Kamis, 04 Oktober 2018

INDAH


Lelaki beristri itu berjalan dengan gagah, ia melewati kerumunan anak kecil yang tengah bermain gundu di gang sempit. Ibu-ibu kompleks enggan untuk menggodanya, bahkan menyapa pun tidak. Sambil bersiul kecil, sampailah ia di sebuah rumah minimalis bercat dinding hijau muda. Di depan teras, istrinya tengah duduk di atas kursi rotan. Suwanto, lelaki berjenggot itu lalu mendekati istrinya.
“Apa tidak ada lagi yang bisa kaulakukan selain berdiam diri sepanjang hari di rotan tua itu?” tanya Suwanto setelah mempertemukan bokongnya dengan kursi rotan di sebelah Marni.
“Apa harus aku jawab setelah pertanyaan itu selalu kaulontarkan setiap pagi?” Marni kembali bertanya.
“Aku bosan, Marni. Lihatlah keadaanmu sekarang. Badan tak segar, mata cekung, rambut berantakan, bahkan secangkir kopi atau teh pun tak pernah ada untukku. Ingat, Marni. Masih ada aku yang harus kauurus.”
“Kau sudah tua dan bisa mengurus kebutuhanmu sendiri. Tak seperti Indahku yang malang, dia masih terlalu kecil untuk merasakan kepedihan. Kenapa tak kaubunuh saja aku, Wanto? Aku pun bosan hidup berpuluh-puluh tahun dengan berpura-pura tidak ada rasa bersalah. Aku mau mati saja dan menyusul Indah. Pasti dia sudah besar dan menjadi gadis yang cantik di sana. Kulitnya putih mewarisi kulitku, rambutnya hitam lurus, dan hidungnya mancung mirip hidungmu.” Marni tersenyum tipis, sedangkan Suwanto hanya terdiam sambil menatap tingkah istri tercintanya.
“Kau masih ingat? Saat suaranya pertama kali kita dengar, kita menangis menyambutnya dalam pangkuan. Bayi yang sangat cantik, kata suster waktu itu. Itu air mata bahagia, tidak seperti satu tahun kemudian saat kita kembali menangis bersama untuk kedua kalinya. Indah merintih kesakitan, sampai suaranya pun hampir tak terdengar. Ia ingin menjerit minta tangan-tangan dokter itu memeriksanya. Tapi apa yang terjadi? Sungguh tak habis kupikir, mereka sudah cuci tangan sebelum menyentuh putri kecil kita. Inikah keadilan yang harus kita terima sebab kita orang tak terbiaya?”
“Sudahlah, Marni. Kejadian itu sudah dua puluh tahun berlalu. Indah pun tak akan suka melihatmu terus mengutuk takdir seperti ini. Kau tahu, semua tetangga memandang miring tentangmu. Dipikirnya kau sudah tak waras. Aku sedih mendengarnya, Marni. Kumohon, sadarlah dan terimalah kenyataan ini dengan ikhlas. Demi aku, juga demi Indah,” kata Suwanto dengan mata berkaca-kaca.
Marni tetap bergeming. Dengan mata kosong, ia berdiri dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, meninggalkan Suwanto yang mengusap air mata. Sebagai seorang ayah yang kehilangan putri semata wayangnya, Suwanto merasakan hal yang sama. Namun, ia menyimpan rasa sedihnya sendiri, membiarkan Indah berlalu dengan kenangannya.

#TantanganODOP4
#onedayonepost
#odopbatch6
#fiksi

19 komentar:

Agus Khairi mengatakan...

kehilangan memang sakit

Unknown mengatakan...

Iya mas.

Evita FL mengatakan...

Sedih banget 😥

putririsdiani89.blogspot.com mengatakan...

Inspirasi banget :)

Traveling mengatakan...

Sedih ibu

Unknown mengatakan...

Ide dadakan mba...

Unknown mengatakan...

Mksh mba

Unknown mengatakan...

Cetita dadakan itu lu...

Unknown mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Unknown mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Sekolah kehidupan mengatakan...

Ide dadakan yang keren

Nefilia H mengatakan...

Wow... saya tergumam.. setelah baca” ternyata kk punya ciri bahasa yang khas ya.. suka”
Keren 😍 ini dalem banget bahasannya tapi ditampilkan dalamm cerita yang singkat dan jelas

Unknown mengatakan...

Mksh bunda...

Unknown mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Unknown mengatakan...

Mksh mba nefilia. Msh belajar dan butuh masukan...

Unknown mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Unknown mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
makopako mengatakan...

Bagus mba, lebih nyaman lagi jika ada jeda paragraf tiap dialog )kalimat langsung). dan anyway suster itu rohaniawan wanita yang tinggal atau bertgas di biara / gereja. Lebih tepatnya menggunakan istilah perawat :)

Unknown mengatakan...

Mksh bnyk mba masukannya...