Rabu, 24 Oktober 2018

Buku Harian 2 (Part 2)


Pikirannya berubah. Dia melepaskan semua perkiraan yang tak beralasan, dan aku menyukainya. Jalinan kasih yang pernah terputus kini terjalin kembali.
“Jujur, aku tidak bisa melupakan kenangan kita. Meski mataku berusaha tak menatap ke arahmu, namun hatiku tetap mengatur kaki ini untuk melangkah ke rumahmu. Dari kejauhan aku masih senang menikmati senyum indahmu, senyum yang tak ingin kusia-siakan, walau hanya sedetik,” katanya pada waktu itu. Tak ada jawaban lain dariku, selain kata “ya” saat ia katakana ingin kembali.
Aku sendiri pun sama, tak berniat menghilangkan wajah manis itu dari pikiran. Melihat senyumku terkembang, ia ambil selembar kertas, lalu kata-kata itu dirangkai hingga menjadi puisi paling indah di dunia.
Tak ada raut indah selain wajahmu
Tak ada senandung indah selain ucapmu
Tak ada pemandangan indah selain senyummu
Dan namamu selalu tersanjungkan di hati terdalamku
Aku yang berharap bisa memiliki
Hanya bisa berikan cinta
Namun percayalah
Suatu saat akan ada masanya untuk kita bahagia
Aku belajar terbiasa dengan perbedaan kita
Begitu juga kau
Mencoba masuk dalam duniaku dari kalangan jelata
Tapi cintamu seolah menjawab
Kita akan tetap bahagia dengan cinta
Terima kasih kekasihku
Atas cinta setulus pemberianmu
Bertahanlah selamanya denganku
Hingga dunia akan sangat terpaku
Melihatmu bersamaku

“Kita akan bahagia dengan cara kita, bukan dengan caci maki orang lain. Kita akan tunjukkan pada dunia bahwa tidak ada yang bisa jadi penghalang. Bahkan ketika bumi terbelah pun, tangan kita tetap berpegang teguh, menautkan cinta hingga ajal memisahkan.” Ia berjanji tak akan lagi terpengaruh dengan gunjingan dan cemoohan orang. Kehidupan ibarat langit dan bumi yang dikatakan orang tak lagi mengoyakkan cintanya.
Kutenggelamkan wajahku. Di pundaknya kutumpahkan segala rasa haru. Rasanya tak ingin lagi tertatihkan oleh waktu yang dahulu membela mulut-mulut tak bersekolah itu. Kupikir, apa peduli mereka? Ini kehidupan cintaku. Hanya aku yang bisa menentukan jalannya, termasuk untuk mencintai pria tak berharta seperti dia. Aku bahagia karena menjadi alasannya untuk kembali tersenyum.


#komunitasonedayonepost
#ODOP6

1 komentar:

Wira Satya Nagara mengatakan...

Kak Imassss, cerita renyah dan asik, gurih bgt cara penyampainnya