Minggu, 14 Oktober 2018

Diaryku


Diaryku, bolehkah aku meneteskan air mata di kertasmu? Ujian ini begitu berat, sepertinya aku tak kuat untuk menanggungnya. Ibuku adalah orang yang paling khawatir saat aku sakit, orang yang paling bahagia saat aku lulus dengan nilai cumlaude, dia pula yang tak pernah mendengar keluh kesah dan rengek tangisanku, bahkan sampai sekarang.
Ibuku tahu aku mencintai si dia, dia pun mencintaiku. Ibu berikan restu saat ia menyatakan ingin melamarku di malam itu. Kau tahu bagaimana perasaanku waktu itu? Tidak ada kata lain selain bahagia. Dunia dan seisinya ini seolah menjadi milikku. Tapi kau tahu setelahnya? Si dia tiba-tiba goyah, tak seyakin saat menyatakan cinta. Dengan alasan belum siap, masih banyak tanggungan, dan berbagai macam alasan lain yang sulit aku pahami. Tapi atas dasar cinta, aku menerima saat ia meminta waktu dua tahun.
Semuanya tak berjalan mulus. Kupikir tak ada lagi masalah setelah aku bersedia menunda pernikahan selama dua tahun. Tapi takdir memang tak bisa dibelokkan. Pendirian ibu berubah saat ada pria lain datang membawa lamaran untukku.
“Kamu mau menunggu sampai dua tahun? Apa kamu yakin jika dia akan menikahimu?” tanya ibuku. Kujawab “iya” pada waktu itu. Hatiku masih yakin untuk tetap menunggu si dia yang sedang mengumpulkan persipan pernikahan. Waktu terus berjalan. Tiba-tiba si dia mengatakan putus. Alasannya sepele, karena aku tak mau tinggal bersama orang tuanya jika nanti kami menikah. Entahlah siapa yang egois, aku ataukah dia?
Aku belum siap untuk kehilangan hati. Kami memang putus, tapi kata cinta masih menjadi perbincangan kami saat menyambung suara via telepon. Masih ada harapan untuk bersama, hanya menunggu siapa yang akan meruntuhkan keegoannya. Sampai ibuku bertanya kembali, “Kamu masih mau menunggunya? Dua tahun itu bukan waktu yang sebentar. Ibu tahu kalian saling mencintai, tapi kalau dia tidak bisa memberimu kepastian, buat apa? Pernikahan itu bukan perkara keterpaksaan, tapi harus saling menerima satu sama lain. Sekarang pilihan ada di tanganmu. Kamu masih mau menunggu yang tidak pasti atau orang yang sekarang nyata di depan mata?”
Diaryku, kini kupasrahkan semua pada sang waktu. Karena aku yakin, kebahagiaan akan menghampiri hidupku. Entah si dia yang akan kembali memintaku menjadi pasangan hidupnya, ataukah ada orang lain yang akan menjadi penghuni baru di hatiku.


#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Tidak ada komentar: