Selasa, 16 Oktober 2018

Kisah Pulpen Hitam


Kepada Zainal, Rahmat menitipkan surat izin. Hari ini Rahmat tidak masuk sekolah karena diare. Sampai tadi siang, sudah delapan kali Rahmat harus bolak-balik kamar mandi. Mungkin akibat kebanyakan makan seblak pedas setelah pulang sekolah kemarin.
Keesokan paginya, kelas Rahmat riuh. Terdengar kabar bahwa hari ini akan ada ulangan Matematika dadakan. Sampai tiba waktunya, pak Ahmad datang. Dengan tampilan kumis lebat dan suara berat, pak Ahmad merupakan guru yang paling ditakuti siswa, terutama anak-anak nakal macam Zainal.
“Pulpenku mana?” wajah Rahmat terlihat bingung, mencari-cari pulpen hitamnya.
Seluruh isi tas dibongkar, kolong meja pun ikut jadi sasaran. Sementara itu, di samping Rahmat, Zainal terlihat sangat tenang.
“Selain kertas dan pulpen, tidak ada benda lain di atas meja,” tegas pak Ahmad hendak memulai ulangan.
Rahmat semakin tegang. Keringat dinginnya bercucuran. Benar dugaannya, pak Ahmad menyuruhnya berdiri di depan kelas dengan kedua tangan memegang daun telinga.
Rahmat menggerutu dalam hati, “Sial.”
Bergaya seolah sedang menghitung angka, Zainal asyik mencoret-coretkan pulpen hitamnya. Di antara tinta-tinta yang keluar, ada suara lirih hampir tak terdengar.
“Kamu terlihat murung dan sedih. Kenapa?” tanya kertas putih di hadapan pulpen hitam.
“Aku sedih melihat pemilikku. Lihat, dia dihukum atas kesalahan yang tidak dilakukannya,” jawab pulpen hitam yang berada di tangan Zainal.
“Maksudmu?” tanya kertas putih kembali.
“Jika aku tak diambil oleh orang yang memegangku sekarang, soal-soal itu pasti sudah ditaklukkan oleh pemilikku. Di tangannya, aku bisa menggoyang-goyangkan tubuh kecilku, memecahkan angka dan deretan huruf dengan lincah. Aku pun bisa dengan cepat memenuhi kertas ulangan dengan isian yang tepat karena setiap malam pemilikku selalu mengajakku untuk bersafari di buku-buku latihannya. Tidak seperti orang yang memegangku saat ini. Aku diambilnya tanpa sepengetahuan pemilikku. Ia menghabiskan tintaku hanya untuk membuat gambar pesawat, sedangkan kau yang seharusnya diisi dengan jawaban soal ulangan, baru berisi identitasnya saja,” jawab pulpen hitam panjang lebar.
“Kemarin aku tak melihatmu di meja ini,” kata kertas putih.
“Iya. Pemilikku sakit. Dengan tintaku juga ia menulis surat izin kemarin. Mungkin itu adalah masa terakhir kami bersama karena kini aku sudah berpindah tangan.”
Pulpen hitam kembali muram. Tiba-tiba terdengar suara dari dalam kolong meja Zainal. Sebuah buku bersampul biru berkata, “Lihat aku! Tubuhku masih putih bersih, karena ia jarang mengisiku dengan catatan ataupun latihan. Tintamu juga akan awet jika di tangannya.”
“Aku lebih suka dengan pemilikku yang dulu, dengannya hidupku jadi bermanfaat. Aku bahagia walaupun harus kehabisan tinta,” jawab pulpen hitam.
Pulpen hitam sebenarnya ingin melepaskan diri dan berlari ke pemiliknya, tetapi ia tidak mempunyai kekuatan. Ia menutup mata, pasrah dengan keadaan, setidaknya sampai jam ulangan Matematika selesai.


#TantanganODOP6
#onedayonepost
#odopbatch6
#fiksi

16 komentar:

FathinFar mengatakan...

Jaman sekolah. Pada pinjem2 tapi ngga dibalikin :(

Evita FL mengatakan...

Keren langsung aplikasi ilmu dari kekas besar ODOP 😊

Unknown mengatakan...

Iya ka bnr. Smp skrng jg msh ada aja yg kaya gitu.

Unknown mengatakan...

Iya ka sambil bljr. Hehe

Unknown mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Unknown mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Coretan Penaku mengatakan...

Wihh keren mbak ide nyaa😁👏

Yeti Nuryeti mengatakan...

iya keren bingit idenya

Unknown mengatakan...

Makasih...

Unknown mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Sekolah kehidupan mengatakan...

Hebat tulisannya

ummuarrahma@gmail.com mengatakan...

Mantap inspiratif pas lagi cari ide buat tantangan nih. Keren tulisannya, idenya dan ending-nya.

Unknown mengatakan...

Terima kasih bunda...

Unknown mengatakan...

Terima kasih mba ika. Ayo semangat taklukkan tantangan.

Unknown mengatakan...

Terima kasih mba ika. Ayo semangat taklukkan tantangan.

Unknown mengatakan...

Terima kasih bunda...