KETIKA R MENDURI HATI
Ini
bukan salahmu. Kau hanya mengikuti garis takdir hidupmu saja. Ini bukan
salahmu. Kau hanya menuruti permintaan dunia. Ini bukan salahmu. Kau hanya
mengiyakan saat Dia mendatangkannya. Ini bukan salahmu. Kau hanya menjalani
alur langit dan bumi kita. Ini bukan salahmu. Kau hanya mengalirkan syair
tentang kau dan hatinya. Ini bukan salahmu saat mereka memandang surat undangan
dalam genggamanku. Ini bukan salahmu saat mereka iba menatap keadaanku. Ini
bukan salahmu saat foto di kertas itu adalah fotomu. Ini bukan salahmu saat ada
sosok bidadari tersenyum manis beriringan dengan fotomu. Ini tetap bukan
salahmu.
Ini
salahku. Aku yang pandai menyimpan rasa. Aku yang lihai menyembunyikan suka.
Aku yang tak berani mengatakan “ya”. Aku yang takut menumbuhkan cinta. Aku yang
mundur secara perlahan.
“Kemarin
aku bertemu dengannya,” kata Ane tadi pagi.
“Apa
dia mengatakan sesuatu?” tanyaku.
“Dia
hanya menitipkan surat undangan itu.”
Kembali
kutatap surat yang masih terlipat di telapak tanganku. Warna merah kertas
undangan itu tak semerah mataku yang terasa panas. Seperti ada api di dalamnya,
semakin lama api itu kian membakar. Tak tahan, kutumpahkan saja semuanya, sedang
Ane tak mampu berbuat apa-apa.
Bangku
di taman itu menjadi saksi bisu betapa sesaknya rasa ini. Sangat sakit. Tangan
mulus Ane perlahan merangkul pundak yang tak sadar kugetarkan. Kurebahkan
kepala yang begitu berat. Di pundak Anelah aku memuaskan rasaku. Rasa ingin
menjerit, menangis, dan menghilang. Teriakan yang tak terdengar, hanya
tersimpan dalam hati.
Inikah
jawabannya? Delapan bulan yang lalu ia dan aku bertemu untuk pertama kalinya. Sebatas
senyum dan salam yang hadir di antara kami. Kala itu aku tengah menghadiri
acara pertunangan Ane. Aku pun larut dalam bahagia yang terpancar dari senyum
sahabatku itu. Di jari manisnya sudah terpasang cincin bermata zamrud yang
begitu indah.
Entah
disengaja ataupun tidak, setelah acara pertunangan selesai, Ane memperkenalkan seorang
laki-laki kepadaku. Sosok pendiam, ramah, tapi mampu menarik perhatianku.
“Aku
ingin kebahagiaan hari ini bukan hanya buatku, tapi kita rasakan bersama. Dia teman
sekantorku, orangnya baik. Aku yakin kalian cocok. Lebih bagus lagi kalau
kalian berjodoh,” kata Ane setengah berbisik jahil.
“Regi,”
suara lembutnya terdengar saat pertama kali ia menyebutkan nama.
“Nurma,”
jawabku.
Januari
2017 pertama kalinya tangan kami berjabat. Senyum simpul pun saling
tersungging. Ane benar. Tak butuh waktu lama untuk aku dan Regi saling
mengenal. Saling bertukar nomor kontak, menikmati makan malam di pinggir jalan,
menghabiskan waktu untuk berbagi cerita, meski sekadar cerita selama satu hari
di tempat kerja masing-masing.
Mei
2017 aku kembali bertemu dengan Ane. Maklum, sejak dipindahkan ke kantor utama,
Ane memilih pindah rumah agar lebih dekat dengan tempat kerjanya. Keadaan yang
memaksa kami tak bisa berjumpa seperti dulu. Masa-masa SMP yang orang bilang
adalah masa puber, kami habiskan dengan penuh canda tawa. Berlanjut hingga
lulus, kami kompak untuk masuk ke SMA yang sama. Meskipun terlahir dari
keluarga kaya, Ane tidak tumbuh menjadi remaja sombong. Selain cantik, ia adalah
gadis yang sopan dan sederhana. Tak heran jika Ben tak mau melepaskan Ane.
Pertunangan mereka adalah buktinya.
“Bagaimana
kabarmu, Nur?”
“Seperti
yang kau lihat. Aku baik, Ne.”
“Lalu
bagaimana dengan Regi? Cieee....” Ane tertawa kecil.
“Maksudmu
apa, Ne?”
“Kura-kura
dalam perahu, pura-pura tidak tahu. Lihat, pipimu memerah. Wah, apa kalian
sudah pacaran? Kenapa tidak memberi tahu aku? Jahat kamu, Nur. Aku sudah tidak
dianggap sahabat lagi.”
Pipiku
memerah? Benarkah? Kulirik Ane. Bibirnya terkatup rapat, agak dimonyongkan
sedikit rupanya. Namun, kutahu sahabatku itu bukan orang yang mudah naik darah.
“Sudahlah,
Ne. Jangan goda aku terus.”
“Tapi
aku juga ingin tahu, Nur. Kalian sudah kenal baik, pasti sudah ada perkembangan
ke arah yang lebih serius kan? Pacaran kek, tunangan, atau langsung menikah. Kamu
suka Regi, kan?” kujawab pertanyaan Ane dengan anggukan malu-malu. Anggukan
kepalaku dibalas dengan senyum ringan dihiasi lesung pipit di pipi Ane.
Kuakui
apa yang dikatakan Ane memang benar. Rasa suka itu sudah hadir sejak pertama
tanganku berjabat dengannya, Regi. Tapi inilah kelemahanku. Aku tak pandai
mengungkapkan perasaan, apalagi rasa suka terhadap seorang laki-laki. Betapa
bodohnya aku, rasa yang selama ini kututup rapat ternyata tidak bisa
disembunyikan dari detektif Ane. Itulah Ane Zarita Syakilla, sahabat yang penuh
dengan pengertian dan perhatian.
“Percayalah,
kamu akan jadi orang pertama yang akan tahu.”
“Aku
cuma ingin mendengar kabar yang terbaik, tidak seperti waktu hubungan dengan
mantan-mantanmu. Aku sayang kamu, Nur. Aku ingin melihat kamu bahagia dan aku
yakin Regilah orangnya. Orang yang bisa membuat kamu selalu tersenyum,
menghapus air matamu yang cengeng, dan mau disuruh ke toko kue malam-malam kalau
kamu mau makan roti selai coklat.”
Kami
tertawa. Harapan tulus termanis Ane yang kulihat kala itu dan betapa beruntungnya
aku memiliki sahabat sepertinya. Semut pun iri. Meski terkadang terjadi perselisihan,
tak pernah ada jarak antara kami. Pernah ia marah, namun hanya bertahan lima
menit. Waktu terlama Ane merajuk selama berkawan denganku.
Ane
menyarankan aku untuk meminta kejelasan status dari Regi. HP ku berdering, ada
satu pesan masuk saat lagu “Ada Cinta” tengah mengalun di sudut kamarku. Suara
Acha dan Irwansyah sekejap tak terdengar ketika kulihat pesan itu dikirim dari
orang yang memang sedang kutunggu kabarnya, Regi. Perasaan apa ini, Tuhan?
Hanya membaca namanya, hatiku berdegup begitu kencang.
Hai, Nurma. Apa
kabar? Besok bisa ketemu? Ada yang ingin aku bicarakan. Kita ketemu di Cafe
Laria jam 10 pagi ya...
Waktu
berjalan lambat. Kulirik jam di kamar, masih menunjukkan pukul 23.45 WIB. Kali
ini sulit rasanya memejamkan mata, yang kubayangkan hanya esok tepat pukul
10.00 WIB. Tak boleh terlambat sedetik pun, pikirku.
Nanti
dulu, besok adalah hari Senin di mana itu adalah hari keramat yang biasanya
penuh dengan segudang tugas di kantor. Benar saja. Tumpukan kertas sudah
menggunung. Vas bunga mawar mini yang setiap harinya terparkir manis di atas
mejaku hampir tak terlihat karena begitu banyaknya tagihan kerjaan. Oh,
Tuhan... bagaimana dengan pukul 10.00 WIB?
Arlojiku
seolah mengatakan masih ada waktu. Baiklah, tidak boleh ada yang menghalangiku untuk
bertemu dengan Regi. Dengan mata yang menahan kantuk, dengan sisa harapan yang
kubangun sendiri, tanganku begitu cekatan melahap selembar, dua lembar, hingga
beratus lembar. Mataku berubah menjadi mata elang yang tajam, membidik huruf
dan angka yang berderet pada lembaran putih itu. Untunglah, jarak kantorku tak
jauh dari Cafe Laria, tempat yang disebut Regi tadi malam.
Dadaku
masih tersengal. Kuseka peluh manja yang sesekali menetes di kening dan pipi
karena memburu waktu. Kulayangkan pandangan ke sekitar, ternyata Regi belum
datang. Masih tersisa lima menit lagi untukku menyiapkan diri sebelum Regi benar-benar
datang. Deg... deg... deg... ada sesuatu yang aneh. Setiap aku bertemu dengan
Regi, bunga-bunga cinta tumbuh bermekaran dengan cepat. Entahlah, kali ini bukan
rasa cinta, tapi ketakutan.
Akhirnya
sosok itu datang. Aku menikmati senyumnya yang sudah terkulum dari kejauhan. Ia
berjalan, karismanya tak luntur sedikit pun meski terpanggang sinar matahari.
Ia semakin dekat, rasa ketakutanku pun semakin menjadi. Kutarik napas dalam,
sedalam rasaku yang selama ini masih tersimpan manis.
Setelah
menanyakan kabar, kesibukan, dan pertanyaan-pertanyaan yang terasa hanya
sebagai pelengkap basa-basi di antara kami, Regi mengatakan bahwa ia akan pergi.
Mulai besok ia akan tinggal di Semarang selama tiga bulan. Ia ditugaskan untuk
meliput kehidupan rakyat Siwal, Kecamatan Kaliwungu.
“Mungkin
ini adalah pertemuan terakhir kita. Tapi setelah aku kembali, kau adalah orang
yang pertama kali aku temui. Di pertemuan kita berikutnya, aku ingin mengatakan
sesuatu untuk pertama kalinya dalam hidupku. Sampai saat ini aku masih mengumpulkan
keberanian untuk mengatakannya. Kuharap kamu mau bersabar untuk mendengarkan
apa yang ingin kusampaikan.”
September
2017. Kenangan hari terakhir sebelum Regi pergi kembali bergerak perlahan dalam
pikiranku. Kenangan tinggallah kenangan. Hanya dalam hitungan waktu dunia
begitu mudah berubah. Janur kuning segar sudah melengkung, ijab lantang sudah
terdengar.
Aku
masih mencoba berdiri dengan sisa tenaga yang kukumpulkan. Para tamu mulai
berdatangan, mengantre hanya sekadar untuk memberikan ucapan selamat atas
sebuah kebahagiaan di atas duri hati. Betapa kejamnya mereka, pikirku. Kuingat
tanganku masih menggenggam selembar undangan yang masih terlipat rapi. Sejak
Ane memberikan benda itu, aku memang sengaja membiarkannya tetap terbungkus. Ikatan
pita di atasnya tak membuat hatiku tertarik untuk membukanya sama sekali.
“Nur,
kamu tidak apa-apa?” tanya Ane yang sedari tadi menemaniku berdiri mematung.
Menyaksikan sebuah acara yang seharusnya sakral dan membahagiakan, tapi tidak
bagiku. Aku hanya mengangguk tanpa senyum yang biasa kutunjukkan.
“Apa
kamu sudah membaca undangannya?” Aku menggeleng.
“Waktu
Regi menitipkan undangan itu padaku, ia berpesan agar kamu membaca semua isinya.”
Awalnya
aku tak menghiraukan Ane. Apapun isi di dalamnya sudah tidak ada artinya lagi.
Yang ada hanya luka dan air mata. Ada secarik kertas di dalam lipatan undangan
itu. Perlahan kubuka, ada tulisan Regi yang telah menari di atasnya.
Meski hanya
beberapa bulan, aku merasakan kebahagiaan yang begitu luar biasa. Pertama kali
aku mengenal seorang wanita yang tidak cantik rupanya saja, tapi kepribadian
dan segala yang ada pada dirinya mampu membuatku menjadi orang setengah gila.
Apa kamu ingat,
di bulan Mei aku pernah menjanjikan akan mengatakan sesuatu untuk pertama
kalinya dalam hidupku? Aku cinta kamu. Sayang, kalimat itu tidak bisa aku
ucapkan secara langsung. Ketika kau baca surat ini, aku harap kau tidak merasakan
hal yang sama agar tidak ada yang tersakiti selain aku. Mungkin ini adalah
jalan yang harus dilalui olehku dan olehmu.
Tiga minggu yang
lalu saat aku kembali dari Semarang, aku menepati janjiku. Aku menemuimu. Tapi
aku tidak mau mengganggumu yang sedang berdua dengan seorang laki-laki gagah,
tampan, putih, dan necis di depan rumahmu. Pasti dia adalah kekasihmu. Kulihat
kalian begitu bahagia, kau tertawa lepas seperti tanpa beban. Saat itu juga aku
mundur. Sampai seminggu berikutnya, aku dikenalkan Mama dengan Riani. Katanya, luka
di hati hanya bisa diobati dengan hati yang baru. Aku memilih Riani untuk menemani
hari-hariku ke depan, meski aku merasa jahat karena masih menyimpan cinta
pertama di hati, Nurma.
“Dia
adalah sepupuku. Konyol. Sekarang impas, kita sama-sama tersakiti...” kututup
kembali undangan berinisial R&R itu dengan segala kenangannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar