Senin, 15 Oktober 2018

Biografi Ayah Hebat


Namanya Kasarah, biasa dipanggil Sarah. Terdengar seperti nama perempuan, tapi ia adalah seorang laki-laki. Kasarah lahir di Indramayu, 18 Maret 1957. Di usianya yang menginjak 61 tahun, ia sudah dikaruniai dua orang anak. Anak pertamanya bernama Tarinah yang lahir pada 14 Juni 1986, sedangkan anak keduanya bernama Masniah yang lahir pada 9 September 1990.
Kasarah menikah dengan Rustani yang lahir pada tanggal 7 Mei 1965. Ia tidak mengenyam pendidikan sama sekali, sehingga susah untuk mendapatkan pekerjaan. Untuk menghidupi keluarganya, berbagai profesi pernah ia jalani. Kasarah pernah merantau di ibu kota dan menjadi tukang becak. Pulang hanya dua bulan sekali, bahkan terkadang lebaran pun hanya pulang sehari.
Beberapa tahun kemudian, ia kembali ke Indramayu dan menjadi tukang pembuat batu bata. Ia menyewa tanah di pinggiran sawah sebagai lahan pembuatan batu bata, yang kemudian ia jual sesuai dengan kesepakatan harga. Seharian penuh waktu ia habiskan di lahan batanya, karena proses pembuatan yang memerlukan pengawasan. Pulang ke rumah hanya untuk makan, mandi, dan beribadah. Di hari Minggu, terkadang ia membawa kedua putrinya ke lahan untuk bermain dan menghabiskan waktu libur.
Semakin beriringnya waktu, anak-anaknya semakin tumbuh besar. Kebutuhan hidup pun semakin meningkat. Hal tersebut yang mendorongnya untuk memutar otak. Dari hasil menjual batu bata, ia bisa menyewa sawah yang kemudian digarapnya sendiri. Perjuangan tanpa lelahnya berbuah manis. Ia mampu membeli sepetak sawah dan menjadi mata pencahariannya yang utama.
Menjadi petani sawah tidak membuat Sarah puas. Ia tetap menggarap sawah sambil mencari pekerjaan yang lain. Sampai ia bekerja sebagai tukang kuli di sebuah Koperasi Unit Desa di desa Patrol. Badannya memang kurus kecil, tetapi Sarah tidak pernah mengeluh. Cita-citanya hanya satu, menyekolahkan kedua anaknya agar bisa menjadi orang sukses. Ia berharap mereka tidak menjadi sepertinya yang harus bekerja dengan otot dan menghadapi teriknya matahari.
Pengorbanan Sarah tak sia-sia. Dengan berbagai kekurangan dan cemoohan dari para tetangga, kedua putrinya kuliah dan lulus di tahun yang sama, yakni pada tahun 2013. Kini putrid pertamanya sudah bekerja sebagai bidan di Puskesmas Sukra, sedangkan putrid keduanya bekerja sebagai guru di SMK Negeri 1 Anjatan.



#tantanganODOP5
#onedayonepost
#odopbatch6
#nonfiksi

5 komentar:

Yeti Nuryeti mengatakan...

Seorang ayah yang hebat

Agus Khairi mengatakan...

Petani hebat

Unknown mengatakan...

Mudah2an sll diberikan kesehatan dan kekuatan.

Unknown mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Evita FL mengatakan...

Masya Allah, luar biasa 😊