Ketika turun dari motor Honda tuanya, yang terlihat dari wajah Rina adalah kemarahan. Bibirnya terkunci rapat, sedang seragam putih abunya basah dengan keringat. Kakinya dengan cepat melangkah ke dalam rumah berdinding bambu.
Langit sudah menggelap. Seorang lelaki tua meringkuk di atas dipan reot. Ia membukakan mata ketika mendengar suara langkah kaki menyapu tanah.
"Rina, kamu sudah datang. Tadi tanaman di ladang rusak karena serangan hama, jadi Bapak membereskannya dulu. Bapak capek, tadi istirahat sebentar, tapi Bapak malah ketiduran. Maafkan Bapak, Rina..." lelaki tua itu bangun dan menghampiri anak gadisnya. Rina tak menjawab. Ia sama sekali tak peduli dengan tampilan lelah di wajah ayahnya.
"Kamu sudah makan, Nak?" tanya pak Soleh dengan penuh rasa bersalah.
"Kamu mau makan apa? Biar Bapak yang masak. Tapi maaf, Nak, di dapur hanya ada nasi dan tempe. Bapak belum punya uang buat beli bahan makanan yang lainnya.”
Ditatap mata ayahnya dalam-dalam. Bukan senyum ramah, melainkan hardikan yang diterima pak Soleh.
"Memangnya Bapak pernah memberi aku makan yang enak? Tiap hari tahu, tempe, tahu, tempe, paling hebatnya telur ceplok. Itu pun terhitung sebulan sekali. Bapak itu bukan bapak yang baik. Bapak tidak pernah memberikan apa yang aku minta."
Mendengar kata-kata anaknya, tubuh kurus pak Soleh bergetar, meski perlakuan seperti itu bukanlah pertama kali baginya.
“Jangankan makan enak, buat sekolah saja aku harus menahan malu tiap hari. Baju putih yang aku pakai ke sekolah ini baju sejak SMP. Enam tahun, Pak... dan Bapak tidak pernah membelikan baju baru. Rok abu-abu ini saja dapat dikasih tetangga. Terus Bapak bisanya apa?"
"Maafkan Bapak, Nak..." suara miris itu terdengar semakin parau.
"Sekarang Bapak lihat baju aku yang basah ini. Motor butut itu mogok, Pak. Aku harus mendorongnya berkilo-kilo, ditambah Bapak tidak memberikan uang untuk membeli bensin. Semua ini salah Bapak. Bapak tidak bisa memberikan kebahagiaan buat aku. Aku menyesal jadi anak Bapak..."
Tanpa mengindahkan ayahnya yang masih terisak, gadis berambut sepinggang itu membanting gelas seng yang sedari tadi terpajang di meja dekat dipan reot ayahnya. Napas pak Soleh tersengal, kedua tangannya menutup muka, dan kadang mengusap air yang mengalir dari mata.
"Maafkan Bapak, Nak..."
#tantanganODOP2
#onedayonepost
#odopbatch6
#fiksi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar