Ini bukan senyummu. Ini senyum kepalsuan yang kaumanipulasi menjadi senyum kebahagiaan. Dia memanjakanmu, menghadirkan segudang madu untukmu, menghayalkan surga hidupmu. Namun, dia pula yang menghancurkan kebahagiaan itu. Semua hanyalah semu.
Kau sempat berpikir akan hidup bersamanya. Lelaki beragama dengan penuh kesederhanaan, menjanjikan sebuah ikatan perkawinan. Kau mencintainya, ia pun mencintaimu. Semua berjalan dengan indah tanpa rintangan yang kau artikan.
Apakah kau membenci ayahnya? Entahlah. Ingin rasanya kautukar ayahnya dengan ayah yang lain agar kau tetap bisa bersama lelakimu. Kau menganggap ayahnya adalah seorang ayah yang tidak bertanggung jawab. Melepas kewajiban terhadap anak-anaknya, sehingga mengharuskan si dia melepasmu, demi harus menghidupi ibu dan adik-adiknya.
Dia mengkhawatirkanmu. Jika kalian tetap bersama, ia takut tak bisa membahagiakanmu. Karena ia harus membagi waktu, kasih, sayang, bahkan uang. Sesungguhnya kau tak merasa keberatan. Tapi sayangnya mulutmu terkunci. Tak ada satu pun kata yang terucap saat ia berkata menyerah. Ketika itulah kau merasa menjadi manusia paling bodoh. Kau pandai berkelakar dengan yang lain, tapi tidak kali ini. Jangankan menolak keputusannya, menatap matanya saja kau tak berusaha bisa.
Kau sadar bahwa sebenrnya kalian masih bisa hidup bersama. Namun, egomu yang membuat jarak itu semakin melebar. Dinding perpisahan semakin mengeras, seiring kerasnya hatimu dan hatinya yang tetap bertahan dengan keinginan masing-masing.
Lalu kau merasa ini sungguh berat. Kau ingin menangis. Tapi entah kenapa hari ini kau tak cengeng seperti biasanya. Air matamu membeku, mungkin karena kau ingin terlihat kuat. Tapi sayang seribu sayang. Kau bukanlah orang berhati baja. Kecewa? Iya. Sakit? Pasti. Tapi kau pun tak bisa berbuat apa-apa.
Kaupikir itu tidak adil buatmu. Harusnya bukan kau yang menjadi korban dalam keadaan ini. Sekali lagi bukan kau. Hari ini kau merasa terpuruk. Membayangkan bagaimana perasaan ayah ibumu, mendengarkan hubunganmu dengannya yang tak bisa berlanjut. Pertanyaannya, bisakah kau membuang semua kenangan indah dengannya? Mampukah kau menghapus mimpi-mimpi manis yang akan kau bangun bersamanya? Akankah ada pengganti yang seperti dia?
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
Tidak ada komentar:
Posting Komentar