “Ada apa? Tumben Rina mau menginjakkan kaki di ladang,” tanya pak Soleh dalam hati. Ia bergegas ke pinggir, mengusap keringat di dahinya.
"Rina... tumben sekali kamu menyusul Bapak ke sini. Ada apa, Nak?" tanya pak Soleh sumringah.
"Aku minta uang. Teman-temanku semua, termasuk Weni, ingin berlibur ke Yogyakarta.”
"Bapak belum punya uang, Nak..."
"Tiap aku minta uang selalu jawabannya seperti itu. Terus kapan Bapak punya uangnya? Bapak kan janji akan memberikan apapun yang aku minta, mana buktinya? Jangankan minta motor baru, minta jalan-jalan saja Bapak tidak bisa mengabulkan."
"Bukan begitu, Nak. Kalau Bapak punya uang..."
"Sudahlah, Pak. Bapak bisanya cuma janji. Aku benci Bapak…" Rina pergi dengan penuh amarah, sedang pak Soleh hanya memandang Rina yang semakin jauh dengan motornya.
#tantanganODOP2
#onedayonepost
#odopbatch6
#fiksi
Ketika turun dari motor Honda tuanya, yang terlihat dari wajah Rina adalah kemarahan. Bibirnya terkunci rapat, sedang seragam putih abunya basah dengan keringat. Kakinya dengan cepat melangkah ke dalam rumah berdinding bambu.
Langit sudah menggelap. Seorang lelaki tua meringkuk di atas dipan reot. Ia membukakan mata ketika mendengar suara langkah kaki menyapu tanah.
"Rina, kamu sudah datang. Tadi tanaman di ladang rusak karena serangan hama, jadi Bapak membereskannya dulu. Bapak capek, tadi istirahat sebentar, tapi Bapak malah ketiduran. Maafkan Bapak, Rina..." lelaki tua itu bangun dan menghampiri anak gadisnya. Rina tak menjawab. Ia sama sekali tak peduli dengan tampilan lelah di wajah ayahnya.
"Kamu sudah makan, Nak?" tanya pak Soleh dengan penuh rasa bersalah.
"Kamu mau makan apa? Biar Bapak yang masak. Tapi maaf, Nak, di dapur hanya ada nasi dan tempe. Bapak belum punya uang buat beli bahan makanan yang lainnya.”
Ditatap mata ayahnya dalam-dalam. Bukan senyum ramah, melainkan hardikan yang diterima pak Soleh.
"Memangnya Bapak pernah memberi aku makan yang enak? Tiap hari tahu, tempe, tahu, tempe, paling hebatnya telur ceplok. Itu pun terhitung sebulan sekali. Bapak itu bukan bapak yang baik. Bapak tidak pernah memberikan apa yang aku minta."
Mendengar kata-kata anaknya, tubuh kurus pak Soleh bergetar, meski perlakuan seperti itu bukanlah pertama kali baginya.
“Jangankan makan enak, buat sekolah saja aku harus menahan malu tiap hari. Baju putih yang aku pakai ke sekolah ini baju sejak SMP. Enam tahun, Pak... dan Bapak tidak pernah membelikan baju baru. Rok abu-abu ini saja dapat dikasih tetangga. Terus Bapak bisanya apa?"
"Maafkan Bapak, Nak..." suara miris itu terdengar semakin parau.
"Sekarang Bapak lihat baju aku yang basah ini. Motor butut itu mogok, Pak. Aku harus mendorongnya berkilo-kilo, ditambah Bapak tidak memberikan uang untuk membeli bensin. Semua ini salah Bapak. Bapak tidak bisa memberikan kebahagiaan buat aku. Aku menyesal jadi anak Bapak..."
Tanpa mengindahkan ayahnya yang masih terisak, gadis berambut sepinggang itu membanting gelas seng yang sedari tadi terpajang di meja dekat dipan reot ayahnya. Napas pak Soleh tersengal, kedua tangannya menutup muka, dan kadang mengusap air yang mengalir dari mata.
"Maafkan Bapak, Nak..."
#tantanganODOP2
#onedayonepost
#odopbatch6
#fiksi
"Jangan menangis."
Hanya kalimat sendu itu yang kudengar darinya. Setelah enam bulan tak bertemu, air mataku tak tahan untuk berurai. Rindu pasti, tapi ada hal lain yang membuat mataku panas melihat perbedaan pada dirinya.
Cukup lama kami bergulat dengan diam. Anak angin perlahan mengibaskan helaian rambut yang sedari tadi menutupi mukaku, menyembunyikan mata yang sembab.
"Di tempat ini aku menyatakan cinta. Taman ini juga yang akan memberikan jawaban akan kelanjutan hubungan kita,” katanya. Kulihat kepalanya tertunduk. Namun aku masih tetap dengan diamku.
"Mungkin diammu itu adalah sebuah jawaban. Aku cukup mengerti..."
Kudengar ia menghela napas. Aku pun sudah bosan dengan diamku.
“Dari awal, sekarang, atau sampai kapanpun, aku menerimamu dan tak peduli dengan keadaanmu." Mendengar jawabanku, perlahan ia mengangkat wajahnya. Aku menghampirinya, lalu kupeluk laki-laki berkulit langsat itu.
"Apa kau siap menjalani hubungan dengan orang cacat seperti aku?" Aku tak peduli dengan pertanyaannya. Masih kupeluk ia yang duduk di kursi roda.
“Kianku yang sekarang ngga kalah ganteng dengan Kianku yang dulu ko," jawabku dengan senyum simpul. Awalnya memang sulit, tapi rasa sayangku padanya mengalahkan dari kesulitan apapun.
“Aku takut ayah dan ibumu tak menerimaku,” kata Kian saat kuminta ia bertemu dengan orang tuaku.
“Biarkan ini menjadi roller coaster kehidupan kita. Manda dan Kian tak akan terpisah, seperti janji pertama kita. Dan aku siap menjadi kaki buatmu."
Dua minggu berlalu. Bahagia luar biasa saat kutahu ayah dan ibu sama sekali tidak keberatan dengan keadaan Kian. Ayah dan ibu merestui rencana pernikahanku. Semua persiapan telah dilakukan. Gedung, tenda, catering, undangan, semua sudah siap. Layaknya pasangan pengantin, aku dan Kian menjalani masa pingit. Rindu tak terbendung, akhirnya datanglah hari yang dinanti itu.
Kebaya putih telah melekat di tubuhku. Melati bergelantung di rambutku. Kondenya memang berat, tapi lebih berat rasa rinduku pada Kian. Bahagia luar biasa, dalam hitungan jam aku akan menjadi Nyonya Kian Mandala.
Ponselku berdering. Muncullah nama Kianku dalam layar.
"Hallo... Manda..." kudengar suara dari seberang sana. Suara itu tak asing, tak lain itu suara Mba Risna, kakak Kian.
"Iya, Mba..." jawabku. Jantungku berdegup kencang, sayup-sayup terdengar suara isak mba Risna.
"Kian..." suara mba Risna kembali tertahan.
"Ada apa dengan Kian, Mba? Kian di mana? Akad nikah setengah jam lagi, tapi kenapa Kian belum datang juga?"
Mba Risna tak menjawab. Suara isak itu semakin terdengar jelas.
"Kian sudah tenang, Manda. Ia sudah tidak merasakan sakit lagi."
Tidak. Dengan sekuat tenaga kupastikan ini hanya mimpi. Tapi seketika aku terbangun. Setengah jam perjalanan kutempuh, kulihat wajahnya putih bersih. Ia tidur dan tersenyum, seolah ingin bangkit dan menyapa kedatanganku. Tiba-tiba mba Risna menepuk bahuku dari belakang, mengalihkan pandanganku dari jasad Kian.
“Kakinya lumpuh bukan karena kecelakaan, tapi karena kanker tulang yang menggerogoti tubuhnya. Ia sangat mencintaimu, Manda. Ia tak mau membagi sakit denganmu. Lihatlah. Ia tersenyum saat menyebut namamu dalam napas terakhirnya.”
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
Pukul 06.00 WIB langit masih berwarna biru. Terasa segerombolan angin membelai mesra dedaunan di samping kamar minimalis itu. Dari sudut kamar berdinding hijau muda terlihat gadis kecil tengah menggeliat, menggerak-gerakkan badannya yang berbalut piyama putih.
Sesekali ia menguap, lalu mengucek matanya yang agak sendu. Nampak sekali suasana libur di hari Minggu. Setelah mematikan alarm di jam bekernya, gadis itu menuruni ranjang tidur secara perlahan. Arah dapur yang ditujunya. Dituangkannya air putih ke dalam gelas bergambar Frozen. Teguk demi teguk air masuk membasahi kerongkongannya.
"Tiara, kamu sudah bangun, Nak?" sapa seorang wanita muda berusia sekira tiga puluhan. Tiara hanya menganggukkan kepalanya.
"Bunda sudah buatkan nasi goreng. Nanti setelah sarapan, kamu mandi terus nonton TV. Acara kartun kesukaan kamu sudah mau mulai, nanti kamu ketinggalan. Oh iya, Bunda juga sudah siapkan buku-buku cerita di meja TV. Semoga hari kamu menyenangkan, sayang..."
Bosan. Satu kata yang terlintas di hati gadis enam tahun itu. Jangankan hari sekolah, hari libur pun Tiara hanya berdiam di rumah. Tidak seperti teman-teman sebayanya yang asyik bermain gundu, lompat tali, ada juga yang berolahraga bulu tangkis, meskipun koknya sering bersarang di jaring net.
Terdengar suara Risma menjerit. Ia mengumpati Andri yang menggantungkan sandalnya di atas pohon. Ada juga Syifa yang duduk manis sambil menggendong boneka beruangnya, sedang teman-temannya yang lain asyik tertawa melihat Dida yang tambun dikejar-kejar Tama yang jangkung. Semua tertawa riang, sementara Tiara hanya dapat memandangnya dari balik jendela.
“Kamu tidak perlu iri dengan mereka." Tiara mengangguk. Nampaknya ia masih betah berdiri di balik tirai merah marun.
“Dulu waktu kecil, Bunda sering membawamu ke taman tetangga kita. Di sana ada banyak tanaman bermacam warna. Kamu pun sangat senang jika Bunda bawa ke sana. Kamu masih ingat, Nak? Mungkin tidak. Usiamu baru satu tahun lebih waktu itu. Berjalan pun kamu belum lancar." Tampak Bunda tersenyum, tapi seperti senyum kepalsuan.
“Sampai datang hari itu. Hari yang merebut riangnya gadis kecil Bunda. Batu sebesar kepalamu menggoda kaki Bunda yang tengah berlari hingga terjatuh. Sampai tubuh mungilmu terlepas saat kobaran api membesar dengan bantuan angin. Setelah itu semuanya gelap. Bunda hanya melihatmu terbaring di rumah sakit. Matamu tertutup, lalu Bunda...” Bunda terisak, tidak sanggup melanjutkan cerita.
Melihat bundanya menangis, Tiara perlahan menghampirinya. Tangannya mengusap air mata sang bunda seolah ingin menguatkan. Jari-jarinya yang masih saling menempel terasa halus di pipi bunda. Wajahnya yang masih belum rata terlihat ayu di mata bunda.
"Telima… katih…, Bunda..."
Tangis bunda semakin menjadi. Ia baru saja mendengar kalimat pertama anaknya setelah sekian tahun. Ia yakin putrinya akan kembali, meski harus menjalani operasi beberapa kali.
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6