Selasa, 06 November 2018

Jumat, 02 November 2018

Jika aku yang meminta, apa kau juga akan memberikannya? Seperti yang kau lakukan saat dirinya meminta hatimu.

Selasa, 30 Oktober 2018

Memutar Waktu

Bagaimana caranya aku memutar waktu
Agar aku perbaiki memori di waktu itu
Aku telah berbuat kesalahan padamu
Aku menyakitimu

Di depan matamu aku mendua
Setan apa yang merasuk dalam tubuhku
Entahlah

Sakit di matamu sungguh terlihat nyata
Maafkan aku, Kanda...
Kini aku ingin kembali
Masih adakah aku di hati?

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Surat Cinta untuk PJ


Teruntuk PJ ODOP 6
di
Tempat Ternyaman

Salam Hangat,
Kurang lebih dua bulan kita berkenalan, meski hanya lewat tulisan tanpa saling bertatap muka. Namun, perkenalan singkat ini membuat kita saling tahu karakteristik masing-masing. Bukan hanya antara aku denganmu, tapi juga dengan anggota yang lain. Perbedaan suku, agama, dan usia tak menjadi penghalang kita untuk saling bahu membahu agar bisa menyeberangi pulau imipian.
Ketika pertama kali berkunjung ke Natuna, aku seperti masuk dalam sebuah keluarga. Ada ibu, mbak-mbak, mas-mas, dan adik-adik. Walaupun tidak ada kehadiran seorang ayah di sana, kami masih bisa menyelesaikan berbagai tantangan kehidupan. Semua tidak terlepas dari bantuan para PJ Ono Day One Post 6. Semakin banyak tantangan, semakin banyak kawan, semakin banyak pula pengalaman yang didapat.
Terima kasih atas segala dedikasimu. Bukan hal yang mudah saat kau menyempatkan waktu di antara kesibukanmu untuk membantuku yang sering menemui kesulitan. Berbagai tantangan itu sungguh luar biasa, tapi berkat motivasi dan bimbinganmu aku bisa melewatinya. Masalah hasil, semoga tetap member kebaikan untuk semuanya.
PJ ku yang baik, maaf jika ketidakpahamanku membuatmu sedikit kesal. Kalian sudah menjalankan amanat dengan sangat baik. Semoga semua kebaikan dan pengorbanan menjadi ladang pahala untukmu. Meski tak bisa membalas dengan yang nyata, semoga doa yang kupanjatkan bisa menembus ijabah-Nya. Aamiin.

Tertanda,

Imasniah

Senin, 29 Oktober 2018

Sayangku Manis

Sayangku,
Sakitmu
Penantianmu
Tangismu
Akan membawa pada senyum abadi

Jangan bersedih
Hidupmu akan manis
Semanis cokelat yang meleleh ditiup angin
Tetap tersenyum

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Aamiin

Aamiin
Kupanjatkan doa di setiap waktu
Untukku dan untukmu
Untuk keluargaku dan keluargamu

Tak ada yang lain kupinta pada-Nya
Agar segera persatukan kita
Dalam ikatan suci
Bersatu mengikat janji

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Wisata JPP

JPP (Jati Plus Perhutani) adalah salah satu tempat wisata terbaru. Lokasinya di Haurgeulis Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Dinamakan dengan Jati Plus Perhutani karena lokasi wisata tersebut menyerupai hutan dan banyak terdapat pohon jati di dalamnya.
JPP selalu ramai dikunjungi ketika hari libur, seperti hari Minggu atau hari libur nasional. Ketika libur panjang, seperti libur lebaran atau libur akhir semester, tempat ini tak pernah sepi setiap harinya. Di sana kita akan disuguhkan dengan berbagai wahana, yang semuanya bisa dijadikan sebagai tempat untuk berfoto. Mulai dari pohon jati yang berjejer, rumah pohon, papan berbentuk hati, sayap malaikat, ayunan, dsb.

Selain menyediakan spot foto yang menarik, wisata JPP juga menawarkan wahana permainan untuk anak-anak, di antaranya adalah singa depok. Singa depok atau yang biasa disebut sisingaan adalah salah satu kesenian di Jawa Barat. Ketika ada seorang anak yang akan dikhitan, hiburan di Indramayu biasanya adalah singa depok.
Di JPP Haurgeulis, anak yang ingin naik singa depok dikenakan biaya Rp25.000 untuk satu lagu. Anak-anak yang diperbolehkan naik berkisar 3-10 tahun yang tidak takut ketinggian. Ia akan dipikul dan diiringi musik live dari rombongan singa depok. Sampai lagu itu selesai, anak-anak bisa merasakan sensasi seperti naik depok sungguhan karena yang memikulnya pun orang-orang yang sudah berpengalaman. Para pemikul akan berjoget mengikuti irama musik dan lagu yang dimainkan.
Bagi anak Anda yang menggunakan pakaian biasa dan ingin menjadi seperti pengantin pada umumnya, di sana juga disediakan sewa kostum. Bukan hanya sewa kostum, tapi anak Anda juga akan dirias seperti pengantin kecil yang akan naik singa depok sungguhan. Terdapat juga penyewaan mainan mobil robot. Anak-anak di bawah umur atau yang takut ketinggian bisa bermain wahana ini dengan didampingi orang tua. Kita bisa memainkan mobil kecil dengan berbagai warna tersebut jika sudah membayar uang sewa. Banyak anak-anak yang tidak bisa atau tidak mau memainkannya, sehingga tak jarang yang menggerakkan remot mobilnya adalah para orang tua.
Selain berbagai wahana yang sudah disebutkan di atas, masih ada pula wahana lainnya, yaitu pertunjukkan berbagai macam binatang. Wahana ini bisa dijadikan sebagai wahana edukasi anak-anak agar mereka tahu berbagai jenis binatang dan melihatnya secara langsung, seperti burung hantu, kelinci, monyet, ular, dsb. Kita bisa berfoto di dalamnya. Bagi orang yang takut, bisa melihatnya dari luar karena wahana ini ditutupi dengan jaring.
Masih ada satu wahana lagi yang ditawarkan JPP, yaitu flying fox. Wahana ini diperbolehkan untuk semua orang selama ia berani dan tidak takut ketinggian. Tak terkecuali saya. Ketika berlibur ke sini, ada rasa penasaran karena belum pernah bermain flying fox sebelumnya. Dengan modal nekat, saya memberanikan diri untuk mencoba. Dimulai dengan pemasangan safety belt dan helm, saya menaiki tangga untuk sampai ke atas. Tak lama kemudian, tubuh saya meluncur. Sesampainya di bawah, saya merasakan pusing yang lumayan berat. Kepala sakit, badan pun terasa meriang, ditambah hidung yang mulai tersumbat. Inilah tanda-tanda saya demam.
Untunglah di sana terdapat warung-warung yang bukan hanya menawarkan berbagai menu makanan. Saya membeli MIXAGRIP obat anti flu, seperti demam, sakit kepala, hidung tersumbat, dan bersin-bersin. Saya langsung meminumnya. Alhamdulillah saya COCOK dan bisa menikmati perjalanan pulang dengan badan yang tetap sehat.
Dengan tiket masuk yang murah, kita bisa bermain sepuasnya di daerah wisata JPP Haurgeulis Indramayu. Bukan hanya tampilan alam yang disediakan, tetapi juga ada nilai keindahan dan pendidikan. Mari kita lestarikan budaya Indonesia.

Kamis, 25 Oktober 2018

Aku dan Kamu

Kesakitan menghentikan langkahku
Ketika kuteguhkan hati untuk menunggu
Ketika kupejamkan mata dari gelapnya sikapmu

Tuhan menitipkan rindu
Di hati kecil yang menolak penghuni baru
Meski mimpiku kini berkawan dengan sepi
Ia masih betah dengan sendiri

Masih sabar menanti rintik hujan
Menyegarkan tanah agar bau basah
Juga masih setia menunggu
Ada kata aku dan kamu

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Untuk Dicinta

Mungkin air di lautan tak akan pernah surut
Meski kau kuras ia tiap waktu
Sama halnya dengan rasaku
Tak pernah berkurang, sebutir pun tidak untukmu

Pernah kukatakan dengan lantang
Sekali hati berkata iya
Dengannya kuberikan seluruh dunia
Dan kupilih hatimu untuk dicinta

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Rabu, 24 Oktober 2018

Buku Harian 2 (Part 2)


Pikirannya berubah. Dia melepaskan semua perkiraan yang tak beralasan, dan aku menyukainya. Jalinan kasih yang pernah terputus kini terjalin kembali.
“Jujur, aku tidak bisa melupakan kenangan kita. Meski mataku berusaha tak menatap ke arahmu, namun hatiku tetap mengatur kaki ini untuk melangkah ke rumahmu. Dari kejauhan aku masih senang menikmati senyum indahmu, senyum yang tak ingin kusia-siakan, walau hanya sedetik,” katanya pada waktu itu. Tak ada jawaban lain dariku, selain kata “ya” saat ia katakana ingin kembali.
Aku sendiri pun sama, tak berniat menghilangkan wajah manis itu dari pikiran. Melihat senyumku terkembang, ia ambil selembar kertas, lalu kata-kata itu dirangkai hingga menjadi puisi paling indah di dunia.
Tak ada raut indah selain wajahmu
Tak ada senandung indah selain ucapmu
Tak ada pemandangan indah selain senyummu
Dan namamu selalu tersanjungkan di hati terdalamku
Aku yang berharap bisa memiliki
Hanya bisa berikan cinta
Namun percayalah
Suatu saat akan ada masanya untuk kita bahagia
Aku belajar terbiasa dengan perbedaan kita
Begitu juga kau
Mencoba masuk dalam duniaku dari kalangan jelata
Tapi cintamu seolah menjawab
Kita akan tetap bahagia dengan cinta
Terima kasih kekasihku
Atas cinta setulus pemberianmu
Bertahanlah selamanya denganku
Hingga dunia akan sangat terpaku
Melihatmu bersamaku

“Kita akan bahagia dengan cara kita, bukan dengan caci maki orang lain. Kita akan tunjukkan pada dunia bahwa tidak ada yang bisa jadi penghalang. Bahkan ketika bumi terbelah pun, tangan kita tetap berpegang teguh, menautkan cinta hingga ajal memisahkan.” Ia berjanji tak akan lagi terpengaruh dengan gunjingan dan cemoohan orang. Kehidupan ibarat langit dan bumi yang dikatakan orang tak lagi mengoyakkan cintanya.
Kutenggelamkan wajahku. Di pundaknya kutumpahkan segala rasa haru. Rasanya tak ingin lagi tertatihkan oleh waktu yang dahulu membela mulut-mulut tak bersekolah itu. Kupikir, apa peduli mereka? Ini kehidupan cintaku. Hanya aku yang bisa menentukan jalannya, termasuk untuk mencintai pria tak berharta seperti dia. Aku bahagia karena menjadi alasannya untuk kembali tersenyum.


#komunitasonedayonepost
#ODOP6

Selasa, 23 Oktober 2018

Pasangan


Kalian membuatku cemburu
Untuk memisahkanmu pun aku tak mampu
Ke mana-mana selalu berdua
Menjalani naik turunnya jalanan desa

Kalian pamerkan kemesraan di mataku
Aku harus apa
Hanya bisa memandang tanpa saling sapa

Baju kalian sama
Ukuran kaki pun sama
Suka duka dilalui meski dengan sederhana
Saling melindungi dari tajamnya kerikil dan batu di sana

Aku iri
Aku pun ingin punya pasangan sepertimu
Yang begitu setia di setiap waktu
Sandal jepitku

#TantanganODOP6
#onedayonepost
#odopbatch6
#fiksi

Minggu, 21 Oktober 2018

Munafik


Munafik
Hidup di tengah-tengah orang munafik
Bagai tak hidup di atas dunia
Penuh dengan bohong dan dusta
Banyak termakan omongan
Bagai hewan menjilat ludahnya sendiri
Tak tahan jika kusudah bercengkerama
Bertemu dengan para setan bermuka dua
Bosan rasanya hati dan mata ini
Lelah menyaksikan mereka mengumbar janji
Lalu… Siapa yang patut disalahkan?
Dengan bermodal mulut dan ucapan durjana
Mereka memperdaya sekitar dengan pandainya
                        Bertampang alim sok suci
                        Bedebah!
                        Tak terbersit mengerti perasaan orang lain
                        Terpikir hanya demi kepuasan
Hendak apa mereka bertingkah?
Mencari kenyamanan atau perhatian?
Muka-muka munafik itu
Yang bisa tetap sembunyikan tangan

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Aku Ingin Kamu


Ternyata…
Apa yang kuharap tak kunjung datang
Apa yang kunanti tak pernah tampak
Ia malah memalingkan wajah bukan ke arahku
Aku terpelanting jatuh
Aku menyerah…
Sinar itu kian lama kian hilang
Redup hingga mati
Jangan simpan cintamu dalam tumpukan jerami
Munculkan ia di mataku
Setelah lama kuberjalan
Tertatih menyusuri bumi
Tak ada satu pun yang kuraih
Begitu juga kau
Berpalingnya wajahmu ke sampingku
Bukan sesuatu yang ingin kulihat
Bukan…
Ini pedih yang mengiris sukma
Mengertilah…
Aku ingin kamu


#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Status


Aku tidak tahu harus menjelaskan dengan bahasa apa, agar hatiku paham bahwa hubungan kita sudah berstatus mantan. Meskipun kita sama-sama tahu, masih ada cinta di hati masing-masing. Tapi semua itu tidak berarti jika tidak ada kejelasan untuk ke depannya.
Kau tahu bagaimana aku. Ya, aku yang menginginkan untuk tinggal bersama orang tuaku jika nanti kita menikah. Alasanku sederhana, karena masih mau berbakti dan mengurus orang tua yang sedang sakit. Sedangkan kau sendiri tak mau, karena menurutmu seorang wanita harus patuh dengan suami, menuruti ke mana pun suami pergi. Lalu kuturunkan egoku. Baiklah, kita tidak tinggal di sini, tapi aku minta kita cari rumah kontrakan yang letaknya tak jauh dari orang tuaku, orang tuamu, juga tempat kerjaku. Jika ibuku membutuhkan, aku masih bisa membantunya, pikirku. Masalah pekerjaanmu, aku yakin akan ada jalan keluar.
Kau tetap menolak. Kau khawatir tidak bisa menghidupiku, karena selama ini kamu tidak menemukan pekerjaan di kampung kita. Kau memilih untuk membuka usaha di kota lain. Aku bisa apa? Aku tidak bisa memilih antara ibu denganmu. Kau juga tidak bisa memaksa. Satu minggu waktu kita berpikir, hingga keputusan itu harus kita ambil bersama.
Aku tak menyalahkanmu. Keadaan yang memaksa kita berada dalam kebimbangan dan akhirnya harus mengambil keputusan pahit. Kita sendiri pun belum siap dengan itu. Tapi mau bagaimana lagi? Jalan kita seolah tertutup dengan keegoan masing-masing.
Menyadarkan hati bukanlah hal yang mudah, terlebih tentang status yang sebenarnya tak pernah diinginkan. Jujur, kamu masih hidup di hatiku. Entah sampai kapan, aku pun tak tahu. Hanya lewat suara kita bisa bertatap muka. Pembahasan antara kita pun sama, masih berharap waktu akan mengubah keadaan. Kau yakinkan aku bahwa jodoh adalah rahasia. Mungkin saja besok atau lusa di antara kita ada yang mengalah, entah aku atau kamu. Atau mungkin takdir yang akan berbicara, kamu menemukan jalan mencari rezeki di kampung halaman sehingga bisa tinggal di sini. Harapan demi harapan kita rangkai bersama. Mantan hanya status hubungan, sedangkan hati masih saling sayang.

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Sabtu, 20 Oktober 2018

Ayah... Ibu...


Terima kasih atas darah yang mengalir dalam nadiku
Atas detak dalam jantungku

Fajar seketika ucapkan selamat pagi untukmu
Ketika Subuh kau ambil seragam
Membawa alat-alat kerja
Hingga terik di sawah menyengat punggungmu
Sedang aku?
Masih asyik terbaring di atas kasur empuk

Menjelang senja kau baru kembali
Dengan semangat penuh tanpa keluh
Lalu apa yang kuberikan?
Hanya luka dan elusan dada

Namun entah kenapa sesal tak pernah tertanam di dadamu
Maafkan aku… maafkan aku…
Ayah… Ibu…


#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Rabu, 17 Oktober 2018

Senyum Abadi

Melatih hati untuk sendiri
Bersabarlah
Keyakinanmu akan berbuah manis
Seperti kurma ranum
Wanginya berbaur dengan angin dingin

Sayangku,
Penantianmu
Sakitmu
Tangismu
Akan mengantarmu pada senyum abadi

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Selasa, 16 Oktober 2018

Kisah Pulpen Hitam


Kepada Zainal, Rahmat menitipkan surat izin. Hari ini Rahmat tidak masuk sekolah karena diare. Sampai tadi siang, sudah delapan kali Rahmat harus bolak-balik kamar mandi. Mungkin akibat kebanyakan makan seblak pedas setelah pulang sekolah kemarin.
Keesokan paginya, kelas Rahmat riuh. Terdengar kabar bahwa hari ini akan ada ulangan Matematika dadakan. Sampai tiba waktunya, pak Ahmad datang. Dengan tampilan kumis lebat dan suara berat, pak Ahmad merupakan guru yang paling ditakuti siswa, terutama anak-anak nakal macam Zainal.
“Pulpenku mana?” wajah Rahmat terlihat bingung, mencari-cari pulpen hitamnya.
Seluruh isi tas dibongkar, kolong meja pun ikut jadi sasaran. Sementara itu, di samping Rahmat, Zainal terlihat sangat tenang.
“Selain kertas dan pulpen, tidak ada benda lain di atas meja,” tegas pak Ahmad hendak memulai ulangan.
Rahmat semakin tegang. Keringat dinginnya bercucuran. Benar dugaannya, pak Ahmad menyuruhnya berdiri di depan kelas dengan kedua tangan memegang daun telinga.
Rahmat menggerutu dalam hati, “Sial.”
Bergaya seolah sedang menghitung angka, Zainal asyik mencoret-coretkan pulpen hitamnya. Di antara tinta-tinta yang keluar, ada suara lirih hampir tak terdengar.
“Kamu terlihat murung dan sedih. Kenapa?” tanya kertas putih di hadapan pulpen hitam.
“Aku sedih melihat pemilikku. Lihat, dia dihukum atas kesalahan yang tidak dilakukannya,” jawab pulpen hitam yang berada di tangan Zainal.
“Maksudmu?” tanya kertas putih kembali.
“Jika aku tak diambil oleh orang yang memegangku sekarang, soal-soal itu pasti sudah ditaklukkan oleh pemilikku. Di tangannya, aku bisa menggoyang-goyangkan tubuh kecilku, memecahkan angka dan deretan huruf dengan lincah. Aku pun bisa dengan cepat memenuhi kertas ulangan dengan isian yang tepat karena setiap malam pemilikku selalu mengajakku untuk bersafari di buku-buku latihannya. Tidak seperti orang yang memegangku saat ini. Aku diambilnya tanpa sepengetahuan pemilikku. Ia menghabiskan tintaku hanya untuk membuat gambar pesawat, sedangkan kau yang seharusnya diisi dengan jawaban soal ulangan, baru berisi identitasnya saja,” jawab pulpen hitam panjang lebar.
“Kemarin aku tak melihatmu di meja ini,” kata kertas putih.
“Iya. Pemilikku sakit. Dengan tintaku juga ia menulis surat izin kemarin. Mungkin itu adalah masa terakhir kami bersama karena kini aku sudah berpindah tangan.”
Pulpen hitam kembali muram. Tiba-tiba terdengar suara dari dalam kolong meja Zainal. Sebuah buku bersampul biru berkata, “Lihat aku! Tubuhku masih putih bersih, karena ia jarang mengisiku dengan catatan ataupun latihan. Tintamu juga akan awet jika di tangannya.”
“Aku lebih suka dengan pemilikku yang dulu, dengannya hidupku jadi bermanfaat. Aku bahagia walaupun harus kehabisan tinta,” jawab pulpen hitam.
Pulpen hitam sebenarnya ingin melepaskan diri dan berlari ke pemiliknya, tetapi ia tidak mempunyai kekuatan. Ia menutup mata, pasrah dengan keadaan, setidaknya sampai jam ulangan Matematika selesai.


#TantanganODOP6
#onedayonepost
#odopbatch6
#fiksi

Senin, 15 Oktober 2018

Rindu dalam Puisiku

Kau tikung aku
Lalu kau rebut kekasihku
Hingga aku terbunuh
Oleh rindu yang begitu menderu

Aroma tubuhnya masih terendus tajam
Oleh hidung yang pernah dicubitnya ini
Sedang kau tak tahu bagaimana rasanya tertusuk rindu
Merindukan pertemuan sejak dua bulan lalu

Masih teringat
Ia tumpahkan agar jelly di meja tua
Lalu kami berebut senja
Dan rindu menjadi puisi lama

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Biografi Ayah Hebat


Namanya Kasarah, biasa dipanggil Sarah. Terdengar seperti nama perempuan, tapi ia adalah seorang laki-laki. Kasarah lahir di Indramayu, 18 Maret 1957. Di usianya yang menginjak 61 tahun, ia sudah dikaruniai dua orang anak. Anak pertamanya bernama Tarinah yang lahir pada 14 Juni 1986, sedangkan anak keduanya bernama Masniah yang lahir pada 9 September 1990.
Kasarah menikah dengan Rustani yang lahir pada tanggal 7 Mei 1965. Ia tidak mengenyam pendidikan sama sekali, sehingga susah untuk mendapatkan pekerjaan. Untuk menghidupi keluarganya, berbagai profesi pernah ia jalani. Kasarah pernah merantau di ibu kota dan menjadi tukang becak. Pulang hanya dua bulan sekali, bahkan terkadang lebaran pun hanya pulang sehari.
Beberapa tahun kemudian, ia kembali ke Indramayu dan menjadi tukang pembuat batu bata. Ia menyewa tanah di pinggiran sawah sebagai lahan pembuatan batu bata, yang kemudian ia jual sesuai dengan kesepakatan harga. Seharian penuh waktu ia habiskan di lahan batanya, karena proses pembuatan yang memerlukan pengawasan. Pulang ke rumah hanya untuk makan, mandi, dan beribadah. Di hari Minggu, terkadang ia membawa kedua putrinya ke lahan untuk bermain dan menghabiskan waktu libur.
Semakin beriringnya waktu, anak-anaknya semakin tumbuh besar. Kebutuhan hidup pun semakin meningkat. Hal tersebut yang mendorongnya untuk memutar otak. Dari hasil menjual batu bata, ia bisa menyewa sawah yang kemudian digarapnya sendiri. Perjuangan tanpa lelahnya berbuah manis. Ia mampu membeli sepetak sawah dan menjadi mata pencahariannya yang utama.
Menjadi petani sawah tidak membuat Sarah puas. Ia tetap menggarap sawah sambil mencari pekerjaan yang lain. Sampai ia bekerja sebagai tukang kuli di sebuah Koperasi Unit Desa di desa Patrol. Badannya memang kurus kecil, tetapi Sarah tidak pernah mengeluh. Cita-citanya hanya satu, menyekolahkan kedua anaknya agar bisa menjadi orang sukses. Ia berharap mereka tidak menjadi sepertinya yang harus bekerja dengan otot dan menghadapi teriknya matahari.
Pengorbanan Sarah tak sia-sia. Dengan berbagai kekurangan dan cemoohan dari para tetangga, kedua putrinya kuliah dan lulus di tahun yang sama, yakni pada tahun 2013. Kini putrid pertamanya sudah bekerja sebagai bidan di Puskesmas Sukra, sedangkan putrid keduanya bekerja sebagai guru di SMK Negeri 1 Anjatan.



#tantanganODOP5
#onedayonepost
#odopbatch6
#nonfiksi

Minggu, 14 Oktober 2018

Diaryku


Diaryku, bolehkah aku meneteskan air mata di kertasmu? Ujian ini begitu berat, sepertinya aku tak kuat untuk menanggungnya. Ibuku adalah orang yang paling khawatir saat aku sakit, orang yang paling bahagia saat aku lulus dengan nilai cumlaude, dia pula yang tak pernah mendengar keluh kesah dan rengek tangisanku, bahkan sampai sekarang.
Ibuku tahu aku mencintai si dia, dia pun mencintaiku. Ibu berikan restu saat ia menyatakan ingin melamarku di malam itu. Kau tahu bagaimana perasaanku waktu itu? Tidak ada kata lain selain bahagia. Dunia dan seisinya ini seolah menjadi milikku. Tapi kau tahu setelahnya? Si dia tiba-tiba goyah, tak seyakin saat menyatakan cinta. Dengan alasan belum siap, masih banyak tanggungan, dan berbagai macam alasan lain yang sulit aku pahami. Tapi atas dasar cinta, aku menerima saat ia meminta waktu dua tahun.
Semuanya tak berjalan mulus. Kupikir tak ada lagi masalah setelah aku bersedia menunda pernikahan selama dua tahun. Tapi takdir memang tak bisa dibelokkan. Pendirian ibu berubah saat ada pria lain datang membawa lamaran untukku.
“Kamu mau menunggu sampai dua tahun? Apa kamu yakin jika dia akan menikahimu?” tanya ibuku. Kujawab “iya” pada waktu itu. Hatiku masih yakin untuk tetap menunggu si dia yang sedang mengumpulkan persipan pernikahan. Waktu terus berjalan. Tiba-tiba si dia mengatakan putus. Alasannya sepele, karena aku tak mau tinggal bersama orang tuanya jika nanti kami menikah. Entahlah siapa yang egois, aku ataukah dia?
Aku belum siap untuk kehilangan hati. Kami memang putus, tapi kata cinta masih menjadi perbincangan kami saat menyambung suara via telepon. Masih ada harapan untuk bersama, hanya menunggu siapa yang akan meruntuhkan keegoannya. Sampai ibuku bertanya kembali, “Kamu masih mau menunggunya? Dua tahun itu bukan waktu yang sebentar. Ibu tahu kalian saling mencintai, tapi kalau dia tidak bisa memberimu kepastian, buat apa? Pernikahan itu bukan perkara keterpaksaan, tapi harus saling menerima satu sama lain. Sekarang pilihan ada di tanganmu. Kamu masih mau menunggu yang tidak pasti atau orang yang sekarang nyata di depan mata?”
Diaryku, kini kupasrahkan semua pada sang waktu. Karena aku yakin, kebahagiaan akan menghampiri hidupku. Entah si dia yang akan kembali memintaku menjadi pasangan hidupnya, ataukah ada orang lain yang akan menjadi penghuni baru di hatiku.


#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Impian Rasti


Sekeranjang sayuran dibawanya. Gadis itu tersenyum saat para tetangga menyapa, menampakkan dua gigi gingsul sehingga terlihat semakin manis. Banyak pemuda yang tergila-gila padanya, karena bukan hanya punya wajah yang ayu, sikapnya pun santun dan sederhana. Sudah banyak lamaran yang datang kepadanya, namun tak ada satu pun yang diterima. Sesampainya dari pasar, Rasti kaget karena di rumahnya sedang ada tamu. Pak Sanif, sahabat almarhum ayahnya tengah berbicara dengan bu Siti, ibu Rasti.
“Aku belum ingin menikah, Bu,” kata Rasti kepada ibunya setelah pak Sanif berpamitan.
“Sudah sebelas laki-laki yang datang melamarmu, dan semuanya ditolak. Sekarang ada pak Sanif datang melamar buat anaknya, moso’ harus Ibu tolak lagi, Nduk?” tanya bu Siti.
“Aku masih muda, Bu. Masih banyak impian yang harus aku kejar,” jawab Rasti.
“Aldo itu anak yang baik, sopan, dan sudah punya pekerjaan. Kalian juga sudah kenal dari kecil. Kalau setiap lamaran yang datang ditolak, Ibu takut ndak ada lagi laki-laki yang mau menikahi kamu.”
“Aku masih punya cita-cita ingin kuliah, Bu. Sebelum meninggal, bapak ingin melihat aku kuliah di kota. Belajar di gedung tinggi sampai aku dapat nilai yang tinggi juga. Walaupun bapak sudah tidak bisa melihatku lagi, tapi aku yakin bapak bahagia kalau aku bisa kuliah dan jadi seorang dokter. Kalau aku menikah sekarang, bagaimana dengan impian itu, Bu?”
Bu Siti mematung. Ia teringat Awono, yang suka menghabiskan waktu dengan minum teh tawar buatannya. Teh tanpa gula, tapi suaminya selalu mengatakan itu adalah teh termanis, semanis si pembuatnya. Di pelupuk matanya terbayang sesosok lelaki jangkung kurus hitam. Di gendang telinganya terdengar kembali sayup-sayup rayuan dan wejangan Awono yang selalu membekas di hati.
“Ibu kenapa?” tanya Rasti mengagetkan bu Siti.
“Ibu teringat akan bapakmu. Meskipun kerjanya serabutan, bahkan untuk makan saja sering puasa, tapi bapakmu ingin anaknya sekolah yang tinggi agar jadi orang sukses. Baiklah, Nduk. Ibu dukung semua keputusanmu. Ibu yakin kamu sudah besar, bisa memilih jalan hidup yang baik buat keluarga kita.”


#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Kamis, 11 Oktober 2018

Maafkan Aku


Maafkan aku…
Lancang mencintaimu tanpa izin
Diam-diam aku berkhayal dalam malam
Kau malu-malu menyanjungku di atas pelaminan
Saat pandangku tak sengaja menabrak matamu
Saat itu pula hatiku tak mampu berkata apa
Darahku seolah beku tak mengalir
Harus kuapakan hati yang terlanjur mencintaimu ini?
Ajarkan aku bagaimana caranya
Tuk bisa melupakan senyum santunmu
Lembut bicaramu, sederhana caramu
Karena kutahu hatimu bukan untukku


#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Priaku

Priaku
Jadikan aku wanitamu
Tak akan kukecewakanmu
Percayalah

Priaku
Jangan sakitiku
Dengan sikap tak acuhmu
Dengarlah pintaku

Priaku
Bangunkan aku istanamu
Dengan ornamen-ornamen biru
Warna kesukaanku

Priaku
Jadikan aku ratumu
Tak akan kutinggalkanmu
Karena kaulah priaku

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Tuna Cinta


Tuntun langkah kaki mencari penyedia cinta
Cinta tak memandang a atau b
Aku tak ingin menjadi tuna cinta
Tak mau menjadi buta tentang arah cinta

Mungkin hanya waktu yang kan bicara
Untukku temukan tempat penuh cinta

Namun tak pernah kuberhenti berjalan
Menyusuri sekitar di atas hamparan
Agar kutemukan makna tulusnya cinta
Hingga aku tak lagi menyandang “tuna cinta”



#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Selasa, 09 Oktober 2018

Aku Mencintaiku


Aku mencintaimu
Karena kau ciptakan kenangan manis kala itu
Di gubuk tua
Kita nantikan hujan mereda
Aku mencintaimu
Karena kau puisikan nada-nada syahdu
Di taman kota
Kita dendangkan lagu cinta
Aku berhenti mencintaimu
Karena kau inginkan mahkotaku
Dan aku rela kehilanganmu
Karena aku mencintai diriku
Aku berhenti mencintaimu
Karena kau inginkan nafsumu
Dan aku rela meninggalkanmu
Karena aku mencintai diriku



#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

CIMANUKKU


Sungai menghidupiku
Cimanukku sayang
Sebagai hadiah dari-Nya
Sumber rezeki untuk kita
Kehidupan anak Adam di Indramayu tercinta

Bahumu memberiku tempat tinggal
Sepanjang tanganmu mengailkan banyak ikan
Darimu kutemukan sumber kehidupan
Tanpamu dari mana aku makan

Sungaiku mengalir
Siapakah yang menikmati
Aku, kamu, dia
Kami, kita, mereka

Mengalirlah sungaiku
Sampai kelak anak dan cucu
Terima kasih dariku
Untukmu,Cimanukku


#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Minggu, 07 Oktober 2018

Syurgamu, Syurgaku


Saat-saat itu masih kunanti, selalu kunanti
Dalam ruang tak begitu luas
Janji terukir bersama

Kuakui hati ini tak sabar menunggu
Saat-saat indah antara kau dan aku
Andai tak sempat saat itu datang
Jangan ungkap tabir kelam yang kan datang

Aku masih sabar untukmu
Ketika ijab qabul berkumandang
Kau menyerahkan hidup dan mati untukku

Terpasang cincin emas berkilau cinta
Janur melambai memberi salam bahagia
Saat itu kau dan aku menjadi satu
Satu rasa, satu jiwa

Hatiku adalah hatimu
Ragamu adalah ragaku
Bahagiaku adalah bahagiamu
Syurgamu adalah syurgaku



#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Buku Harian 3


Mematikan rasa itu bukan hal yang mudah. Saat hati masih berharap pada sosok Lucky, aku dihadapkan pada pilihan lain. Aku teringat pada kalimatnya di waktu itu, saat kami saling bertatap namun dihiasi dengan mata berkaca-kaca.
“Jika nanti ada seorang laki-laki yang bisa membangunkan istana impianmu, aku menerimanya. Maafkan aku yang tak bisa mewujudkan keinginanmu.”
“Aku bukanlah orang yang mudah jatuh cinta, tapi kepadamu cinta itu begitu mudah hadir dan tumbuh. Aku tak mau yang lain, aku cuma mau kamu yang menjadi pasangan hidupku. Bukankah itu rencana kita dari beberapa bulan lalu?” tanyaku.
“Keadaannya berbeda, Nilam. Untuk saat ini aku masih punya tanggung jawab, yaitu keluargaku. Aku anak lelaki satu-satunya. Kalau bukan aku, siapa lagi yang akan mencari nafkah untuk mereka, sedangkan bapakku, aku pun tak tahu dia di mana.”
Lucky menambahkan, “Aku sendiri berat untuk melepasmu. Sungguh, aku tak pernah menemukan, dan mungkin tidak akan menemukan lagi wanita sepertimu. Kau tak pernah menuntut apapun, menerimaku apa adanya, selalu menjadi penghibur di saat aku jatuh terpuruk. Kau wanita yang baik, aku yakin hidupmu akan disandingkan dengan orang baik pula. Jika memang berjodoh, pasti nanti akan ada jalan untuk kita bersama, mungkin, besok, lusa, atau kapanpun. Itu pun kalau kau masih sendiri saat aku kembali dari negeri orang.”
Tak berselang lama, ada lamaran datang. Kawan ibu melamarku untuk anaknya, Ahmad. Mungkin inilah jawaban sang waktu atas segala tanya.
“Kau dan Lucky memang saling mencintai. Tapi hidup itu rasional, Nak. Kamu perempuan, sedangkan Lucky tidak bisa memberi kepastian dalam waktu dekat. Ingat usiamu, Nilam. Mau sampai kapan kau akan menunggunya? Bukankah dia juga yang mengatakan akan menerima jika ada lelaki yang datang kepadamu? Lalu apa lagi yang kamu pikirkan? Ini pasti berat, jadi pertimbangkanlah. Ini hidupmu, kau pula yang harus mengambil keputusan.”
Apakah aku berkhianat jika menerima Ahmad? Kupikir tidak, meski hati masih meyakinkan bahwa aku akan bertakdir dengan Lucky. Inilah jalan yang kupilih, mengisi ruang dengan hati yang baru.


#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Sabtu, 06 Oktober 2018

Sajak Berpuisi

Kepada angin ingin kukabarkan
Ada gelisah mendera
Tapi ini bukan rindu

Jurang pemisah kian tampak di mata
Risau pun terus melanda
Dia ataukah kamu?

Sajak puisiku merana
Hati ingin bersamamu
Namun jarak tak mungkin bertamu

Sajakku berpuisi mesra
Dunia memihak padanya
Sayang, ia bukanlah kamu

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Kamis, 04 Oktober 2018

INDAH


Lelaki beristri itu berjalan dengan gagah, ia melewati kerumunan anak kecil yang tengah bermain gundu di gang sempit. Ibu-ibu kompleks enggan untuk menggodanya, bahkan menyapa pun tidak. Sambil bersiul kecil, sampailah ia di sebuah rumah minimalis bercat dinding hijau muda. Di depan teras, istrinya tengah duduk di atas kursi rotan. Suwanto, lelaki berjenggot itu lalu mendekati istrinya.
“Apa tidak ada lagi yang bisa kaulakukan selain berdiam diri sepanjang hari di rotan tua itu?” tanya Suwanto setelah mempertemukan bokongnya dengan kursi rotan di sebelah Marni.
“Apa harus aku jawab setelah pertanyaan itu selalu kaulontarkan setiap pagi?” Marni kembali bertanya.
“Aku bosan, Marni. Lihatlah keadaanmu sekarang. Badan tak segar, mata cekung, rambut berantakan, bahkan secangkir kopi atau teh pun tak pernah ada untukku. Ingat, Marni. Masih ada aku yang harus kauurus.”
“Kau sudah tua dan bisa mengurus kebutuhanmu sendiri. Tak seperti Indahku yang malang, dia masih terlalu kecil untuk merasakan kepedihan. Kenapa tak kaubunuh saja aku, Wanto? Aku pun bosan hidup berpuluh-puluh tahun dengan berpura-pura tidak ada rasa bersalah. Aku mau mati saja dan menyusul Indah. Pasti dia sudah besar dan menjadi gadis yang cantik di sana. Kulitnya putih mewarisi kulitku, rambutnya hitam lurus, dan hidungnya mancung mirip hidungmu.” Marni tersenyum tipis, sedangkan Suwanto hanya terdiam sambil menatap tingkah istri tercintanya.
“Kau masih ingat? Saat suaranya pertama kali kita dengar, kita menangis menyambutnya dalam pangkuan. Bayi yang sangat cantik, kata suster waktu itu. Itu air mata bahagia, tidak seperti satu tahun kemudian saat kita kembali menangis bersama untuk kedua kalinya. Indah merintih kesakitan, sampai suaranya pun hampir tak terdengar. Ia ingin menjerit minta tangan-tangan dokter itu memeriksanya. Tapi apa yang terjadi? Sungguh tak habis kupikir, mereka sudah cuci tangan sebelum menyentuh putri kecil kita. Inikah keadilan yang harus kita terima sebab kita orang tak terbiaya?”
“Sudahlah, Marni. Kejadian itu sudah dua puluh tahun berlalu. Indah pun tak akan suka melihatmu terus mengutuk takdir seperti ini. Kau tahu, semua tetangga memandang miring tentangmu. Dipikirnya kau sudah tak waras. Aku sedih mendengarnya, Marni. Kumohon, sadarlah dan terimalah kenyataan ini dengan ikhlas. Demi aku, juga demi Indah,” kata Suwanto dengan mata berkaca-kaca.
Marni tetap bergeming. Dengan mata kosong, ia berdiri dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, meninggalkan Suwanto yang mengusap air mata. Sebagai seorang ayah yang kehilangan putri semata wayangnya, Suwanto merasakan hal yang sama. Namun, ia menyimpan rasa sedihnya sendiri, membiarkan Indah berlalu dengan kenangannya.

#TantanganODOP4
#onedayonepost
#odopbatch6
#fiksi

Kisah sang Putri

Untuk buah hatiku, tenanglah sebentar
Aku ingin membagi kisah zaman dahulu
Kisah seorang putri nan jelita
Banyak-banyak disukai rakyatnya

Ia bertemu sang pengembara di suatu waktu
Dari kalangan tak berharta
Lalu mereka saling menjatuhkan hati
Berjanji sehidup dan semati

Raja menentangnya
Tak merestui cinta sang putri kepada sang lelaki
Betapa sedih hati putri
Hingga ia memilih tuk mengakhiri

Sang lelaki menyendiri
Meratapi kematian sang kekasih
Lambat laun tubuhnya semakin mengurus
Karena derita batin merindu tak bertepi

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Selasa, 02 Oktober 2018

Hanif Alfian

Kini kau bagai kalimat aktif intransitif
Tanpa objek pun ia bisa tetap tak pasif
Sama halnya dengan dirimu, Hanif
Ah... sungguh kau terlalu sensitif

Aku tak pantas kau cemburui
Kemarin kau melihat seorang lelaki
Yang memegang tanganku saat jalan kaki
Tapi bagiku hanya kau pujaan hati

Bukan dia, Hanif Alfian...
Tapi waktu yang akan menjelaskan
Dengannya hanya cinta sepintas jalan
Denganmulah aku hayalkan kebersamaan

Sanjunglah kembali untuk cinta nyata
Bersama kan kita tepiskan segala rasa duka
Yang terkadang kecut ibarat cuka
Rumah bahagia telah menanti kita berdua

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Senin, 01 Oktober 2018

Baiklah

Aku gagal
Kau sama sekali tak menoleh saat aku memanggil
Baiklah.

Lampu neon itu menatap sebal padaku
Kenapa tak kupecahkan saja ia
Agar kertas puisi itu tak lagi menjadi lagu pilu
Baiklah.

Kepada rumput aku bicara
Bahwa tak ada lagi cinta Rama dan Sinta
Kenapa mereka masih saja percaya
Baiklah.

Tentang hati yang kisruh
Kau sama sekali tak berbalik saat aku memintamu berlabuh
Baiklah.

Aku pahami soal ini
Soal materi

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Minggu, 30 September 2018

MAR


“Keterlaluan bapakmu itu! Anak sudah besar, biaya hidup makin bertambah, bapakmu kerjanya cuma keluyuran. Boro-boro cari kerjaan, malah nambah beban. Awas saja kalau dia pulang tidak membawa apa-apa, akan ada sapu yang melayang,” celoteh ibu sambil mengacungkan sapu rombeng ke arah pintu.
Seperti biasanya, malam ini terjadi keributan di gubuk tua kami. Kekacauan itu sudah menjadi menu makan malam keluarga, aku yang masih duduk di kelas satu SD pun mulai terbiasa.
“Aku masuk kamar dulu ya, Bu. Ada PR yang belum dikerjakan,” kataku sambil membuka pintu kamar.
“Belajar yang benar, jangan seperti bapakmu,” jawab ibu dengan nada kesal.
Tak berapa lama, bapak datang. Pintu reot terbuka, menampakkan wajah tanpa berdosa bapak. Seperti harimau bertemu babi hutan, tanpa menunggu basa-basi omelan ibu langsung meluncur. Di ruang tamu beralaskan tanah, tak ada jawaban kasar sedikit pun yang keluar dari mulut bapak. Itu yang kudengar dari kamar.
“Bapak dari mana saja? Berangkat dari pagi sampai petang, tapi pulang tidak membawa uang sepeser pun. Mau makan apa kita, Pak? Beras sudah habis, belum lagi biaya sekolah Yani. Bapak coba cari kerjaan, biar kehidupan kita tidak sengsara seperti sekarang ini. Aku capek hati, Pak… dari awal menikah sampai sudah punya buntut masih saja hidup serba kekurangan.”
“Marleni, istriku, seharian ini Bapak cari kerja. Tapi mungkin belum rezeki kita…” jawab bapak.
“Tiap hari alasannya cari kerja, tapi mana hasilnya? Jangan-jangan benar apa yang dibilang tetangga, Bapak sering nongkrong di  warung pojok mbak Ratih. Ngaku, Pak…”
“Kamu jangan percaya omongan orang lain. Bisa jadi mereka iri sama kita.”
“Terus wanita itu siapa?” suara ibu terdengar semakin meninggi.
“Wanita yang mana?” tanya bapak tetap dengan suara lembut.
“Wanita yang katanya suka nongkrong sama Bapak itu,” jawab ibu ketus.
“Masih katanya kan? Sudahlah, Mar. Percayalah, suamimu ini laki-laki yang setia dan bertanggung jawab.”
Tutur lembut bapak membuat ibu sedikit tenang, aku pun akhirnya bisa tidur lelap setelah PR selesai dikerjakan. Keesokan paginya, aku dibonceng ibu ke sekolah. Dengan mengayuh sepeda, kami menyusuri pematang sawah yang terhampar luas.
Aku baru ingat, botol minum yang ibu siapkan belum dimasukkan ke dalam tas. Karena sudah di tengah jalan, ibu memutuskan untuk membeli air mineral di warung. Sampailah kami di sebuah warung yang tak jauh dari pertigaan jalan. Aku yang menunggu di bawah pohon kaget mendengar jerit dan tangisan ibu. Di sana sudah ada bapak, ibu, mbak Ratih si penjaga warung, dan seorang wanita. Aku mengenalnya, Bi Marlina, adik kandung ibu. Rupanya itulah alasan bapak sering pergi pagi, pulang malam, dan malas mencari uang. Kulihat air mata ibu yang terus mengalir, lalu kuarahkan pandangan pada bapak. Tangannya masih menggandeng tangan bi Marlina, sedangkan bi Marlina sendiri terlihat malu dan berusaha menyembunyikan bibir merahnya.

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Sabtu, 29 September 2018

Aku Malu pada-Mu


Dalam kamar tak ada sapaan untuk-Mu
Dalam hampa tak ada alunan ayat-Mu
Lama sajadah terhampar sepi
Bilik kamarku merintih pedih
Karena kesombongaku yang lupa diri

Ketidakpedulian angkara pada surga
Merajakan hati pada murka
Tangan tak lagi memirit butir-butir kecil yang berkalung
Neraka seolah menghibur

Selang dosa memasangkan pada dada
Menghempas perih mengutuk yang menggoda
Setan bermuka dua

Adakah kata sesal masih berguna
Sedang pori-pori jiwa hitam jelaga nista
AKU MALU PADA-MU

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Jumat, 28 September 2018

Ketika R Menduri Hati

Ini bukan salahmu, kau mengikuti garis takdir hidupmu saja. Kau hanya mengiyakan saat Dia mendatangkannya. Ini bukan salahmu, kau hanya menjalani alur langit dan bumi, mengalirkan syair tentang segi tiga. Ini bukan salahmu saat orang memandang surat undangan dalam genggamanku. Ini bukan salahmu saat foto di undangan itu adalah fotomu dan bidadarimu. Ini salahku, pandai menyimpan rasa, takut menumbuhkan cinta, aku pula yang tersiksa.
"Kemarin aku bertemu dengannya," kata Ane tadi pagi.
"Apa dia mengatakan sesuatu?" tanyaku.
“Dia hanya menitipkan surat undangan itu."
Kembali kutatap surat yang masih terlipat di telapak tanganku, warna merah. Seperti ada api di dalamnya mataku, semakin lama api itu kian membakar. Tak tahan, kutumpahkan saja semuanya. Sedang Ane tak mampu berbuat apapun.
Bangku di taman itu menjadi saksi bisu betapa sesaknya rasa ini. Sangat sakit. Tangan mulus Ane perlahan merangkul pundak yang tak sadar kugetarkan. Di pundak Anelah aku memuaskan rasa ingin menjerit, menangis, dan menghilang. Teriakan yang tak terdengar, hanya tersimpan dalam hati.
Sembilan bulan yang lalu ia dan aku bertemu untuk pertama kalinya di acara pertunangan Ane. Setelah acara selesai, Ane memperkenalkan seorang laki-laki. Sosok pendiam, ramah, tapi mampu menarik perhatianku.
“Siapa tahu kalian berjodoh," kata Ane setengah berbisik jahil.
"Regi," suara lembutnya terdengar saat pertama kali ia menyebutkan nama.
“Nurma," jawabku.
Januari 2017 pertama kalinya tangan kami berjabat. Tak butuh waktu lama untuk aku dan Regi saling mengenal. Saling bertukar nomor kontak, menikmati makan malam di pinggir jalan, menghabiskan waktu untuk berbagi cerita.
Mei 2017 aku kembali bertemu dengan Ane. Sejak dipindahkan ke kantor utama, Ane memilih pindah tempat tinggal agar lebih dekat dengan tempat kerjanya.
"Bagaimana kabarmu, Nur?"
"Seperti yang kau lihat."
“Lalu bagaimana dengan Regi? Cieee...." Ane tertawa kecil.
"Maksudmu apa, Ne?"
“Kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu. Lihat, pipimu memerah. Wah, apa kalian sudah pacaran? Kenapa tidak memberi tahu aku? Jahat kamu, Nur. Apa kau sudah tidak menganggapku sahabat?"
Pipiku memerah? Benarkah? Kulirik Ane. Bibirnya terkatup rapat, agak dimonyongkan sedikit rupanya.
“Sudahlah, Ne. Jangan goda aku terus.”
"Tapi aku juga ingin tahu, Nur. Kalian sudah kenal baik, pasti sudah ada perkembangan ke arah yang lebih serius kan? Pacaran kek, tunangan, atau langsung menikah. Kamu suka Regi, kan?" kujawab pertanyaan Ane dengan anggukan malu-malu. Anggukan kepalaku dibalas dengan senyum ringan dihiasi lesung pipit di pipinya.
"Aku sayang kamu, Nur. Aku ingin melihatmu bahagia, dan aku yakin Regilah orangnya. Orang yang selalu bisa membuatmu tersenyum dan tertawa.”
Suasana saat itu sungguh membahagiakan, tak seperti yang sekarang.
"Regi akan menikah. Bukan dengan aku, tapi dengan..." mulutku tertutup, lalu Ane menenangkan.
"Aku pun tak habis pikir, kenapa ceritanya seperti ini. Maafkan aku, Nur...”
"Tidak ada yang bisa disalahkan, Ne. Mungkin Ulfa adalah pilihan Regi. Aku saja yang bodoh, terlalu yakin dengan sikap manisnya. Tanpa aku sadari bahwa ada cinta di antara mereka."
"Tapi Ulfa sahabatmu, dan dia tahu antara kamu dan Regi..." Aku tersenyum, menahan sesak yang menyelimuti hati.

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Kamis, 27 September 2018

Masih tentang Rindu

Jika kau merindu
Jangan cari aku di dermaga
Karena aku tak lagi di sana

Jika kau ingin bertemu
Datanglah ke rumah
Tentu kau masih ingat jalannya

Beginilah arti merindu
Rinduku juga rindumu
Sayangnya tak mungkin bersatu

Beginikah rasa merindu
Yang tak bertemu di muara satu
Tapi tetap saja merindu

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Rabu, 26 September 2018

Pengalaman Hidup

Setiap orang pasti punya kenangan dalam hidupnya, baik kenangan manis, pahit, ataupun konyol. Begitu pun aku. Dari masa kanak-kanak hingga berusia kepala dua, tak sedikit kejadian yang bisa dijadikan pengalaman hidup. Teringat pada masa kanak-kanak. Saat aku duduk di bangku kelas empat SD, ayah dan ibuku memutuskan untuk berpisah. Bukan hanya pisah rumah, tapi juga pisah dalam status pernikahan. Waktu itu aku tak memahami alasannya kenapa, karena setahuku tak pernah ada keributan antara ayah dan ibu. Yang aku ingat pada malam itu ayah memeluk dan menciumku sambil menangis. Dengan lirih ia berkata, "Kamu ikut Ayah ya, Nak...." Saat itulah aku mengerti bahwa akan ada jarak di antara kami. Dalam hati aku bertanya, kenapa bukan kakakku saja yang harus memilih?
Ayah selalu mendatangiku di sekolah setiap pagi. Ia memberiku uang, tanpa ketinggalan ciuman hangat di kening dan pipi. Sama sekali aku tidak menyukai keadaan ini. Setiap ayah pergi, aku langsung berlari ke kelas dan menangis. Teman-temanku pun heran, menanyakan apa yang terjadi. Tapi alhamdulillah, beberapa bulan berikutnya orang tuaku rujuk kembali.
Masih di masa Sekolah Dasar. Waktu itu musim hujan, jalan dari sekolah ke rumahku banjir. Saat pulang sekolah, aku kebelet pipis. Kupikir hanya satu kilometer, pasti bisa kutahan sampai rumah. Dengan santai aku dan teman-teman berjalan kaki menyusuri jalan yang sudah digenangi air karena diguyur hujan sejak pagi. Sampai di tengah perjalanan, hujan kembali turun. Jiwa anak-anak kami muncul dan mengajak untuk bermain air hujan. Alhasil, baju kami basah dari atas sampai bawah.
Dari tadi menahan pipis, ditambah kena air hujan yang menambah dingin, tak kuatlah aku. Tanpa sepengetahuan teman-teman, akhirnya mengalirlah air dari bendungan yang bongkah. Mereka tidak mungkin curiga, karena air itu mengalir bersamaan dengan derasnya air hujan yang membasahi seragam cokelatku. Ah, malu rasanya jika kuceritakan. Pengalaman konyolku ini tidak pernah aku ceritakan kepada siapa pun sebelumnya. Sesampainya di rumah, ibu heran. "Kenapa bajumu basah kuyup?" tanyanya. Kujawab sambil tersenyum geli, "Kehujanan."

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Selasa, 25 September 2018

Pembawa Seplastik Apel dan Jeruk

Bagaimana jika aku merindu
Sosok pembawa seplastik apel dan jeruk
Turun dari motor vario hitam
Mampir saat pulang dari kota karawang

Di malam itu
Ia berikan buah tangannya untuk ibuku
Diterima dengan senyum sedikit kaku
Karena ia adalah orang baru

Bagaimana jika aku merindu
Sosok pembawa seplastik apel dan jeruk
Dan sepertinya aku merindu
Lagi

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Senin, 24 September 2018

Pura-Pura Bahagia Itu Menyakitkan

Hari ini, langit begitu panas. Angin enggan menyapaku yang tengah dilanda gelisah. Kemeja batik oranye dengan celana Levis hitam tak membuatku yakin saat kakiku melangkah ke sebuah acara pernikahan. Di sana terlihat sepasang pengantin, bahagia sekali kelihatannya. Mempelai wanita sangat cantik, balutan gaun biru toska menambah keanggunannya. Mempelai laki-laki tampan dengan kemeja putih berbalut jas hitam.
“Lihat Lina, dia cantik, bukan?" tanya Priyo sambil menunjuk sang ratu sehari yang sejak tadi tak pernah menutup senyumnya. Aku tersenyum kecut, mengacuhkan pertanyaan Priyo.
Sampeyan mau jadi patung di sini atau mau kondangan? Gudeg itu sudah manggil-manggil aku, Den..." kata Priyo dengan memasang wajah kelaparan.
"Pikiranmu makan terus. Katanya kamu mau menemani aku, tapi di otakmu cuma makanan saja," jawabku agak ketus. Jahatnya Priyono, tak peduli dengan rasaku.
“Habis jarang banget ada gudeg di pesta pernikahan orang Jakarta. Kamu ini kaya ndak tahu aku saja..."
"Ya sudah. Kita berikan ucapan selamat ke pengantin dulu. Setelah itu, kamu boleh makan gudeg sepuasnya."
Priyo yang datang bersamaku mengisyaratkan agar kakiku melangkah lebih cepat. Matanya masih saja melirik barisan prasmanan, gudeg itu seolah punya daya tarik yang luar biasa. Sampailah aku di pelaminan bernuansa emas itu. Tinggal lima langkah lagi mataku dan matanya akan saling bertatap, seperti ketika tangannya masih mau kugenggam erat. Tak bisa dimungkiri, keringat dingin membasahi keningku sejak tiga puluh menit yang lalu, tepatnya sejak aku berdiri mematung menyaksikan pemandangan di hadapanku itu. Di sana harusnya aku yang menjadi pemeran utama.
Sampailah aku di hadapannya. Benar saja, keringatku semakin deras ketika senyum khasnya menyapa kedatanganku. Kujulurkan tangan, seraya mengucapkan selamat dan doa, meski sekadar basa-basi. Kebetulan yang menyakitkan. Di saat yang bersamaan, mengalunlah lagu Kandas. Bertambah hancurlah hatiku, suara vokalis organ itu begitu mendayu, membuka imajinasiku dengannya, Lina.
"Terima kasih sudah menyempatkan hadir di acara pernikahanku, Denis," ucap Lina. Dia tersenyum, membuat penyesalan itu semakin memuncak. Bodohnya aku, melepas wanita yang bukan hanya sederhana, tapi ia juga baik, sabar, dan pengertian hanya karena tergoda kecantikan dunia.
“Aku pun berharap suatu saat kamu akan menemukan seseorang yang kauinginkan, yang bisa melihat kekuranganmu menjadi kelebihan yang tak terlihat dari orang lain," lanjut Lina.
“Aku ikut berbahagia untukmu, Lin," sekali lagi kuulurkan tangan kepadanya. Kuanggap sebagai salam perpisahan.
“Pura-pura bahagia itu menyakitkan ya, Den,” kata Priyo sambil menikmati santapannya, langsung kubalas dengan mata melotot.

#tantanganODOP3
#onedayonepost
#odopbatch6
#fiksi

Minggu, 23 September 2018

Si Bungsu

Jika nafasku tak kuat lagi memanjang
Jika waktuku enggan tuk terus berjalan
Bawakanku taburan bunga, taruh di atas tanah merah
Berdendanglah dalam alunan doa
Ayah.. Bunda...
Jika Ia memanggilku lebih cepat darimu
Biarkan raga kita tersentuh
Sebelum jiwa berhenti bersatu
Aku tak ingin diiriingi dengan air mata
Senyumlah untuk ketenanganku
Bukan aku tak mau merancang dunia
Hanya usia yang tak memihakku
Kirimi aku malaikat penerang
Agar di sana senyum selalu mengembang
Jangan buang kenanganku dulu
Aku masih bungsumu

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Sabtu, 22 September 2018

Pelantikan Pramuka Penegak Bantara SMK Negeri 1 Anjatan

Jumat, 14 September 2018 telah dilaksanakan pelantikan Pramuka Penegak Bantara di SMK Negeri 1 Anjatan, Indramayu, Jawa Barat. Kegiatan tersebut berlangsung selama dua hari. Berbeda dengan ekstrakurikuler yang lainnya, Pramuka (Praja Muda Karana) merupakan ekstrakurikuler yang wajib diikuti oleh seluruh peserta didik. Hal tersebut sesuai dengan kurikulum 2013 yang diterapkan di sekolah.
Kegiatan pelantikan penegak bantara Sunan Kali Jaga - Nyimas Gandasari Gudep 25.133 - 25.134 diikuti oleh siswa kelas XI SMK Negeri 1 Anjatan, yang terdiri atas jurusan Multimedia, Farmasi, dan Teknik Sepeda Motor, sedangkan siswa jurusan Broadcasting dan Akomodasi Perhotelan sedang mengikuti Praktik Kerja Industri (Prakerin).
Untuk mendapatkan gelar Bantara, para peserta harus mengikuti serangkaian kegiatan. Dimulai dari upacara pembukaan, seluruh peserta harus datang tepat waktu. Upacara pembukaan pelantikan dipimpin langsung oleh Haris Nugraha, S.Pd, selaku koordinator ekstrakurikuler SMK Negeri 1 Anjatan. Sementara itu, Kamabigus (kepala sekolah) sedang mempunyai kegiatan lain sehingga tidak bisa menghadiri upacara pelantikan.
Seluruh peserta pelantikan diwajibkan untuk mengisi Syarat-syarat Kecakapan Umum (SKU). Selain itu, mereka juga diharuskan membawa tugas dan peralatan yang dibutuhkan, baik tugas pribadi maupun tugas sangga. Setelah masing-masing sangga mendirikan tenda di bumi perkemahan SMK Negeri 1 Anjatan, acara api unggun pun dimulai. Kegiatan di hari pertama ditutup dengan kreasi seni. Setiap sangga harus menampilkan kreativitas mereka, seperti menyanyi, drama, baca puisi, dsb.

Tepat pukul 02.00 WIB, Sabtu, 15 September 2018, peserta pelantikan dibangunkan. Mata mereka ditutup dan harus berjalan mengikuti arah tepukan dewan. Di lapangan mereka dikumpulkan, diberikan pembinaan dan renungan. Sampai pada acara puncak, yaitu hiking. Hiking kali ini bukan mendaki gunung, tetapi berjalan dari sekolah menuju pantai Kepuh dengan jarak 8-9 kilometer.
Peserta berjalan persangga menuju lima pos yang disediakan. Di setiap pos ada tantangan dan tugas yang harus diselesaikan, mulai dari pioneering, sandi morse, semaphore, halang rintang, dan pengetahuan kepramukaan. Di sinilah kekompakan dan kerja sama mereka diuji karena aka nada penilaian dari masing-masing pos.

Setelah semuanya menyelesaikan tugas di lima pos, acara terakhir adalah pelantikan dan penyematan balok bantara. Upacara pelantikan dilaksanakan di laut, mengharuskan seluruh peserta berdiri tegak dengan menahan ombak yang datang. Setelah mengucapkan Tri Satya, seluruh peserta resmi dilantik menjadi Penegak Bantara oleh pembina Pramuka SMK Negeri Anjatan.

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Jumat, 21 September 2018

Kusapa di Kala Rindu

Melepasmu adalah sebuah keharusan
Karena rindu sudah tak lagi di hatimu
Mencintaimulah yang harus kuhentikan
Karena hatimu sudah tak lagi untukku

Mendambamu tak kan lagi kubiasakan
Karena melepas akan menguatkanku
Memikirkanmulah yang harus kuhapuskan
Karena cinta sudah tak terjaga buatku

Adakah di sana kau sembunyikan
Sisa hati untuk kusapa di kala rindu
Juga dengan apa aku mintakan
Tuk satukan lagi kau dan aku

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Kamis, 20 September 2018

Diamlah

"Diamlah! Aku tak mau lagi dengar nama itu," gadis itu membanting buku tebal bersampul hitam.
“Tapi dia bapakmu, Rin. Bagaimana pun dia tetap bapakmu, orang yang telah membesarkan dan mendidikmu. Coba kamu renungkan. Dia menjadi orang tua tunggal sejak ibumu meninggal. Dari pagi sampai sore banting tulang di ladang, tidur malamnya terganggu dengan tangisanmu yang minta dibuatkan susu, sedangkan waktu untuk istirahat saja dia tidak punya," tegas Weni, sahabat Rina.
"Sudahlah, Wen. Itu memang kewajibannya sebagai ayah."
"Kamu tahu kewajiban seorang ayah, tapi kamu sendiri tidak mau tahu tentang kewajibanmu sebagai anak."
Masih dengan motor Honda tuanya, Rina meninggalkan Weni yang masih terheran dengan sikap Rina. Sebagai sahabat, Weni tak pernah lelah mengingatkan Rina yang sikapnya terkadang keterlaluan. Pak Soleh memang bukan ayah yang sempurna, tapi ia rela memberikan nyawanya untuk sang anak. Betapa ruginya Rina karena telah menyia-nyiakan pak Soleh, pikir Weni.
Rina melajukan motornya dengan kecepatan lambat. Maklum, motor keluaran tahun 2000 itu sudah tak kuat berlari kencang. Dari kejauhan tampak punggung seorang lelaki tua, memegang cangkul di ladang milik tetangganya. Ialah pak Soleh, tetap semangat meski terik matahari membakar kulitnya.
"Bapak..." teriak Rina dari kejauhan. Ia segera menghampiri ayahnya setelah memarkirkan motor di tepi ladang.
Pak Soleh menoleh. Senyum tergurat di bibirnya, mengetahui anak kesayangannya datang. “Ada apa? Tumben Rina mau menginjakkan kaki di ladang,” tanya pak Soleh dalam hati. Ia bergegas ke pinggir, mengusap keringat di dahinya.
"Rina... tumben sekali kamu menyusul Bapak ke sini. Ada apa, Nak?" tanya pak Soleh sumringah.
"Aku minta uang. Teman-temanku semua, termasuk Weni, ingin berlibur ke Yogyakarta.”
"Bapak belum punya uang, Nak..."
"Tiap aku minta uang selalu jawabannya seperti itu. Terus kapan Bapak punya uangnya? Bapak kan janji akan memberikan apapun yang aku minta, mana buktinya? Jangankan minta motor baru, minta jalan-jalan saja Bapak tidak bisa mengabulkan."
"Bukan begitu, Nak. Kalau Bapak punya uang..."
"Sudahlah, Pak. Bapak bisanya cuma janji. Aku benci Bapak…" Rina pergi dengan penuh amarah, sedang pak Soleh hanya memandang Rina yang semakin jauh dengan motornya.

#tantanganODOP2
#onedayonepost
#odopbatch6
#fiksi