Kepada Zainal,
Rahmat menitipkan surat izin. Hari ini Rahmat tidak masuk sekolah karena diare.
Sampai tadi siang, sudah delapan kali Rahmat harus bolak-balik kamar mandi. Mungkin
akibat kebanyakan makan seblak pedas setelah pulang sekolah kemarin.
Keesokan
paginya, kelas Rahmat riuh. Terdengar kabar bahwa hari ini akan ada ulangan
Matematika dadakan. Sampai tiba waktunya, pak Ahmad datang. Dengan tampilan
kumis lebat dan suara berat, pak Ahmad merupakan guru yang paling ditakuti siswa,
terutama anak-anak nakal macam Zainal.
“Pulpenku
mana?” wajah Rahmat terlihat bingung, mencari-cari pulpen hitamnya.
Seluruh isi
tas dibongkar, kolong meja pun ikut jadi sasaran. Sementara itu, di samping
Rahmat, Zainal terlihat sangat tenang.
“Selain kertas
dan pulpen, tidak ada benda lain di atas meja,” tegas pak Ahmad hendak memulai
ulangan.
Rahmat semakin
tegang. Keringat dinginnya bercucuran. Benar dugaannya, pak Ahmad menyuruhnya
berdiri di depan kelas dengan kedua tangan memegang daun telinga.
Rahmat
menggerutu dalam hati, “Sial.”
Bergaya seolah
sedang menghitung angka, Zainal asyik mencoret-coretkan pulpen hitamnya. Di
antara tinta-tinta yang keluar, ada suara lirih hampir tak terdengar.
“Kamu terlihat
murung dan sedih. Kenapa?” tanya kertas putih di hadapan pulpen hitam.
“Aku sedih
melihat pemilikku. Lihat, dia dihukum atas kesalahan yang tidak dilakukannya,”
jawab pulpen hitam yang berada di tangan Zainal.
“Maksudmu?”
tanya kertas putih kembali.
“Jika aku tak
diambil oleh orang yang memegangku sekarang, soal-soal itu pasti sudah ditaklukkan
oleh pemilikku. Di tangannya, aku bisa menggoyang-goyangkan tubuh kecilku,
memecahkan angka dan deretan huruf dengan lincah. Aku pun bisa dengan cepat
memenuhi kertas ulangan dengan isian yang tepat karena setiap malam pemilikku
selalu mengajakku untuk bersafari di buku-buku latihannya. Tidak seperti orang
yang memegangku saat ini. Aku diambilnya tanpa sepengetahuan pemilikku. Ia
menghabiskan tintaku hanya untuk membuat gambar pesawat, sedangkan kau yang
seharusnya diisi dengan jawaban soal ulangan, baru berisi identitasnya saja,”
jawab pulpen hitam panjang lebar.
“Kemarin aku
tak melihatmu di meja ini,” kata kertas putih.
“Iya. Pemilikku
sakit. Dengan tintaku juga ia menulis surat izin kemarin. Mungkin itu adalah masa terakhir kami bersama karena kini aku sudah berpindah tangan.”
Pulpen hitam
kembali muram. Tiba-tiba terdengar suara dari dalam kolong meja Zainal. Sebuah buku
bersampul biru berkata, “Lihat aku! Tubuhku masih putih bersih, karena ia
jarang mengisiku dengan catatan ataupun latihan. Tintamu juga akan awet jika di
tangannya.”
“Aku lebih
suka dengan pemilikku yang dulu, dengannya hidupku jadi bermanfaat. Aku bahagia
walaupun harus kehabisan tinta,” jawab pulpen hitam.
Pulpen hitam sebenarnya
ingin melepaskan diri dan berlari ke pemiliknya, tetapi ia tidak mempunyai
kekuatan. Ia menutup mata, pasrah dengan keadaan, setidaknya sampai jam ulangan
Matematika selesai.
#TantanganODOP6
#onedayonepost
#odopbatch6
#fiksi