Senin, 17 September 2018

Manda dan Kian

"Jangan menangis."
Hanya kalimat sendu itu yang kudengar darinya. Setelah enam bulan tak bertemu, air mataku tak tahan untuk berurai. Rindu pasti, tapi ada hal lain yang membuat mataku panas melihat perbedaan pada dirinya.
Cukup lama kami bergulat dengan diam. Anak angin perlahan mengibaskan helaian rambut yang sedari tadi menutupi mukaku, menyembunyikan mata yang sembab.
"Di tempat ini aku menyatakan cinta. Taman ini juga yang akan memberikan jawaban akan kelanjutan hubungan kita,” katanya. Kulihat kepalanya tertunduk. Namun aku masih tetap dengan diamku.
"Mungkin diammu itu adalah sebuah jawaban. Aku cukup mengerti..."
Kudengar ia menghela napas. Aku pun sudah bosan dengan diamku.
“Dari awal, sekarang, atau sampai kapanpun, aku menerimamu dan tak peduli dengan keadaanmu." Mendengar jawabanku, perlahan ia mengangkat wajahnya. Aku menghampirinya, lalu kupeluk laki-laki berkulit langsat itu.
"Apa kau siap menjalani hubungan dengan orang cacat seperti aku?" Aku tak peduli dengan pertanyaannya. Masih kupeluk ia yang duduk di kursi roda.
“Kianku yang sekarang ngga kalah ganteng dengan Kianku yang dulu ko," jawabku dengan senyum simpul. Awalnya memang sulit, tapi rasa sayangku padanya mengalahkan dari kesulitan apapun.
“Aku takut ayah dan ibumu tak menerimaku,” kata Kian saat kuminta ia bertemu dengan orang tuaku.
“Biarkan ini menjadi roller coaster kehidupan kita. Manda dan Kian tak akan terpisah, seperti janji pertama kita. Dan aku siap menjadi kaki buatmu."
Dua minggu berlalu. Bahagia luar biasa saat kutahu ayah dan ibu sama sekali tidak keberatan dengan keadaan Kian. Ayah dan ibu merestui rencana pernikahanku. Semua persiapan telah dilakukan. Gedung, tenda, catering, undangan, semua sudah siap. Layaknya pasangan pengantin, aku dan Kian menjalani masa pingit. Rindu tak terbendung, akhirnya datanglah hari yang dinanti itu.
Kebaya putih telah melekat di tubuhku. Melati bergelantung di rambutku. Kondenya memang berat, tapi lebih berat rasa rinduku pada Kian. Bahagia luar biasa, dalam hitungan jam aku akan menjadi Nyonya Kian Mandala.
Ponselku berdering. Muncullah nama Kianku dalam layar.
"Hallo... Manda..." kudengar suara dari seberang sana. Suara itu tak asing, tak lain itu suara Mba Risna, kakak Kian.
"Iya, Mba..." jawabku. Jantungku berdegup kencang, sayup-sayup terdengar suara isak mba Risna.
"Kian..." suara mba Risna kembali tertahan.
"Ada apa dengan Kian, Mba? Kian di mana? Akad nikah setengah jam lagi, tapi kenapa Kian belum datang juga?"
Mba Risna tak menjawab. Suara isak itu semakin terdengar jelas.
"Kian sudah tenang, Manda. Ia sudah tidak merasakan sakit lagi."
Tidak. Dengan sekuat tenaga kupastikan ini hanya mimpi. Tapi seketika aku terbangun. Setengah jam perjalanan kutempuh, kulihat wajahnya putih bersih. Ia tidur dan tersenyum, seolah ingin bangkit dan menyapa kedatanganku. Tiba-tiba mba Risna menepuk bahuku dari belakang, mengalihkan pandanganku dari jasad Kian.
“Kakinya lumpuh bukan karena kecelakaan, tapi karena kanker tulang yang menggerogoti tubuhnya. Ia sangat mencintaimu, Manda. Ia tak mau membagi sakit denganmu. Lihatlah. Ia tersenyum saat menyebut namamu dalam napas terakhirnya.”

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Tidak ada komentar: