Lelaki
beristri itu berjalan dengan gagah, ia melewati kerumunan anak kecil yang
tengah bermain gundu di gang sempit. Ibu-ibu kompleks enggan untuk menggodanya,
bahkan menyapa pun tidak. Sambil bersiul kecil, sampailah ia di sebuah rumah
minimalis bercat dinding hijau muda. Di depan teras, istrinya tengah duduk di
atas kursi rotan. Suwanto, lelaki berjenggot itu lalu mendekati istrinya.
“Apa tidak ada lagi yang bisa
kaulakukan selain berdiam diri sepanjang hari di rotan tua itu?” tanya Suwanto
setelah mempertemukan bokongnya dengan kursi rotan di sebelah Marni.
“Apa harus aku jawab setelah
pertanyaan itu selalu kaulontarkan setiap pagi?” Marni kembali bertanya.
“Aku bosan, Marni. Lihatlah
keadaanmu sekarang. Badan tak segar, mata cekung, rambut berantakan, bahkan
secangkir kopi atau teh pun tak pernah ada untukku. Ingat, Marni. Masih ada aku
yang harus kauurus.”
“Kau sudah tua dan bisa mengurus
kebutuhanmu sendiri. Tak seperti Indahku yang malang, dia masih terlalu kecil
untuk merasakan kepedihan. Kenapa tak kaubunuh saja aku, Wanto? Aku pun bosan
hidup berpuluh-puluh tahun dengan berpura-pura tidak ada rasa bersalah. Aku mau
mati saja dan menyusul Indah. Pasti dia sudah besar dan menjadi gadis yang
cantik di sana. Kulitnya putih mewarisi kulitku, rambutnya hitam lurus, dan
hidungnya mancung mirip hidungmu.” Marni tersenyum tipis, sedangkan Suwanto
hanya terdiam sambil menatap tingkah istri tercintanya.
“Kau masih ingat? Saat suaranya
pertama kali kita dengar, kita menangis menyambutnya dalam pangkuan. Bayi yang
sangat cantik, kata suster waktu itu. Itu air mata bahagia, tidak seperti satu
tahun kemudian saat kita kembali menangis bersama untuk kedua kalinya. Indah
merintih kesakitan, sampai suaranya pun hampir tak terdengar. Ia ingin menjerit
minta tangan-tangan dokter itu memeriksanya. Tapi apa yang terjadi? Sungguh tak
habis kupikir, mereka sudah cuci tangan sebelum menyentuh putri kecil kita.
Inikah keadilan yang harus kita terima sebab kita orang tak terbiaya?”
“Sudahlah, Marni. Kejadian itu
sudah dua puluh tahun berlalu. Indah pun tak akan suka melihatmu terus mengutuk
takdir seperti ini. Kau tahu, semua tetangga memandang miring tentangmu.
Dipikirnya kau sudah tak waras. Aku sedih mendengarnya, Marni. Kumohon,
sadarlah dan terimalah kenyataan ini dengan ikhlas. Demi aku, juga demi Indah,”
kata Suwanto dengan mata berkaca-kaca.
Marni tetap
bergeming. Dengan mata kosong, ia berdiri dan melangkahkan kakinya masuk ke
dalam rumah, meninggalkan Suwanto yang mengusap air mata. Sebagai seorang ayah
yang kehilangan putri semata wayangnya, Suwanto merasakan hal yang sama. Namun,
ia menyimpan rasa sedihnya sendiri, membiarkan Indah berlalu dengan
kenangannya.
#TantanganODOP4
#onedayonepost
#odopbatch6
#fiksi
19 komentar:
kehilangan memang sakit
Iya mas.
Sedih banget 😥
Inspirasi banget :)
Sedih ibu
Ide dadakan mba...
Mksh mba
Cetita dadakan itu lu...
Ide dadakan yang keren
Wow... saya tergumam.. setelah baca” ternyata kk punya ciri bahasa yang khas ya.. suka”
Keren 😍 ini dalem banget bahasannya tapi ditampilkan dalamm cerita yang singkat dan jelas
Mksh bunda...
Mksh mba nefilia. Msh belajar dan butuh masukan...
Bagus mba, lebih nyaman lagi jika ada jeda paragraf tiap dialog )kalimat langsung). dan anyway suster itu rohaniawan wanita yang tinggal atau bertgas di biara / gereja. Lebih tepatnya menggunakan istilah perawat :)
Mksh bnyk mba masukannya...
Posting Komentar