Pikirannya berubah. Dia melepaskan semua
perkiraan yang tak beralasan, dan aku menyukainya. Jalinan kasih yang pernah
terputus kini terjalin kembali.
“Jujur, aku tidak bisa melupakan kenangan
kita. Meski mataku berusaha tak menatap ke arahmu, namun hatiku tetap mengatur
kaki ini untuk melangkah ke rumahmu. Dari kejauhan aku masih senang menikmati
senyum indahmu, senyum yang tak ingin kusia-siakan, walau hanya sedetik,”
katanya pada waktu itu. Tak ada jawaban lain dariku, selain kata “ya” saat ia katakana
ingin kembali.
Aku sendiri pun sama, tak berniat
menghilangkan wajah manis itu dari pikiran. Melihat senyumku terkembang, ia
ambil selembar kertas, lalu kata-kata itu dirangkai hingga menjadi puisi paling
indah di dunia.
Tak
ada raut indah selain wajahmu
Tak
ada senandung indah selain ucapmu
Tak
ada pemandangan indah selain senyummu
Dan
namamu selalu tersanjungkan di hati terdalamku
Aku
yang berharap bisa memiliki
Hanya
bisa berikan cinta
Namun
percayalah
Suatu
saat akan ada masanya untuk kita bahagia
Aku
belajar terbiasa dengan perbedaan kita
Begitu
juga kau
Mencoba
masuk dalam duniaku dari kalangan jelata
Tapi
cintamu seolah menjawab
Kita
akan tetap bahagia dengan cinta
Terima
kasih kekasihku
Atas
cinta setulus pemberianmu
Bertahanlah
selamanya denganku
Hingga
dunia akan sangat terpaku
Melihatmu
bersamaku
“Kita akan bahagia dengan cara kita, bukan
dengan caci maki orang lain. Kita akan tunjukkan pada dunia bahwa tidak ada yang
bisa jadi penghalang. Bahkan ketika bumi terbelah pun, tangan kita tetap
berpegang teguh, menautkan cinta hingga ajal memisahkan.” Ia berjanji tak akan
lagi terpengaruh dengan gunjingan dan cemoohan orang. Kehidupan ibarat langit
dan bumi yang dikatakan orang tak lagi mengoyakkan cintanya.
Kutenggelamkan wajahku. Di pundaknya kutumpahkan
segala rasa haru. Rasanya tak ingin lagi tertatihkan oleh waktu yang dahulu membela
mulut-mulut tak bersekolah itu. Kupikir, apa peduli mereka? Ini kehidupan cintaku.
Hanya aku yang bisa menentukan jalannya, termasuk untuk mencintai pria tak
berharta seperti dia. Aku bahagia karena menjadi alasannya untuk kembali
tersenyum.
#komunitasonedayonepost
#ODOP6
1 komentar:
Kak Imassss, cerita renyah dan asik, gurih bgt cara penyampainnya
Posting Komentar