Minggu, 14 Oktober 2018

Impian Rasti


Sekeranjang sayuran dibawanya. Gadis itu tersenyum saat para tetangga menyapa, menampakkan dua gigi gingsul sehingga terlihat semakin manis. Banyak pemuda yang tergila-gila padanya, karena bukan hanya punya wajah yang ayu, sikapnya pun santun dan sederhana. Sudah banyak lamaran yang datang kepadanya, namun tak ada satu pun yang diterima. Sesampainya dari pasar, Rasti kaget karena di rumahnya sedang ada tamu. Pak Sanif, sahabat almarhum ayahnya tengah berbicara dengan bu Siti, ibu Rasti.
“Aku belum ingin menikah, Bu,” kata Rasti kepada ibunya setelah pak Sanif berpamitan.
“Sudah sebelas laki-laki yang datang melamarmu, dan semuanya ditolak. Sekarang ada pak Sanif datang melamar buat anaknya, moso’ harus Ibu tolak lagi, Nduk?” tanya bu Siti.
“Aku masih muda, Bu. Masih banyak impian yang harus aku kejar,” jawab Rasti.
“Aldo itu anak yang baik, sopan, dan sudah punya pekerjaan. Kalian juga sudah kenal dari kecil. Kalau setiap lamaran yang datang ditolak, Ibu takut ndak ada lagi laki-laki yang mau menikahi kamu.”
“Aku masih punya cita-cita ingin kuliah, Bu. Sebelum meninggal, bapak ingin melihat aku kuliah di kota. Belajar di gedung tinggi sampai aku dapat nilai yang tinggi juga. Walaupun bapak sudah tidak bisa melihatku lagi, tapi aku yakin bapak bahagia kalau aku bisa kuliah dan jadi seorang dokter. Kalau aku menikah sekarang, bagaimana dengan impian itu, Bu?”
Bu Siti mematung. Ia teringat Awono, yang suka menghabiskan waktu dengan minum teh tawar buatannya. Teh tanpa gula, tapi suaminya selalu mengatakan itu adalah teh termanis, semanis si pembuatnya. Di pelupuk matanya terbayang sesosok lelaki jangkung kurus hitam. Di gendang telinganya terdengar kembali sayup-sayup rayuan dan wejangan Awono yang selalu membekas di hati.
“Ibu kenapa?” tanya Rasti mengagetkan bu Siti.
“Ibu teringat akan bapakmu. Meskipun kerjanya serabutan, bahkan untuk makan saja sering puasa, tapi bapakmu ingin anaknya sekolah yang tinggi agar jadi orang sukses. Baiklah, Nduk. Ibu dukung semua keputusanmu. Ibu yakin kamu sudah besar, bisa memilih jalan hidup yang baik buat keluarga kita.”


#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Tidak ada komentar: