Rabu, 27 September 2017

KETIKA R MENDURI HATI



KETIKA R MENDURI HATI
Ini bukan salahmu. Kau hanya mengikuti garis takdir hidupmu saja. Ini bukan salahmu. Kau hanya menuruti permintaan dunia. Ini bukan salahmu. Kau hanya mengiyakan saat Dia mendatangkannya. Ini bukan salahmu. Kau hanya menjalani alur langit dan bumi kita. Ini bukan salahmu. Kau hanya mengalirkan syair tentang kau dan hatinya. Ini bukan salahmu saat mereka memandang surat undangan dalam genggamanku. Ini bukan salahmu saat mereka iba menatap keadaanku. Ini bukan salahmu saat foto di kertas itu adalah fotomu. Ini bukan salahmu saat ada sosok bidadari tersenyum manis beriringan dengan fotomu. Ini tetap bukan salahmu.
Ini salahku. Aku yang pandai menyimpan rasa. Aku yang lihai menyembunyikan suka. Aku yang tak berani mengatakan “ya”. Aku yang takut menumbuhkan cinta. Aku yang mundur secara perlahan.
“Kemarin aku bertemu dengannya,” kata Ane tadi pagi.
“Apa dia mengatakan sesuatu?” tanyaku.
“Dia hanya menitipkan surat undangan itu.”
Kembali kutatap surat yang masih terlipat di telapak tanganku. Warna merah kertas undangan itu tak semerah mataku yang terasa panas. Seperti ada api di dalamnya, semakin lama api itu kian membakar. Tak tahan, kutumpahkan saja semuanya, sedang Ane tak mampu berbuat apa-apa.
Bangku di taman itu menjadi saksi bisu betapa sesaknya rasa ini. Sangat sakit. Tangan mulus Ane perlahan merangkul pundak yang tak sadar kugetarkan. Kurebahkan kepala yang begitu berat. Di pundak Anelah aku memuaskan rasaku. Rasa ingin menjerit, menangis, dan menghilang. Teriakan yang tak terdengar, hanya tersimpan dalam hati.
Inikah jawabannya? Delapan bulan yang lalu ia dan aku bertemu untuk pertama kalinya. Sebatas senyum dan salam yang hadir di antara kami. Kala itu aku tengah menghadiri acara pertunangan Ane. Aku pun larut dalam bahagia yang terpancar dari senyum sahabatku itu. Di jari manisnya sudah terpasang cincin bermata zamrud yang begitu indah.
Entah disengaja ataupun tidak, setelah acara pertunangan selesai, Ane memperkenalkan seorang laki-laki kepadaku. Sosok pendiam, ramah, tapi mampu menarik perhatianku.
“Aku ingin kebahagiaan hari ini bukan hanya buatku, tapi kita rasakan bersama. Dia teman sekantorku, orangnya baik. Aku yakin kalian cocok. Lebih bagus lagi kalau kalian berjodoh,” kata Ane setengah berbisik jahil.
“Regi,” suara lembutnya terdengar saat pertama kali ia menyebutkan nama.
“Nurma,” jawabku.
Januari 2017 pertama kalinya tangan kami berjabat. Senyum simpul pun saling tersungging. Ane benar. Tak butuh waktu lama untuk aku dan Regi saling mengenal. Saling bertukar nomor kontak, menikmati makan malam di pinggir jalan, menghabiskan waktu untuk berbagi cerita, meski sekadar cerita selama satu hari di tempat kerja masing-masing.
Mei 2017 aku kembali bertemu dengan Ane. Maklum, sejak dipindahkan ke kantor utama, Ane memilih pindah rumah agar lebih dekat dengan tempat kerjanya. Keadaan yang memaksa kami tak bisa berjumpa seperti dulu. Masa-masa SMP yang orang bilang adalah masa puber, kami habiskan dengan penuh canda tawa. Berlanjut hingga lulus, kami kompak untuk masuk ke SMA yang sama. Meskipun terlahir dari keluarga kaya, Ane tidak tumbuh menjadi remaja sombong. Selain cantik, ia adalah gadis yang sopan dan sederhana. Tak heran jika Ben tak mau melepaskan Ane. Pertunangan mereka adalah buktinya.
“Bagaimana kabarmu, Nur?”
“Seperti yang kau lihat. Aku baik, Ne.”
“Lalu bagaimana dengan Regi? Cieee....” Ane tertawa kecil.
“Maksudmu apa, Ne?”
“Kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu. Lihat, pipimu memerah. Wah, apa kalian sudah pacaran? Kenapa tidak memberi tahu aku? Jahat kamu, Nur. Aku sudah tidak dianggap sahabat lagi.”
Pipiku memerah? Benarkah? Kulirik Ane. Bibirnya terkatup rapat, agak dimonyongkan sedikit rupanya. Namun, kutahu sahabatku itu bukan orang yang mudah naik darah.
“Sudahlah, Ne. Jangan goda aku terus.”
“Tapi aku juga ingin tahu, Nur. Kalian sudah kenal baik, pasti sudah ada perkembangan ke arah yang lebih serius kan? Pacaran kek, tunangan, atau langsung menikah. Kamu suka Regi, kan?” kujawab pertanyaan Ane dengan anggukan malu-malu. Anggukan kepalaku dibalas dengan senyum ringan dihiasi lesung pipit di pipi Ane.
Kuakui apa yang dikatakan Ane memang benar. Rasa suka itu sudah hadir sejak pertama tanganku berjabat dengannya, Regi. Tapi inilah kelemahanku. Aku tak pandai mengungkapkan perasaan, apalagi rasa suka terhadap seorang laki-laki. Betapa bodohnya aku, rasa yang selama ini kututup rapat ternyata tidak bisa disembunyikan dari detektif Ane. Itulah Ane Zarita Syakilla, sahabat yang penuh dengan pengertian dan perhatian.
“Percayalah, kamu akan jadi orang pertama yang akan tahu.”
“Aku cuma ingin mendengar kabar yang terbaik, tidak seperti waktu hubungan dengan mantan-mantanmu. Aku sayang kamu, Nur. Aku ingin melihat kamu bahagia dan aku yakin Regilah orangnya. Orang yang bisa membuat kamu selalu tersenyum, menghapus air matamu yang cengeng, dan mau disuruh ke toko kue malam-malam kalau kamu mau makan roti selai coklat.”
Kami tertawa. Harapan tulus termanis Ane yang kulihat kala itu dan betapa beruntungnya aku memiliki sahabat sepertinya. Semut pun iri. Meski terkadang terjadi perselisihan, tak pernah ada jarak antara kami. Pernah ia marah, namun hanya bertahan lima menit. Waktu terlama Ane merajuk selama berkawan denganku.
Ane menyarankan aku untuk meminta kejelasan status dari Regi. HP ku berdering, ada satu pesan masuk saat lagu “Ada Cinta” tengah mengalun di sudut kamarku. Suara Acha dan Irwansyah sekejap tak terdengar ketika kulihat pesan itu dikirim dari orang yang memang sedang kutunggu kabarnya, Regi. Perasaan apa ini, Tuhan? Hanya membaca namanya, hatiku berdegup begitu kencang.
Hai, Nurma. Apa kabar? Besok bisa ketemu? Ada yang ingin aku bicarakan. Kita ketemu di Cafe Laria jam 10 pagi ya...
Waktu berjalan lambat. Kulirik jam di kamar, masih menunjukkan pukul 23.45 WIB. Kali ini sulit rasanya memejamkan mata, yang kubayangkan hanya esok tepat pukul 10.00 WIB. Tak boleh terlambat sedetik pun, pikirku.
Nanti dulu, besok adalah hari Senin di mana itu adalah hari keramat yang biasanya penuh dengan segudang tugas di kantor. Benar saja. Tumpukan kertas sudah menggunung. Vas bunga mawar mini yang setiap harinya terparkir manis di atas mejaku hampir tak terlihat karena begitu banyaknya tagihan kerjaan. Oh, Tuhan... bagaimana dengan pukul 10.00 WIB?
Arlojiku seolah mengatakan masih ada waktu. Baiklah, tidak boleh ada yang menghalangiku untuk bertemu dengan Regi. Dengan mata yang menahan kantuk, dengan sisa harapan yang kubangun sendiri, tanganku begitu cekatan melahap selembar, dua lembar, hingga beratus lembar. Mataku berubah menjadi mata elang yang tajam, membidik huruf dan angka yang berderet pada lembaran putih itu. Untunglah, jarak kantorku tak jauh dari Cafe Laria, tempat yang disebut Regi tadi malam.
Dadaku masih tersengal. Kuseka peluh manja yang sesekali menetes di kening dan pipi karena memburu waktu. Kulayangkan pandangan ke sekitar, ternyata Regi belum datang. Masih tersisa lima menit lagi untukku menyiapkan diri sebelum Regi benar-benar datang. Deg... deg... deg... ada sesuatu yang aneh. Setiap aku bertemu dengan Regi, bunga-bunga cinta tumbuh bermekaran dengan cepat. Entahlah, kali ini bukan rasa cinta, tapi ketakutan.
Akhirnya sosok itu datang. Aku menikmati senyumnya yang sudah terkulum dari kejauhan. Ia berjalan, karismanya tak luntur sedikit pun meski terpanggang sinar matahari. Ia semakin dekat, rasa ketakutanku pun semakin menjadi. Kutarik napas dalam, sedalam rasaku yang selama ini masih tersimpan manis.
Setelah menanyakan kabar, kesibukan, dan pertanyaan-pertanyaan yang terasa hanya sebagai pelengkap basa-basi di antara kami, Regi mengatakan bahwa ia akan pergi. Mulai besok ia akan tinggal di Semarang selama tiga bulan. Ia ditugaskan untuk meliput kehidupan rakyat Siwal, Kecamatan Kaliwungu.
“Mungkin ini adalah pertemuan terakhir kita. Tapi setelah aku kembali, kau adalah orang yang pertama kali aku temui. Di pertemuan kita berikutnya, aku ingin mengatakan sesuatu untuk pertama kalinya dalam hidupku. Sampai saat ini aku masih mengumpulkan keberanian untuk mengatakannya. Kuharap kamu mau bersabar untuk mendengarkan apa yang ingin kusampaikan.”
September 2017. Kenangan hari terakhir sebelum Regi pergi kembali bergerak perlahan dalam pikiranku. Kenangan tinggallah kenangan. Hanya dalam hitungan waktu dunia begitu mudah berubah. Janur kuning segar sudah melengkung, ijab lantang sudah terdengar.
Aku masih mencoba berdiri dengan sisa tenaga yang kukumpulkan. Para tamu mulai berdatangan, mengantre hanya sekadar untuk memberikan ucapan selamat atas sebuah kebahagiaan di atas duri hati. Betapa kejamnya mereka, pikirku. Kuingat tanganku masih menggenggam selembar undangan yang masih terlipat rapi. Sejak Ane memberikan benda itu, aku memang sengaja membiarkannya tetap terbungkus. Ikatan pita di atasnya tak membuat hatiku tertarik untuk membukanya sama sekali.
“Nur, kamu tidak apa-apa?” tanya Ane yang sedari tadi menemaniku berdiri mematung. Menyaksikan sebuah acara yang seharusnya sakral dan membahagiakan, tapi tidak bagiku. Aku hanya mengangguk tanpa senyum yang biasa kutunjukkan.
“Apa kamu sudah membaca undangannya?” Aku menggeleng.
“Waktu Regi menitipkan undangan itu padaku, ia berpesan agar kamu membaca semua isinya.”
Awalnya aku tak menghiraukan Ane. Apapun isi di dalamnya sudah tidak ada artinya lagi. Yang ada hanya luka dan air mata. Ada secarik kertas di dalam lipatan undangan itu. Perlahan kubuka, ada tulisan Regi yang telah menari di atasnya.
Meski hanya beberapa bulan, aku merasakan kebahagiaan yang begitu luar biasa. Pertama kali aku mengenal seorang wanita yang tidak cantik rupanya saja, tapi kepribadian dan segala yang ada pada dirinya mampu membuatku menjadi orang setengah gila.
Apa kamu ingat, di bulan Mei aku pernah menjanjikan akan mengatakan sesuatu untuk pertama kalinya dalam hidupku? Aku cinta kamu. Sayang, kalimat itu tidak bisa aku ucapkan secara langsung. Ketika kau baca surat ini, aku harap kau tidak merasakan hal yang sama agar tidak ada yang tersakiti selain aku. Mungkin ini adalah jalan yang harus dilalui olehku dan olehmu.
Tiga minggu yang lalu saat aku kembali dari Semarang, aku menepati janjiku. Aku menemuimu. Tapi aku tidak mau mengganggumu yang sedang berdua dengan seorang laki-laki gagah, tampan, putih, dan necis di depan rumahmu. Pasti dia adalah kekasihmu. Kulihat kalian begitu bahagia, kau tertawa lepas seperti tanpa beban. Saat itu juga aku mundur. Sampai seminggu berikutnya, aku dikenalkan Mama dengan Riani. Katanya, luka di hati hanya bisa diobati dengan hati yang baru. Aku memilih Riani untuk menemani hari-hariku ke depan, meski aku merasa jahat karena masih menyimpan cinta pertama di hati, Nurma.
“Dia adalah sepupuku. Konyol. Sekarang impas, kita sama-sama tersakiti...” kututup kembali undangan berinisial R&R itu dengan segala kenangannya.

Tidak ada komentar: