Mematikan rasa itu bukan hal yang
mudah. Saat hati masih berharap pada sosok Lucky, aku dihadapkan pada pilihan
lain. Aku teringat pada kalimatnya di waktu itu, saat kami saling bertatap namun
dihiasi dengan mata berkaca-kaca.
“Jika nanti ada seorang laki-laki
yang bisa membangunkan istana impianmu, aku menerimanya. Maafkan aku yang tak
bisa mewujudkan keinginanmu.”
“Aku bukanlah orang yang mudah jatuh
cinta, tapi kepadamu cinta itu begitu mudah hadir dan tumbuh. Aku tak mau yang
lain, aku cuma mau kamu yang menjadi pasangan hidupku. Bukankah itu rencana
kita dari beberapa bulan lalu?” tanyaku.
“Keadaannya berbeda, Nilam. Untuk
saat ini aku masih punya tanggung jawab, yaitu keluargaku. Aku anak lelaki
satu-satunya. Kalau bukan aku, siapa lagi yang akan mencari nafkah untuk
mereka, sedangkan bapakku, aku pun tak tahu dia di mana.”
Lucky menambahkan, “Aku sendiri
berat untuk melepasmu. Sungguh, aku tak pernah menemukan, dan mungkin tidak akan
menemukan lagi wanita sepertimu. Kau tak pernah menuntut apapun, menerimaku apa
adanya, selalu menjadi penghibur di saat aku jatuh terpuruk. Kau wanita yang
baik, aku yakin hidupmu akan disandingkan dengan orang baik pula. Jika memang
berjodoh, pasti nanti akan ada jalan untuk kita bersama, mungkin, besok, lusa,
atau kapanpun. Itu pun kalau kau masih sendiri saat aku kembali dari negeri
orang.”
Tak berselang lama, ada lamaran
datang. Kawan ibu melamarku untuk anaknya, Ahmad. Mungkin inilah jawaban sang
waktu atas segala tanya.
“Kau dan Lucky memang saling
mencintai. Tapi hidup itu rasional, Nak. Kamu perempuan, sedangkan Lucky tidak bisa
memberi kepastian dalam waktu dekat. Ingat usiamu, Nilam. Mau sampai kapan kau
akan menunggunya? Bukankah dia juga yang mengatakan akan menerima jika ada
lelaki yang datang kepadamu? Lalu apa lagi yang kamu pikirkan? Ini pasti berat,
jadi pertimbangkanlah. Ini hidupmu, kau pula yang harus mengambil keputusan.”
Apakah aku berkhianat jika menerima
Ahmad? Kupikir tidak, meski hati masih meyakinkan bahwa aku akan bertakdir
dengan Lucky. Inilah jalan yang kupilih, mengisi ruang dengan hati yang baru.
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
Tidak ada komentar:
Posting Komentar