“Keterlaluan bapakmu itu! Anak
sudah besar, biaya hidup makin bertambah, bapakmu kerjanya cuma keluyuran. Boro-boro
cari kerjaan, malah nambah beban. Awas saja kalau dia pulang tidak membawa
apa-apa, akan ada sapu yang melayang,” celoteh ibu sambil mengacungkan sapu
rombeng ke arah pintu.
Seperti biasanya, malam ini
terjadi keributan di gubuk tua kami. Kekacauan itu sudah menjadi menu makan
malam keluarga, aku yang masih duduk di kelas satu SD pun mulai terbiasa.
“Aku masuk kamar dulu ya, Bu. Ada
PR yang belum dikerjakan,” kataku sambil membuka pintu kamar.
“Belajar yang benar, jangan
seperti bapakmu,” jawab ibu dengan nada kesal.
Tak berapa lama, bapak datang.
Pintu reot terbuka, menampakkan wajah tanpa berdosa bapak. Seperti harimau
bertemu babi hutan, tanpa menunggu basa-basi omelan ibu langsung meluncur. Di
ruang tamu beralaskan tanah, tak ada jawaban kasar sedikit pun yang keluar dari
mulut bapak. Itu yang kudengar dari kamar.
“Bapak dari mana saja? Berangkat
dari pagi sampai petang, tapi pulang tidak membawa uang sepeser pun. Mau makan
apa kita, Pak? Beras sudah habis, belum lagi biaya sekolah Yani. Bapak coba
cari kerjaan, biar kehidupan kita tidak sengsara seperti sekarang ini. Aku capek
hati, Pak… dari awal menikah sampai sudah punya buntut masih saja hidup serba
kekurangan.”
“Marleni, istriku, seharian ini Bapak
cari kerja. Tapi mungkin belum rezeki kita…” jawab bapak.
“Tiap hari alasannya cari kerja,
tapi mana hasilnya? Jangan-jangan benar apa yang dibilang tetangga, Bapak
sering nongkrong di warung pojok mbak Ratih. Ngaku, Pak…”
“Kamu jangan percaya omongan orang lain. Bisa jadi mereka iri sama kita.”
“Terus wanita itu siapa?” suara
ibu terdengar semakin meninggi.
“Wanita yang mana?” tanya bapak
tetap dengan suara lembut.
“Wanita yang katanya suka nongkrong sama Bapak itu,” jawab ibu
ketus.
“Masih katanya kan? Sudahlah,
Mar. Percayalah, suamimu ini laki-laki yang setia dan bertanggung jawab.”
Tutur lembut bapak membuat ibu
sedikit tenang, aku pun akhirnya bisa tidur lelap setelah PR selesai
dikerjakan. Keesokan paginya, aku dibonceng ibu ke sekolah. Dengan mengayuh
sepeda, kami menyusuri pematang sawah yang terhampar luas.
Aku baru ingat, botol minum yang
ibu siapkan belum dimasukkan ke dalam tas. Karena sudah di tengah jalan, ibu
memutuskan untuk membeli air mineral di warung. Sampailah kami di sebuah warung
yang tak jauh dari pertigaan jalan. Aku yang menunggu di bawah pohon kaget
mendengar jerit dan tangisan ibu. Di sana sudah ada bapak, ibu, mbak Ratih si
penjaga warung, dan seorang wanita. Aku mengenalnya, Bi Marlina, adik kandung
ibu. Rupanya itulah alasan bapak sering pergi pagi, pulang malam, dan malas
mencari uang. Kulihat air mata ibu yang terus mengalir, lalu kuarahkan pandangan pada bapak. Tangannya masih menggandeng tangan bi Marlina, sedangkan bi Marlina sendiri terlihat malu dan berusaha menyembunyikan bibir merahnya.
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
2 komentar:
Bukan kisah nyata kan ya? Akhirnya bisa buka blognya 😊
Bkn mba. Rekaan aja. Alhamdulillah klo udh bisa dibuka... trm ksh sdh berkunjung...
Posting Komentar