Minggu, 30 September 2018
MAR
Sabtu, 29 September 2018
Aku Malu pada-Mu
Jumat, 28 September 2018
Ketika R Menduri Hati
Ini bukan salahmu, kau mengikuti garis takdir hidupmu saja. Kau hanya mengiyakan saat Dia mendatangkannya. Ini bukan salahmu, kau hanya menjalani alur langit dan bumi, mengalirkan syair tentang segi tiga. Ini bukan salahmu saat orang memandang surat undangan dalam genggamanku. Ini bukan salahmu saat foto di undangan itu adalah fotomu dan bidadarimu. Ini salahku, pandai menyimpan rasa, takut menumbuhkan cinta, aku pula yang tersiksa.
"Kemarin aku bertemu dengannya," kata Ane tadi pagi.
"Apa dia mengatakan sesuatu?" tanyaku.
“Dia hanya menitipkan surat undangan itu."
Kembali kutatap surat yang masih terlipat di telapak tanganku, warna merah. Seperti ada api di dalamnya mataku, semakin lama api itu kian membakar. Tak tahan, kutumpahkan saja semuanya. Sedang Ane tak mampu berbuat apapun.
Bangku di taman itu menjadi saksi bisu betapa sesaknya rasa ini. Sangat sakit. Tangan mulus Ane perlahan merangkul pundak yang tak sadar kugetarkan. Di pundak Anelah aku memuaskan rasa ingin menjerit, menangis, dan menghilang. Teriakan yang tak terdengar, hanya tersimpan dalam hati.
Sembilan bulan yang lalu ia dan aku bertemu untuk pertama kalinya di acara pertunangan Ane. Setelah acara selesai, Ane memperkenalkan seorang laki-laki. Sosok pendiam, ramah, tapi mampu menarik perhatianku.
“Siapa tahu kalian berjodoh," kata Ane setengah berbisik jahil.
"Regi," suara lembutnya terdengar saat pertama kali ia menyebutkan nama.
“Nurma," jawabku.
Januari 2017 pertama kalinya tangan kami berjabat. Tak butuh waktu lama untuk aku dan Regi saling mengenal. Saling bertukar nomor kontak, menikmati makan malam di pinggir jalan, menghabiskan waktu untuk berbagi cerita.
Mei 2017 aku kembali bertemu dengan Ane. Sejak dipindahkan ke kantor utama, Ane memilih pindah tempat tinggal agar lebih dekat dengan tempat kerjanya.
"Bagaimana kabarmu, Nur?"
"Seperti yang kau lihat."
“Lalu bagaimana dengan Regi? Cieee...." Ane tertawa kecil.
"Maksudmu apa, Ne?"
“Kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu. Lihat, pipimu memerah. Wah, apa kalian sudah pacaran? Kenapa tidak memberi tahu aku? Jahat kamu, Nur. Apa kau sudah tidak menganggapku sahabat?"
Pipiku memerah? Benarkah? Kulirik Ane. Bibirnya terkatup rapat, agak dimonyongkan sedikit rupanya.
“Sudahlah, Ne. Jangan goda aku terus.”
"Tapi aku juga ingin tahu, Nur. Kalian sudah kenal baik, pasti sudah ada perkembangan ke arah yang lebih serius kan? Pacaran kek, tunangan, atau langsung menikah. Kamu suka Regi, kan?" kujawab pertanyaan Ane dengan anggukan malu-malu. Anggukan kepalaku dibalas dengan senyum ringan dihiasi lesung pipit di pipinya.
"Aku sayang kamu, Nur. Aku ingin melihatmu bahagia, dan aku yakin Regilah orangnya. Orang yang selalu bisa membuatmu tersenyum dan tertawa.”
Suasana saat itu sungguh membahagiakan, tak seperti yang sekarang.
"Regi akan menikah. Bukan dengan aku, tapi dengan..." mulutku tertutup, lalu Ane menenangkan.
"Aku pun tak habis pikir, kenapa ceritanya seperti ini. Maafkan aku, Nur...”
"Tidak ada yang bisa disalahkan, Ne. Mungkin Ulfa adalah pilihan Regi. Aku saja yang bodoh, terlalu yakin dengan sikap manisnya. Tanpa aku sadari bahwa ada cinta di antara mereka."
"Tapi Ulfa sahabatmu, dan dia tahu antara kamu dan Regi..." Aku tersenyum, menahan sesak yang menyelimuti hati.
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
Kamis, 27 September 2018
Masih tentang Rindu
Jika kau merindu
Jangan cari aku di dermaga
Karena aku tak lagi di sana
Jika kau ingin bertemu
Datanglah ke rumah
Tentu kau masih ingat jalannya
Beginilah arti merindu
Rinduku juga rindumu
Sayangnya tak mungkin bersatu
Beginikah rasa merindu
Yang tak bertemu di muara satu
Tapi tetap saja merindu
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
Rabu, 26 September 2018
Pengalaman Hidup
Setiap orang pasti punya kenangan dalam hidupnya, baik kenangan manis, pahit, ataupun konyol. Begitu pun aku. Dari masa kanak-kanak hingga berusia kepala dua, tak sedikit kejadian yang bisa dijadikan pengalaman hidup. Teringat pada masa kanak-kanak. Saat aku duduk di bangku kelas empat SD, ayah dan ibuku memutuskan untuk berpisah. Bukan hanya pisah rumah, tapi juga pisah dalam status pernikahan. Waktu itu aku tak memahami alasannya kenapa, karena setahuku tak pernah ada keributan antara ayah dan ibu. Yang aku ingat pada malam itu ayah memeluk dan menciumku sambil menangis. Dengan lirih ia berkata, "Kamu ikut Ayah ya, Nak...." Saat itulah aku mengerti bahwa akan ada jarak di antara kami. Dalam hati aku bertanya, kenapa bukan kakakku saja yang harus memilih?
Ayah selalu mendatangiku di sekolah setiap pagi. Ia memberiku uang, tanpa ketinggalan ciuman hangat di kening dan pipi. Sama sekali aku tidak menyukai keadaan ini. Setiap ayah pergi, aku langsung berlari ke kelas dan menangis. Teman-temanku pun heran, menanyakan apa yang terjadi. Tapi alhamdulillah, beberapa bulan berikutnya orang tuaku rujuk kembali.
Masih di masa Sekolah Dasar. Waktu itu musim hujan, jalan dari sekolah ke rumahku banjir. Saat pulang sekolah, aku kebelet pipis. Kupikir hanya satu kilometer, pasti bisa kutahan sampai rumah. Dengan santai aku dan teman-teman berjalan kaki menyusuri jalan yang sudah digenangi air karena diguyur hujan sejak pagi. Sampai di tengah perjalanan, hujan kembali turun. Jiwa anak-anak kami muncul dan mengajak untuk bermain air hujan. Alhasil, baju kami basah dari atas sampai bawah.
Dari tadi menahan pipis, ditambah kena air hujan yang menambah dingin, tak kuatlah aku. Tanpa sepengetahuan teman-teman, akhirnya mengalirlah air dari bendungan yang bongkah. Mereka tidak mungkin curiga, karena air itu mengalir bersamaan dengan derasnya air hujan yang membasahi seragam cokelatku. Ah, malu rasanya jika kuceritakan. Pengalaman konyolku ini tidak pernah aku ceritakan kepada siapa pun sebelumnya. Sesampainya di rumah, ibu heran. "Kenapa bajumu basah kuyup?" tanyanya. Kujawab sambil tersenyum geli, "Kehujanan."
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
Selasa, 25 September 2018
Pembawa Seplastik Apel dan Jeruk
Bagaimana jika aku merindu
Sosok pembawa seplastik apel dan jeruk
Turun dari motor vario hitam
Mampir saat pulang dari kota karawang
Di malam itu
Ia berikan buah tangannya untuk ibuku
Diterima dengan senyum sedikit kaku
Karena ia adalah orang baru
Bagaimana jika aku merindu
Sosok pembawa seplastik apel dan jeruk
Dan sepertinya aku merindu
Lagi
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
Senin, 24 September 2018
Pura-Pura Bahagia Itu Menyakitkan
Hari ini, langit begitu panas. Angin enggan menyapaku yang tengah dilanda gelisah. Kemeja batik oranye dengan celana Levis hitam tak membuatku yakin saat kakiku melangkah ke sebuah acara pernikahan. Di sana terlihat sepasang pengantin, bahagia sekali kelihatannya. Mempelai wanita sangat cantik, balutan gaun biru toska menambah keanggunannya. Mempelai laki-laki tampan dengan kemeja putih berbalut jas hitam.
“Lihat Lina, dia cantik, bukan?" tanya Priyo sambil menunjuk sang ratu sehari yang sejak tadi tak pernah menutup senyumnya. Aku tersenyum kecut, mengacuhkan pertanyaan Priyo.
“Sampeyan mau jadi patung di sini atau mau kondangan? Gudeg itu sudah manggil-manggil aku, Den..." kata Priyo dengan memasang wajah kelaparan.
"Pikiranmu makan terus. Katanya kamu mau menemani aku, tapi di otakmu cuma makanan saja," jawabku agak ketus. Jahatnya Priyono, tak peduli dengan rasaku.
“Habis jarang banget ada gudeg di pesta pernikahan orang Jakarta. Kamu ini kaya ndak tahu aku saja..."
"Ya sudah. Kita berikan ucapan selamat ke pengantin dulu. Setelah itu, kamu boleh makan gudeg sepuasnya."
Priyo yang datang bersamaku mengisyaratkan agar kakiku melangkah lebih cepat. Matanya masih saja melirik barisan prasmanan, gudeg itu seolah punya daya tarik yang luar biasa. Sampailah aku di pelaminan bernuansa emas itu. Tinggal lima langkah lagi mataku dan matanya akan saling bertatap, seperti ketika tangannya masih mau kugenggam erat. Tak bisa dimungkiri, keringat dingin membasahi keningku sejak tiga puluh menit yang lalu, tepatnya sejak aku berdiri mematung menyaksikan pemandangan di hadapanku itu. Di sana harusnya aku yang menjadi pemeran utama.
Sampailah aku di hadapannya. Benar saja, keringatku semakin deras ketika senyum khasnya menyapa kedatanganku. Kujulurkan tangan, seraya mengucapkan selamat dan doa, meski sekadar basa-basi. Kebetulan yang menyakitkan. Di saat yang bersamaan, mengalunlah lagu Kandas. Bertambah hancurlah hatiku, suara vokalis organ itu begitu mendayu, membuka imajinasiku dengannya, Lina.
"Terima kasih sudah menyempatkan hadir di acara pernikahanku, Denis," ucap Lina. Dia tersenyum, membuat penyesalan itu semakin memuncak. Bodohnya aku, melepas wanita yang bukan hanya sederhana, tapi ia juga baik, sabar, dan pengertian hanya karena tergoda kecantikan dunia.
“Aku pun berharap suatu saat kamu akan menemukan seseorang yang kauinginkan, yang bisa melihat kekuranganmu menjadi kelebihan yang tak terlihat dari orang lain," lanjut Lina.
“Aku ikut berbahagia untukmu, Lin," sekali lagi kuulurkan tangan kepadanya. Kuanggap sebagai salam perpisahan.
“Pura-pura bahagia itu menyakitkan ya, Den,” kata Priyo sambil menikmati santapannya, langsung kubalas dengan mata melotot.
#tantanganODOP3
#onedayonepost
#odopbatch6
#fiksi
Minggu, 23 September 2018
Si Bungsu
Jika nafasku tak kuat lagi memanjang
Jika waktuku enggan tuk terus berjalan
Bawakanku taburan bunga, taruh di atas tanah merah
Berdendanglah dalam alunan doa
Ayah.. Bunda...
Jika Ia memanggilku lebih cepat darimu
Biarkan raga kita tersentuh
Sebelum jiwa berhenti bersatu
Aku tak ingin diiriingi dengan air mata
Senyumlah untuk ketenanganku
Bukan aku tak mau merancang dunia
Hanya usia yang tak memihakku
Kirimi aku malaikat penerang
Agar di sana senyum selalu mengembang
Jangan buang kenanganku dulu
Aku masih bungsumu
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
Sabtu, 22 September 2018
Pelantikan Pramuka Penegak Bantara SMK Negeri 1 Anjatan
Jumat, 14 September 2018 telah dilaksanakan pelantikan Pramuka Penegak Bantara di SMK Negeri 1 Anjatan, Indramayu, Jawa Barat. Kegiatan tersebut berlangsung selama dua hari. Berbeda dengan ekstrakurikuler yang lainnya, Pramuka (Praja Muda Karana) merupakan ekstrakurikuler yang wajib diikuti oleh seluruh peserta didik. Hal tersebut sesuai dengan kurikulum 2013 yang diterapkan di sekolah.
Kegiatan pelantikan penegak bantara Sunan Kali Jaga - Nyimas Gandasari Gudep 25.133 - 25.134 diikuti oleh siswa kelas XI SMK Negeri 1 Anjatan, yang terdiri atas jurusan Multimedia, Farmasi, dan Teknik Sepeda Motor, sedangkan siswa jurusan Broadcasting dan Akomodasi Perhotelan sedang mengikuti Praktik Kerja Industri (Prakerin).
Untuk mendapatkan gelar Bantara, para peserta harus mengikuti serangkaian kegiatan. Dimulai dari upacara pembukaan, seluruh peserta harus datang tepat waktu. Upacara pembukaan pelantikan dipimpin langsung oleh Haris Nugraha, S.Pd, selaku koordinator ekstrakurikuler SMK Negeri 1 Anjatan. Sementara itu, Kamabigus (kepala sekolah) sedang mempunyai kegiatan lain sehingga tidak bisa menghadiri upacara pelantikan.
Seluruh peserta pelantikan diwajibkan untuk mengisi Syarat-syarat Kecakapan Umum (SKU). Selain itu, mereka juga diharuskan membawa tugas dan peralatan yang dibutuhkan, baik tugas pribadi maupun tugas sangga. Setelah masing-masing sangga mendirikan tenda di bumi perkemahan SMK Negeri 1 Anjatan, acara api unggun pun dimulai. Kegiatan di hari pertama ditutup dengan kreasi seni. Setiap sangga harus menampilkan kreativitas mereka, seperti menyanyi, drama, baca puisi, dsb.
Tepat pukul 02.00 WIB, Sabtu, 15 September 2018, peserta pelantikan dibangunkan. Mata mereka ditutup dan harus berjalan mengikuti arah tepukan dewan. Di lapangan mereka dikumpulkan, diberikan pembinaan dan renungan. Sampai pada acara puncak, yaitu hiking. Hiking kali ini bukan mendaki gunung, tetapi berjalan dari sekolah menuju pantai Kepuh dengan jarak 8-9 kilometer.
Peserta berjalan persangga menuju lima pos yang disediakan. Di setiap pos ada tantangan dan tugas yang harus diselesaikan, mulai dari pioneering, sandi morse, semaphore, halang rintang, dan pengetahuan kepramukaan. Di sinilah kekompakan dan kerja sama mereka diuji karena aka nada penilaian dari masing-masing pos.
Setelah semuanya menyelesaikan tugas di lima pos, acara terakhir adalah pelantikan dan penyematan balok bantara. Upacara pelantikan dilaksanakan di laut, mengharuskan seluruh peserta berdiri tegak dengan menahan ombak yang datang. Setelah mengucapkan Tri Satya, seluruh peserta resmi dilantik menjadi Penegak Bantara oleh pembina Pramuka SMK Negeri Anjatan.
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
Jumat, 21 September 2018
Kusapa di Kala Rindu
Melepasmu adalah sebuah keharusan
Karena rindu sudah tak lagi di hatimu
Mencintaimulah yang harus kuhentikan
Karena hatimu sudah tak lagi untukku
Mendambamu tak kan lagi kubiasakan
Karena melepas akan menguatkanku
Memikirkanmulah yang harus kuhapuskan
Karena cinta sudah tak terjaga buatku
Adakah di sana kau sembunyikan
Sisa hati untuk kusapa di kala rindu
Juga dengan apa aku mintakan
Tuk satukan lagi kau dan aku
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
Kamis, 20 September 2018
Diamlah
"Diamlah! Aku tak mau lagi dengar nama itu," gadis itu membanting buku tebal bersampul hitam.
“Tapi dia bapakmu, Rin. Bagaimana pun dia tetap bapakmu, orang yang telah membesarkan dan mendidikmu. Coba kamu renungkan. Dia menjadi orang tua tunggal sejak ibumu meninggal. Dari pagi sampai sore banting tulang di ladang, tidur malamnya terganggu dengan tangisanmu yang minta dibuatkan susu, sedangkan waktu untuk istirahat saja dia tidak punya," tegas Weni, sahabat Rina.
"Sudahlah, Wen. Itu memang kewajibannya sebagai ayah."
"Kamu tahu kewajiban seorang ayah, tapi kamu sendiri tidak mau tahu tentang kewajibanmu sebagai anak."
Masih dengan motor Honda tuanya, Rina meninggalkan Weni yang masih terheran dengan sikap Rina. Sebagai sahabat, Weni tak pernah lelah mengingatkan Rina yang sikapnya terkadang keterlaluan. Pak Soleh memang bukan ayah yang sempurna, tapi ia rela memberikan nyawanya untuk sang anak. Betapa ruginya Rina karena telah menyia-nyiakan pak Soleh, pikir Weni.
Rina melajukan motornya dengan kecepatan lambat. Maklum, motor keluaran tahun 2000 itu sudah tak kuat berlari kencang. Dari kejauhan tampak punggung seorang lelaki tua, memegang cangkul di ladang milik tetangganya. Ialah pak Soleh, tetap semangat meski terik matahari membakar kulitnya.
"Bapak..." teriak Rina dari kejauhan. Ia segera menghampiri ayahnya setelah memarkirkan motor di tepi ladang.
Pak Soleh menoleh. Senyum tergurat di bibirnya, mengetahui anak kesayangannya datang. “Ada apa? Tumben Rina mau menginjakkan kaki di ladang,” tanya pak Soleh dalam hati. Ia bergegas ke pinggir, mengusap keringat di dahinya.
"Rina... tumben sekali kamu menyusul Bapak ke sini. Ada apa, Nak?" tanya pak Soleh sumringah.
"Aku minta uang. Teman-temanku semua, termasuk Weni, ingin berlibur ke Yogyakarta.”
"Bapak belum punya uang, Nak..."
"Tiap aku minta uang selalu jawabannya seperti itu. Terus kapan Bapak punya uangnya? Bapak kan janji akan memberikan apapun yang aku minta, mana buktinya? Jangankan minta motor baru, minta jalan-jalan saja Bapak tidak bisa mengabulkan."
"Bukan begitu, Nak. Kalau Bapak punya uang..."
"Sudahlah, Pak. Bapak bisanya cuma janji. Aku benci Bapak…" Rina pergi dengan penuh amarah, sedang pak Soleh hanya memandang Rina yang semakin jauh dengan motornya.
#tantanganODOP2
#onedayonepost
#odopbatch6
#fiksi
Rabu, 19 September 2018
Maafkan Bapak
Ketika turun dari motor Honda tuanya, yang terlihat dari wajah Rina adalah kemarahan. Bibirnya terkunci rapat, sedang seragam putih abunya basah dengan keringat. Kakinya dengan cepat melangkah ke dalam rumah berdinding bambu.
Langit sudah menggelap. Seorang lelaki tua meringkuk di atas dipan reot. Ia membukakan mata ketika mendengar suara langkah kaki menyapu tanah.
"Rina, kamu sudah datang. Tadi tanaman di ladang rusak karena serangan hama, jadi Bapak membereskannya dulu. Bapak capek, tadi istirahat sebentar, tapi Bapak malah ketiduran. Maafkan Bapak, Rina..." lelaki tua itu bangun dan menghampiri anak gadisnya. Rina tak menjawab. Ia sama sekali tak peduli dengan tampilan lelah di wajah ayahnya.
"Kamu sudah makan, Nak?" tanya pak Soleh dengan penuh rasa bersalah.
"Kamu mau makan apa? Biar Bapak yang masak. Tapi maaf, Nak, di dapur hanya ada nasi dan tempe. Bapak belum punya uang buat beli bahan makanan yang lainnya.”
Ditatap mata ayahnya dalam-dalam. Bukan senyum ramah, melainkan hardikan yang diterima pak Soleh.
"Memangnya Bapak pernah memberi aku makan yang enak? Tiap hari tahu, tempe, tahu, tempe, paling hebatnya telur ceplok. Itu pun terhitung sebulan sekali. Bapak itu bukan bapak yang baik. Bapak tidak pernah memberikan apa yang aku minta."
Mendengar kata-kata anaknya, tubuh kurus pak Soleh bergetar, meski perlakuan seperti itu bukanlah pertama kali baginya.
“Jangankan makan enak, buat sekolah saja aku harus menahan malu tiap hari. Baju putih yang aku pakai ke sekolah ini baju sejak SMP. Enam tahun, Pak... dan Bapak tidak pernah membelikan baju baru. Rok abu-abu ini saja dapat dikasih tetangga. Terus Bapak bisanya apa?"
"Maafkan Bapak, Nak..." suara miris itu terdengar semakin parau.
"Sekarang Bapak lihat baju aku yang basah ini. Motor butut itu mogok, Pak. Aku harus mendorongnya berkilo-kilo, ditambah Bapak tidak memberikan uang untuk membeli bensin. Semua ini salah Bapak. Bapak tidak bisa memberikan kebahagiaan buat aku. Aku menyesal jadi anak Bapak..."
Tanpa mengindahkan ayahnya yang masih terisak, gadis berambut sepinggang itu membanting gelas seng yang sedari tadi terpajang di meja dekat dipan reot ayahnya. Napas pak Soleh tersengal, kedua tangannya menutup muka, dan kadang mengusap air yang mengalir dari mata.
"Maafkan Bapak, Nak..."
#tantanganODOP2
#onedayonepost
#odopbatch6
#fiksi
Selasa, 18 September 2018
Ini Bukan Senyummu
Ini bukan senyummu. Ini senyum kepalsuan yang kaumanipulasi menjadi senyum kebahagiaan. Dia memanjakanmu, menghadirkan segudang madu untukmu, menghayalkan surga hidupmu. Namun, dia pula yang menghancurkan kebahagiaan itu. Semua hanyalah semu.
Kau sempat berpikir akan hidup bersamanya. Lelaki beragama dengan penuh kesederhanaan, menjanjikan sebuah ikatan perkawinan. Kau mencintainya, ia pun mencintaimu. Semua berjalan dengan indah tanpa rintangan yang kau artikan.
Apakah kau membenci ayahnya? Entahlah. Ingin rasanya kautukar ayahnya dengan ayah yang lain agar kau tetap bisa bersama lelakimu. Kau menganggap ayahnya adalah seorang ayah yang tidak bertanggung jawab. Melepas kewajiban terhadap anak-anaknya, sehingga mengharuskan si dia melepasmu, demi harus menghidupi ibu dan adik-adiknya.
Dia mengkhawatirkanmu. Jika kalian tetap bersama, ia takut tak bisa membahagiakanmu. Karena ia harus membagi waktu, kasih, sayang, bahkan uang. Sesungguhnya kau tak merasa keberatan. Tapi sayangnya mulutmu terkunci. Tak ada satu pun kata yang terucap saat ia berkata menyerah. Ketika itulah kau merasa menjadi manusia paling bodoh. Kau pandai berkelakar dengan yang lain, tapi tidak kali ini. Jangankan menolak keputusannya, menatap matanya saja kau tak berusaha bisa.
Kau sadar bahwa sebenrnya kalian masih bisa hidup bersama. Namun, egomu yang membuat jarak itu semakin melebar. Dinding perpisahan semakin mengeras, seiring kerasnya hatimu dan hatinya yang tetap bertahan dengan keinginan masing-masing.
Lalu kau merasa ini sungguh berat. Kau ingin menangis. Tapi entah kenapa hari ini kau tak cengeng seperti biasanya. Air matamu membeku, mungkin karena kau ingin terlihat kuat. Tapi sayang seribu sayang. Kau bukanlah orang berhati baja. Kecewa? Iya. Sakit? Pasti. Tapi kau pun tak bisa berbuat apa-apa.
Kaupikir itu tidak adil buatmu. Harusnya bukan kau yang menjadi korban dalam keadaan ini. Sekali lagi bukan kau. Hari ini kau merasa terpuruk. Membayangkan bagaimana perasaan ayah ibumu, mendengarkan hubunganmu dengannya yang tak bisa berlanjut. Pertanyaannya, bisakah kau membuang semua kenangan indah dengannya? Mampukah kau menghapus mimpi-mimpi manis yang akan kau bangun bersamanya? Akankah ada pengganti yang seperti dia?
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
Senin, 17 September 2018
Manda dan Kian
"Jangan menangis."
Hanya kalimat sendu itu yang kudengar darinya. Setelah enam bulan tak bertemu, air mataku tak tahan untuk berurai. Rindu pasti, tapi ada hal lain yang membuat mataku panas melihat perbedaan pada dirinya.
Cukup lama kami bergulat dengan diam. Anak angin perlahan mengibaskan helaian rambut yang sedari tadi menutupi mukaku, menyembunyikan mata yang sembab.
"Di tempat ini aku menyatakan cinta. Taman ini juga yang akan memberikan jawaban akan kelanjutan hubungan kita,” katanya. Kulihat kepalanya tertunduk. Namun aku masih tetap dengan diamku.
"Mungkin diammu itu adalah sebuah jawaban. Aku cukup mengerti..."
Kudengar ia menghela napas. Aku pun sudah bosan dengan diamku.
“Dari awal, sekarang, atau sampai kapanpun, aku menerimamu dan tak peduli dengan keadaanmu." Mendengar jawabanku, perlahan ia mengangkat wajahnya. Aku menghampirinya, lalu kupeluk laki-laki berkulit langsat itu.
"Apa kau siap menjalani hubungan dengan orang cacat seperti aku?" Aku tak peduli dengan pertanyaannya. Masih kupeluk ia yang duduk di kursi roda.
“Kianku yang sekarang ngga kalah ganteng dengan Kianku yang dulu ko," jawabku dengan senyum simpul. Awalnya memang sulit, tapi rasa sayangku padanya mengalahkan dari kesulitan apapun.
“Aku takut ayah dan ibumu tak menerimaku,” kata Kian saat kuminta ia bertemu dengan orang tuaku.
“Biarkan ini menjadi roller coaster kehidupan kita. Manda dan Kian tak akan terpisah, seperti janji pertama kita. Dan aku siap menjadi kaki buatmu."
Dua minggu berlalu. Bahagia luar biasa saat kutahu ayah dan ibu sama sekali tidak keberatan dengan keadaan Kian. Ayah dan ibu merestui rencana pernikahanku. Semua persiapan telah dilakukan. Gedung, tenda, catering, undangan, semua sudah siap. Layaknya pasangan pengantin, aku dan Kian menjalani masa pingit. Rindu tak terbendung, akhirnya datanglah hari yang dinanti itu.
Kebaya putih telah melekat di tubuhku. Melati bergelantung di rambutku. Kondenya memang berat, tapi lebih berat rasa rinduku pada Kian. Bahagia luar biasa, dalam hitungan jam aku akan menjadi Nyonya Kian Mandala.
Ponselku berdering. Muncullah nama Kianku dalam layar.
"Hallo... Manda..." kudengar suara dari seberang sana. Suara itu tak asing, tak lain itu suara Mba Risna, kakak Kian.
"Iya, Mba..." jawabku. Jantungku berdegup kencang, sayup-sayup terdengar suara isak mba Risna.
"Kian..." suara mba Risna kembali tertahan.
"Ada apa dengan Kian, Mba? Kian di mana? Akad nikah setengah jam lagi, tapi kenapa Kian belum datang juga?"
Mba Risna tak menjawab. Suara isak itu semakin terdengar jelas.
"Kian sudah tenang, Manda. Ia sudah tidak merasakan sakit lagi."
Tidak. Dengan sekuat tenaga kupastikan ini hanya mimpi. Tapi seketika aku terbangun. Setengah jam perjalanan kutempuh, kulihat wajahnya putih bersih. Ia tidur dan tersenyum, seolah ingin bangkit dan menyapa kedatanganku. Tiba-tiba mba Risna menepuk bahuku dari belakang, mengalihkan pandanganku dari jasad Kian.
“Kakinya lumpuh bukan karena kecelakaan, tapi karena kanker tulang yang menggerogoti tubuhnya. Ia sangat mencintaimu, Manda. Ia tak mau membagi sakit denganmu. Lihatlah. Ia tersenyum saat menyebut namamu dalam napas terakhirnya.”
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
Minggu, 16 September 2018
Katamu
Katamu
Kita adalah sepasang burung dara
Terbang berdua mengepakkan sayap
Yang tak memikirkan apa itu duka
Katamu
Kita adalah ratu dan raja
Memimpin negeri dongeng penuh cinta
Yang tak lupa bersahaja pada rakyatnya
Katamu
Kita harus berpisah
Tanyaku
Apakah sebabnya
Jawabmu
Akal kita tak searah
Pintaku
Asal bukan karenanya
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
Sabtu, 15 September 2018
Kita Lebih Indah
Merah
Hijau
Biru
Itulah warna
Satu
Dua
Tiga
Itulah angka
Aku
Kamu
Orang tua
Itulah kita
Adakah yang lebih indah?
Kurasa tidak
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
Mengapa?
Cemburuku karenamu
Karena banyaknya keusilan matamu
Lirik sana lirik sini sesuka hatimu
Sedang aku tak terlihat olehmu
Aku yang tak bisa bersembunyi dalam tawa
Mengasingkan naluri tuk tak kenal luka
Adillah pada rasaku
Yang s'lalu berjuang untuk terus merindu
Kau mengembara di negeri asing
Pernahkah kau niatkan untuk kembali
Pada hati kecil penuh misteri
Namun entah kenapa kau tetap d hati
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
Kamis, 13 September 2018
Ikhlas
Aku rela meluruhkan air mata untukmu
Sungguh rela
Aku ikhlas menjatuhkan hati untuk mencintaimu
Sungguhlah ikhlas
Kekasihku, dengarlah
Ada bisikan lirih ingin menyapa
Hatimu t'lah kukenali
Kau berdusta sekata pun akan kupahami
Tapi kau mencoba menafiknya
Lalu kau tenggelamkanku pada rasa bersalah
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
Rabu, 12 September 2018
Gara-gara Kapital
Ini adalah pengalaman seseorang yang berprofesi sebagai pengajar di salah satu SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) negeri di Indramayu. Sekolah di daerah yang mewah alias mepet sawah. Ketika mengajar di tahun ketiga, sang guru mendapatkan pelajaran yang luar biasa. Salah satu murid perempuannya ternyata tidak bisa menuliskan huruf kecil. Hal tersebut ia temukan pada saat latihan materi teks eksposisi.
Semua siswa di kelas itu ditugaskan untuk membuat teks eksposisi. Seluruh tugas siswa dikumpulkan, lalu dikoreksi. Ada satu buku yang mencuri perhatian sang guru. Buku atas nama siswi berinisial A. Dalam buku latihan tersebut semua huruf ditulis dengan menggunakan huruf kapital. Kala itu sang guru hanya diam. Mungkin itu karena ketidaksengajaan, pikirnya.
Pada pertemuan berikutnya, di kelas tersebut diadakan latihan kembali. Sang guru mulai penasaran. Dua kali ia menemukan kasus yang sama pada satu anak. Sampai pada latihan berikutnya, masih ditemukan hal yang sama. Dipanggillah siswi berinisial A tersebut.
“Beberapa kali Ibu menemukan tulisan di bukumu, semuanya menggunakan huruf kapital. Kenapa?" tanya sang guru.
"Saya tidak terbiasa, Bu," jawab si A.
"Kamu tahu tidak perbedaan penggunaan huruf kapital dengan huruf kecil?"
"Tahu, Bu."
“Huruf kapital digunakan untuk apa saja?"
"Untuk awal kalimat, sapaan, nama daerah, nama agama, dll."
“Coba kamu tuliskan satu kalimat, tapi dengan penulisan yang benar!"
Siswi berinisial A menuliskan sebuah kalimat. Ternyata hasilnya benar. Rasa penasaran sang guru pun semakin memuncak.
“Kamu paham dengan teorinya. Lalu kenapa kamu gunakan huruf kapital dalam semua tulisanmu?"
“Saya tidak terbiasa, Bu. Kalau saya menulis huruf kecil dan huruf kapital, saya butuh waktu lama. Nanti saya tertinggal oleh teman-teman yang lain."
“Baik. Untuk latihan ke depan, Ibu ingin kamu menulis sesuai dengan aturan penulisan. Kalau butuh waktu lama, Ibu tunggu sampai kamu selesai."
"Iya, Bu," jawab si A dengan semangat.
Seperti yang telah disepakati, sang guru dengan sabar menunggu satu tulisan yang belum dikumpulkan di mejanya. Meski teman-temannya sudah ribut, siswi berinisial A tetap melanjutkan tugasnya. Bahkan terkadang, ia mengerjakan tugas di dekat meja guru. Ketika mengalami kebingungan, ia langsung tanyakan. Kejadian seperti itu berlangsung selama satu semester.
Akhir yang menyenangkan. Pada semester berikutnya, siswi berinisial A tak lagi menghiasi seluruh bukunya dengan huruf sejenis. Kini ia sudah membiasakan diri menulis huruf sesuai fungsinya dalam waktu yang lebih cepat.
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
Selasa, 11 September 2018
Surga di Kakimu
Bagaimana tega kau meminta
Tinggalkan ibumu!
Bagaimana rasamu jika aku yang meminta
Racuni ibumu!
Kau jalan surgaku
Tapi ia adalah hidupku
Kau pendampingku
Tapi ia adalah pelitaku
Kumohon jangan paksa aku memilih satu
Hadirnya dan hadirmulah yang kumau
Meski kita sama-sama tahu
Surgaku ada di kakimu
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
Senin, 10 September 2018
Terima Kasih, Bunda...
Pukul 06.00 WIB langit masih berwarna biru. Terasa segerombolan angin membelai mesra dedaunan di samping kamar minimalis itu. Dari sudut kamar berdinding hijau muda terlihat gadis kecil tengah menggeliat, menggerak-gerakkan badannya yang berbalut piyama putih.
Sesekali ia menguap, lalu mengucek matanya yang agak sendu. Nampak sekali suasana libur di hari Minggu. Setelah mematikan alarm di jam bekernya, gadis itu menuruni ranjang tidur secara perlahan. Arah dapur yang ditujunya. Dituangkannya air putih ke dalam gelas bergambar Frozen. Teguk demi teguk air masuk membasahi kerongkongannya.
"Tiara, kamu sudah bangun, Nak?" sapa seorang wanita muda berusia sekira tiga puluhan. Tiara hanya menganggukkan kepalanya.
"Bunda sudah buatkan nasi goreng. Nanti setelah sarapan, kamu mandi terus nonton TV. Acara kartun kesukaan kamu sudah mau mulai, nanti kamu ketinggalan. Oh iya, Bunda juga sudah siapkan buku-buku cerita di meja TV. Semoga hari kamu menyenangkan, sayang..."
Bosan. Satu kata yang terlintas di hati gadis enam tahun itu. Jangankan hari sekolah, hari libur pun Tiara hanya berdiam di rumah. Tidak seperti teman-teman sebayanya yang asyik bermain gundu, lompat tali, ada juga yang berolahraga bulu tangkis, meskipun koknya sering bersarang di jaring net.
Terdengar suara Risma menjerit. Ia mengumpati Andri yang menggantungkan sandalnya di atas pohon. Ada juga Syifa yang duduk manis sambil menggendong boneka beruangnya, sedang teman-temannya yang lain asyik tertawa melihat Dida yang tambun dikejar-kejar Tama yang jangkung. Semua tertawa riang, sementara Tiara hanya dapat memandangnya dari balik jendela.
“Kamu tidak perlu iri dengan mereka." Tiara mengangguk. Nampaknya ia masih betah berdiri di balik tirai merah marun.
“Dulu waktu kecil, Bunda sering membawamu ke taman tetangga kita. Di sana ada banyak tanaman bermacam warna. Kamu pun sangat senang jika Bunda bawa ke sana. Kamu masih ingat, Nak? Mungkin tidak. Usiamu baru satu tahun lebih waktu itu. Berjalan pun kamu belum lancar." Tampak Bunda tersenyum, tapi seperti senyum kepalsuan.
“Sampai datang hari itu. Hari yang merebut riangnya gadis kecil Bunda. Batu sebesar kepalamu menggoda kaki Bunda yang tengah berlari hingga terjatuh. Sampai tubuh mungilmu terlepas saat kobaran api membesar dengan bantuan angin. Setelah itu semuanya gelap. Bunda hanya melihatmu terbaring di rumah sakit. Matamu tertutup, lalu Bunda...” Bunda terisak, tidak sanggup melanjutkan cerita.
Melihat bundanya menangis, Tiara perlahan menghampirinya. Tangannya mengusap air mata sang bunda seolah ingin menguatkan. Jari-jarinya yang masih saling menempel terasa halus di pipi bunda. Wajahnya yang masih belum rata terlihat ayu di mata bunda.
"Telima… katih…, Bunda..."
Tangis bunda semakin menjadi. Ia baru saja mendengar kalimat pertama anaknya setelah sekian tahun. Ia yakin putrinya akan kembali, meski harus menjalani operasi beberapa kali.
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
Minggu, 09 September 2018
Buku Harian 2 (part 1)
"Baik-baik di sana."
"Iya..." jawabku singkat, sedangkan dua jari kananku sibuk mengusap titik air terakhir di pipi.
Tidak. Ternyata air mata itu bukan yang terakhir mengalir. Mereka curang, menyerbu mataku yang cuma dua hingga tak mampu menampungnya. Kutumpahkan lewat senggukan yang tertahan. Memoriku mencoba mengulang kembali obrolanku dengannya satu jam yang lalu. Meyakinkan bahwa yang kudengar lewat telepon itu hanya mimpi.
Seorang pria tersenyum riang tanpa beban. Ia sederhana, namun tak mengurangi dayanya untuk menarik perhatianku. Di sudut taman itu aku dan dia bersenda gurau layaknya dua sejoli yang tengah kasmaran. Tangannya sesekali membelai rambutku yang sebahu. Hidung setengah mancungku pun tak elak dari cubitan manjanya. Kubalas dengan senyum dan rengekan manja pula. Bayanganku kembali pada masa itu.
"Kau menerima latar belakang keluargaku?" tanyanya, aku mengangguk.
“Kau tidak malu dengan pendidikanku yang tidak setara dengan...?" aku mengangguk memotong pertanyaannya.
"Kau tidak keberatan dengan pekerjaanku?" tanyanya kembali, aku tetap mengangguk.
"Kau terima aku apa adanya, aku pun menerimu dengan apa yang kau punya. Bagaimanapun keluargamu, dia akan menjadi keluargaku. Aku ikhlas jika kau bagi nafkahmu, karena aku tahu mereka masih membutuhkanmu."
Aku menghela napas. Bibir kami kompak memamerkan senyum termanis yang kami punya. Kerlip lampu taman seolah menjadi pengiring musik syahdu kala itu.
"Pendidikan bukanlah hal utama bagiku. Aku melihat ketulusanmu, bukan embel-embel gelar yang harus ada di belakang namamu. Terakhir, aku memilihmu justru karena pekerjaanmu. Meski kau bukan pegawai kantor berdasi, kau bukan PNS ataupun polisi, yang penting kau ikhlas untuk memberi rezeki. Aku pun bisa menghadirkan bahagia di hati." Kami kembali tersenyum. Kali ini ditambahi dengan sedikit gombalan-gombalan ala kadarnya.
Ah... sudahlah... itu hanya sekelumit kisahku dengannya yang berakhir di tengah jalan. Perjalanan manis yang berakhir pahit. Kalimat terakhir dari seberang telepon itu masih terngiang di telingaku. Aku akan baik-baik saja jika kau tak lagi mempermasalahkan masalah yang kuanggap bukan masalah. Ingin rasanya kuteriakkan kalimat itu agar ia paham bahwa aku mencintainya dengan ikhlas.
Ponselku berbunyi kembali, nada pesan masuk. Masih darinya.
Ketulusan sungguhlah aku rasakan darimu. Tapi coba kau bayangkan bagaimana aku. Jika suatu saat nanti akan ada banyak mulut tetangga yang mencibirku seolah aku tak berkaca diri. Itu akan sangat menyakitkanku dan keluargaku. Kau ikhlas mencintaiku, ikhlaskan pula untuk melepasku.
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
Sabtu, 08 September 2018
Antara Amplop, Gawai, dan Ulat
Sebuah amplop merah jambu di tanganmu
Serasi dengan gaunmu
Tampak jelas bola indah menatap ke arahku
Kau tersipu malu di pesta itu
Berpura-pura lagakmu di depanku
Agar aku tak tahu kau perhatikanku
Tapi arah kamera gawaimu
Menjawab semua tanyaku
Aduhai bidadari bergaun brokat
Aku tak ingin menjadi ulat
Yang membuatmu geli dan tak terpikat
Lalu enggan untuk mendekat
#TantanganODOP1
#onedayonepost
#odopbatch6
Jumat, 07 September 2018
Seandainya
Hinakan aku, sayang...
Saat itulah kau tahu aku
Akan terlihat aku di matamu
Seingatku kau memang tak pernah memberikan janji
Ya
Tapi entah mengapa
Fatamorgana itu menyapaku pada suatu waktu
Ia mengabariku tentang sebuah luka
Aku dan kamu ada di antaranya
Intiplah hatiku satu detik saja
Jangan tertawa setelah kau tahu isinya
Tersenyumlah...
Agar tidak lagi ada
Seandainya
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
Kamis, 06 September 2018
Imajinasi dan Inspirasi
Jika disuruh menulis, terkadang kita bingung apa yang akan ditulis. Jangankan merangkaikan kata menjadi kalimat, kalimat menjadi paragraf, lalu paragraf menjadi teks. Untuk menentukan idenya pun terkadang butuh waktu lama. Adakah yang pernah mengalami hal semacam itu? Bagi penulis pemula seperti saya, mencari ide tulisan itu seperti mencari jarum dalam jerami (lebay sedikit).
Untuk membuat sebuah tulisan imajinasi dan inspirasi sangat dibutuhkan. Imajinasi berasal dari kata imaji (sesuatu yang dibayangkan dalam pikiran). Menurut KBBI, imajinasi adalah daya pikir untuk membayangkan (dalam angan-angan) atau menciptakan gambar (lukisan, karangan, dsb) kejadian berdasarkan kenyataan atau pengalaman seseorang. Imajinasi juga dapat diartikan sebagai khayalan.
Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk melatih dan meningkatkan daya imajinasi. Pertama, fokus dan serius. Ketika pikiran terbagi, akan susah berimajinasi. Sebaliknya, jika fokus dan serius, khayalan atau gambaran tentang suatu hal akan lebih mudah dimunculkan dalam pikiran, baik berbentuk gambar, rangkaian kata, atau bentuk lainnya. Meskipun terkadang dalam hidup itu harus santai, tapi ada kalanya keseriusan itu dibutuhkan. Kedua, rasa ingin tahu. Semakin meningkatnya rasa ingin tahu, semakin besar pula kesempatan untuk mengembangkan imajinasi. Ketika seseorang mengasah rasa ingin tahunya, secara tidak langsung ia juga sedang berimajinasi tentang apa saja yang akan ia kaji. Ketiga, gali kreativitas. Antara kreativitas dengan imajinasi memiliki keterkaitan yang erat. Keempat, hayalan. Orang yang suka menghayal adalah orang yang mudah berimajinasi. Ia akan terlatih dengan hal-hal abstrak, meskipun tidak dilihat secara langsung.
Selain imajinasi, inspirasi juga dibutuhkan dalam kegiatan menulis. Inspirasi adalah ilham yang bisa muncul lewat apa pun, kapan pun, dan di mana pun. Ketika muncul ide, tulislah. Tak jarang ide itu hanya muncul sekali. Karena manusia itu tempatnya salah dan lupa, lebih baik ide yang muncul langsung ditulis. Cara kedua yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan kunjungan wisata. Dengan menikmati pemandangan alam yang menyegarkan, pikiran dan hati akan tenang. Siapa tahu inspirasi akan muncul di sana. Curahan hati teman pun bisa dijadikan sumber inspirasi dalam membuat tulisan. Sertakan juga daya imajinasi ketika mendengarkan curahan hati orang.
Imajinasi dan inspirasi adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan dalam kegiatan menulis. Ketika kedua hal tersebut dihadirkan, sebuah tulisan akan mempunyai makna karena terkadang menulis itu harus dipaksa.
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
Rabu, 05 September 2018
Bahaya Rokok
Larangan merokok bukanlah hal yang baru di kalangan masyarakat Indonesia. Hal tersebut diperkuat dengan tersiarnya kabar tentang fatwa MUI yang mengharamkan rokok beberapa waktu lalu. Perdebatan pun tak dapat terelakkan sebab Indonesia merupakan negara yang jumlah perokoknya cukup besar. Dilansir dari tribunjogja.com, jumlah perokok aktif di Indonesia terus bertambah, hingga kini jumlahnya sudah mencapai 60 juta orang (17/4).
Banyaknya iklan tentang bahaya merokok tidak membuat masyarakat jera. Begitu pun dengan poster yang berisi larangan merokok ternyata tidak menjanjikan untuk ditaati semua pihak. Bukan hanya di jalan, di lingkungan sekolah pun sudah ada peraturan dilarang merokok. Namun, aturan hanyalah aturan. Seluruh siswa dilarang membawa rokok ke sekolah, apalagi mengisapnya di lingkungan sekolah. Jika ada yang kedapatan seperti itu, siswa tersebut akan kena sanksi. Namun, di lapangan banyak guru laki-laki yang dengan santainya merokok di lingkungan sekolah. Yang membuat miris adalah munculnya anggapan Aturan dibuat untuk dilanggar.
Contoh lain adalah ketika di bus umum. Jangankan bus kelas ekonomi, bus AC pun yang notabene tempat tertutup, terkadang masih ada yang menyalakan rokok di dalamnya. Selain merugikan diri sendiri, para perokok aktif pun merugikan orang lain (perokok pasif). Senantiasa menghirup asap rokok secara pasif dapat meningkatkan risiko seseorang untuk terserang kanker paru-paru sebanyak 25 persen. Selain itu, perokok pasif juga meningkatkan risiko penyakit jantung koroner. Penyakit jantung koroner dapat menyebabkan serangan jantung, nyeri dada, dan gagal jantung (www.aladokter.com).
Masih berdasarkan www.aladokter.com, lebih dari 4000 bahan kimia yang terdapat dalam sebatang rokok. Setidaknya, 60 dari bahan kimia tersebut mampu menyebabkan kanker. Bahan-bahan berbahaya pada sebatang rokok, di antaranya:
1. Karbon monoksida
Zat yang tidak bisa terlihat atau terasa ini, kerap ditemukan pada asap knalpot mobil. Zat ini bisa mengikat diri pada hemoglobin dalam darah secara permanen, sehingga menghalangi suplai oksigen ke seluruh bagian tubuh. Karbon monoksida ini cenderung membuat Anda merasa kehabisan napas dan juga menjadi lebih mudah lelah.
2. Tar
Ketika merokok, kandungan tar di dalam rokok akan ikut terisap. Zat ini akan mengendap di paru-paru Anda dan berdampak negatif pada kinerja rambut halus yang melapisi paru-paru. Padahal, rambut tersebut bertugas untuk mendorong kuman serta partikel asing lainnya keluar dari paru-paru Anda. Tar dalam asap rokok mengandung berbagai bahan kimia karsinogen, yang dapat memicu perkembangan sel kanker di tubuh.
3. Gas oksidan
Gas ini bisa bereaksi dengan oksigen. Keberadaan oksidan dalam tubuh meningkatkan risiko terjadinya stroke dan serangan jantung.
4. Benzene
Zat yang ditambahkan ke dalam bahan bakar minyak ini bisa merusak sel pada tingkat genetik. Zat ini juga dikaitkan dengan berbagai jenis kanker seperti kanker ginjal dan leukimia.
Selain bahan-bahan di atas, masih banyak kandungan zat kimia beracun pada sebatang rokok seperti arsenic (digunakan dalam pestisida), formalin atau formaldehyde (digunakan untuk mengawetkan mayat), hydrogen cyanide (digunakan untuk membuat senjata kimia), dan amonia.
Begitu banyak kandungan berbahaya dalam sebatang rokok. Bayangkan jika Anda mengisap banyak rokok daam sehari, seminggu, sebulan bahkan bertahun-tahun.
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
Selasa, 04 September 2018
Dia
Aku adalah sebiji kacang kering tak berwarna
Pahit mungkin, tak ada nilainya
Jika disandingkan dengan sang permata
Yang memancarkan kilau indah dengan harga tak terkira
Aku adalah seekor katak yang terperangkap dalam tempurung
Diam tak mampu berbuat apa
Andai aku bukan aku, andai aku adalah dia
Semua dapat kupinta, kau juga
Dia yang mendukungku tuk dapat bersamamu
Dia mendambakanmu
Dia juga mencintai tatap matamu
Dia sahabatku
Kini kubiarkan diri ini mengais daun kering di atas tanah
Karena tak ada lagi lorong yang dapat menyembunyikan kita untuk bersama
Janji suci yang pernah terucapkan dulu
Lupakanlah.
Hempaskan ia, terbangkan bersama angin lalu
Senja di ufuk barat pun menangis
Melihat tangannya meraihmu
Sedang matamu masih menatap ke arahku
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
Senin, 03 September 2018
Buku harian 1
Buku Harian 1
Aku ingin menceritakan ini. Sebuah kisah antara seorang wanita Jawa dengan lelaki keturunan Cina. Mereka diperkenalkan pada suatu waktu. Ada benih cinta yang tumbuh setelah beberapa bulan bersama. Sampai akhirnya ada satu kata sepakat menikah. Pasti bahagia yang mereka rasakan. Tentang rencana tempat tinggal, juga tentang masa depan keduanya sudah dibicarakan dengan matang. Kau tahu apa yang terjadi selanjutnya? Muluskah perjalanan cinta mereka? Ternyata tak semulus pipi model iklan kosmetik di televisi.
Pria bermata sipit itu meminta izin dan restu kepada orang tua angkatnya. Meski kini mereka berbeda keyakinan, si pria bermata sipit itu tetap menghormati kedua orang tuanya. Ketika kecil si pria bermata sipit diasuh di sebuah panti asuhan di kota kembang. Sampai ada satu keluarga berkeyakinan Katolik mengangkatnya menjadi anak. Ia dibesarkan dan diberi kehidupan yang lebih layak. Hingga dewasa ia berkehidupan lebih dari cukup. Tampang yang rupawan, karir mapan, rumah bertingkat, sampai kendaraan antik dimilikinya. Hingga hidayah mendatangi si pria keturunan Cina untuk memeluk Islam.
Kau tebak, apa jawaban ibunya ketika ia meminta restu? Bukan jawabannya yang membuat si wanita Jawa menangis. Air matanya jatuh tak lain karena alasan dari sang calon mertua. Jika alasannya kurang cantik, si wanita Jawa bertekad untuk berusaha mempercantik dirinya. Jika alasannya kurang harta, si wanita Jawa bertekad untuk mencari jalan menjadi kaya. Jika alasannya kurang cinta, si wanita Jawa bertekad untuk memberikan seluruh kehidupannya. Namun bukan itu alasan untuk si wanita malang.
Si wanita Jawa berusaha tegar saat ia dan pria bermata sipit berada di pertemuan terakhir. Si wanita Jawa membalikkan badan, sebagai tanda perpisahan di antara keduanya. Air mata pun tak dapat dibendung. Kejamnya ibu tiri tak sekejam kehidupan cintanya. Salah siapa jika ia terlahir sebagai wanita asli dari sebuah daerah yang terkenal dengan wanita nakalnya? Yang menyakitkan lagi, si pria bermata sipit tak bisa memilih satu di antara dua. Ya, si wanita Jawa memahaminya.
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6