Minggu, 30 September 2018

MAR


“Keterlaluan bapakmu itu! Anak sudah besar, biaya hidup makin bertambah, bapakmu kerjanya cuma keluyuran. Boro-boro cari kerjaan, malah nambah beban. Awas saja kalau dia pulang tidak membawa apa-apa, akan ada sapu yang melayang,” celoteh ibu sambil mengacungkan sapu rombeng ke arah pintu.
Seperti biasanya, malam ini terjadi keributan di gubuk tua kami. Kekacauan itu sudah menjadi menu makan malam keluarga, aku yang masih duduk di kelas satu SD pun mulai terbiasa.
“Aku masuk kamar dulu ya, Bu. Ada PR yang belum dikerjakan,” kataku sambil membuka pintu kamar.
“Belajar yang benar, jangan seperti bapakmu,” jawab ibu dengan nada kesal.
Tak berapa lama, bapak datang. Pintu reot terbuka, menampakkan wajah tanpa berdosa bapak. Seperti harimau bertemu babi hutan, tanpa menunggu basa-basi omelan ibu langsung meluncur. Di ruang tamu beralaskan tanah, tak ada jawaban kasar sedikit pun yang keluar dari mulut bapak. Itu yang kudengar dari kamar.
“Bapak dari mana saja? Berangkat dari pagi sampai petang, tapi pulang tidak membawa uang sepeser pun. Mau makan apa kita, Pak? Beras sudah habis, belum lagi biaya sekolah Yani. Bapak coba cari kerjaan, biar kehidupan kita tidak sengsara seperti sekarang ini. Aku capek hati, Pak… dari awal menikah sampai sudah punya buntut masih saja hidup serba kekurangan.”
“Marleni, istriku, seharian ini Bapak cari kerja. Tapi mungkin belum rezeki kita…” jawab bapak.
“Tiap hari alasannya cari kerja, tapi mana hasilnya? Jangan-jangan benar apa yang dibilang tetangga, Bapak sering nongkrong di  warung pojok mbak Ratih. Ngaku, Pak…”
“Kamu jangan percaya omongan orang lain. Bisa jadi mereka iri sama kita.”
“Terus wanita itu siapa?” suara ibu terdengar semakin meninggi.
“Wanita yang mana?” tanya bapak tetap dengan suara lembut.
“Wanita yang katanya suka nongkrong sama Bapak itu,” jawab ibu ketus.
“Masih katanya kan? Sudahlah, Mar. Percayalah, suamimu ini laki-laki yang setia dan bertanggung jawab.”
Tutur lembut bapak membuat ibu sedikit tenang, aku pun akhirnya bisa tidur lelap setelah PR selesai dikerjakan. Keesokan paginya, aku dibonceng ibu ke sekolah. Dengan mengayuh sepeda, kami menyusuri pematang sawah yang terhampar luas.
Aku baru ingat, botol minum yang ibu siapkan belum dimasukkan ke dalam tas. Karena sudah di tengah jalan, ibu memutuskan untuk membeli air mineral di warung. Sampailah kami di sebuah warung yang tak jauh dari pertigaan jalan. Aku yang menunggu di bawah pohon kaget mendengar jerit dan tangisan ibu. Di sana sudah ada bapak, ibu, mbak Ratih si penjaga warung, dan seorang wanita. Aku mengenalnya, Bi Marlina, adik kandung ibu. Rupanya itulah alasan bapak sering pergi pagi, pulang malam, dan malas mencari uang. Kulihat air mata ibu yang terus mengalir, lalu kuarahkan pandangan pada bapak. Tangannya masih menggandeng tangan bi Marlina, sedangkan bi Marlina sendiri terlihat malu dan berusaha menyembunyikan bibir merahnya.

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

2 komentar:

Evita FL mengatakan...

Bukan kisah nyata kan ya? Akhirnya bisa buka blognya 😊

Unknown mengatakan...

Bkn mba. Rekaan aja. Alhamdulillah klo udh bisa dibuka... trm ksh sdh berkunjung...