Diaryku, bolehkah aku meneteskan air
mata di kertasmu? Ujian ini begitu berat, sepertinya aku tak kuat untuk
menanggungnya. Ibuku adalah orang yang paling khawatir saat aku sakit, orang
yang paling bahagia saat aku lulus dengan nilai cumlaude, dia pula yang tak pernah mendengar keluh kesah dan rengek
tangisanku, bahkan sampai sekarang.
Ibuku tahu aku
mencintai si dia, dia pun mencintaiku. Ibu berikan restu saat ia menyatakan ingin
melamarku di malam itu. Kau tahu bagaimana perasaanku waktu itu? Tidak ada kata
lain selain bahagia. Dunia dan seisinya ini seolah menjadi milikku. Tapi kau
tahu setelahnya? Si dia tiba-tiba goyah, tak seyakin saat menyatakan cinta. Dengan
alasan belum siap, masih banyak tanggungan, dan berbagai macam alasan lain yang sulit aku pahami. Tapi atas dasar cinta, aku menerima saat ia
meminta waktu dua tahun.
Semuanya tak
berjalan mulus. Kupikir tak ada lagi masalah setelah aku bersedia menunda
pernikahan selama dua tahun. Tapi takdir memang tak bisa dibelokkan. Pendirian ibu berubah saat ada pria lain datang membawa lamaran untukku.
“Kamu mau menunggu
sampai dua tahun? Apa kamu yakin jika dia akan menikahimu?” tanya ibuku. Kujawab
“iya” pada waktu itu. Hatiku masih yakin untuk tetap menunggu si dia yang
sedang mengumpulkan persipan pernikahan. Waktu terus berjalan. Tiba-tiba si dia
mengatakan putus. Alasannya sepele, karena aku tak mau tinggal bersama
orang tuanya jika nanti kami menikah. Entahlah siapa yang egois, aku ataukah
dia?
Aku belum siap
untuk kehilangan hati. Kami memang putus, tapi kata cinta masih menjadi
perbincangan kami saat menyambung suara via telepon. Masih ada harapan untuk
bersama, hanya menunggu siapa yang akan meruntuhkan keegoannya. Sampai ibuku
bertanya kembali, “Kamu masih mau menunggunya? Dua tahun itu bukan waktu yang
sebentar. Ibu tahu kalian saling mencintai, tapi kalau dia tidak bisa memberimu
kepastian, buat apa? Pernikahan itu bukan perkara keterpaksaan, tapi harus
saling menerima satu sama lain. Sekarang pilihan ada di tanganmu. Kamu masih mau
menunggu yang tidak pasti atau orang yang sekarang nyata di depan mata?”
Diaryku, kini kupasrahkan semua pada
sang waktu. Karena aku yakin, kebahagiaan akan menghampiri hidupku. Entah si
dia yang akan kembali memintaku menjadi pasangan hidupnya, ataukah ada orang
lain yang akan menjadi penghuni baru di hatiku.
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
Tidak ada komentar:
Posting Komentar