Rabu, 12 September 2018

Gara-gara Kapital

Ini  adalah pengalaman seseorang yang berprofesi sebagai pengajar di salah satu SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) negeri di Indramayu. Sekolah di daerah yang mewah alias mepet sawah. Ketika mengajar di tahun ketiga, sang guru mendapatkan pelajaran yang luar biasa. Salah satu murid perempuannya ternyata tidak bisa menuliskan huruf kecil. Hal tersebut ia temukan pada saat latihan materi teks eksposisi.
Semua siswa di kelas itu ditugaskan untuk membuat teks eksposisi. Seluruh tugas siswa dikumpulkan, lalu dikoreksi. Ada satu buku yang mencuri perhatian sang guru. Buku atas nama siswi berinisial A. Dalam buku latihan tersebut semua huruf ditulis dengan menggunakan huruf kapital. Kala itu sang guru hanya diam. Mungkin itu karena ketidaksengajaan, pikirnya.
Pada pertemuan berikutnya, di kelas tersebut diadakan latihan kembali. Sang guru mulai penasaran. Dua kali ia menemukan kasus yang sama pada satu anak. Sampai pada latihan berikutnya, masih ditemukan hal yang sama. Dipanggillah siswi berinisial A tersebut.
“Beberapa kali Ibu menemukan tulisan di bukumu, semuanya menggunakan huruf kapital. Kenapa?" tanya sang guru.
"Saya tidak terbiasa, Bu," jawab si A.
"Kamu tahu tidak perbedaan penggunaan huruf kapital dengan huruf kecil?"
"Tahu, Bu."
“Huruf kapital digunakan untuk apa saja?"
"Untuk awal kalimat, sapaan, nama daerah, nama agama, dll."
“Coba kamu tuliskan satu kalimat, tapi dengan penulisan yang benar!"
Siswi berinisial A menuliskan sebuah kalimat. Ternyata hasilnya benar. Rasa penasaran sang guru pun semakin memuncak.
“Kamu paham dengan teorinya. Lalu kenapa kamu gunakan huruf kapital dalam semua tulisanmu?"
“Saya tidak terbiasa, Bu. Kalau saya menulis huruf kecil dan huruf kapital, saya butuh waktu lama. Nanti saya tertinggal oleh teman-teman yang lain."
“Baik. Untuk latihan ke depan, Ibu ingin kamu menulis sesuai dengan aturan penulisan. Kalau butuh waktu lama, Ibu tunggu sampai kamu selesai."
"Iya, Bu," jawab si A dengan semangat.
Seperti yang telah disepakati, sang guru dengan sabar menunggu satu tulisan yang belum dikumpulkan di mejanya. Meski teman-temannya sudah ribut, siswi berinisial A tetap melanjutkan tugasnya. Bahkan terkadang, ia mengerjakan tugas di dekat meja guru. Ketika mengalami kebingungan, ia langsung tanyakan. Kejadian seperti itu berlangsung selama satu semester.
Akhir yang menyenangkan. Pada semester berikutnya, siswi berinisial A tak lagi menghiasi seluruh bukunya dengan huruf sejenis. Kini ia sudah membiasakan diri menulis huruf sesuai fungsinya dalam waktu yang lebih cepat.

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Tidak ada komentar: