Rabu, 19 September 2018

Maafkan Bapak

Ketika turun dari motor Honda tuanya, yang terlihat dari wajah Rina adalah kemarahan. Bibirnya terkunci rapat, sedang seragam putih abunya basah dengan keringat. Kakinya dengan cepat melangkah ke dalam rumah berdinding bambu.
Langit sudah menggelap. Seorang lelaki tua meringkuk di atas dipan reot. Ia membukakan mata ketika mendengar suara langkah kaki menyapu tanah.
"Rina, kamu sudah datang. Tadi tanaman di ladang rusak karena serangan hama, jadi Bapak membereskannya dulu. Bapak capek, tadi istirahat sebentar, tapi Bapak malah ketiduran. Maafkan Bapak, Rina..." lelaki tua itu bangun dan menghampiri anak gadisnya. Rina tak menjawab. Ia sama sekali tak peduli dengan tampilan lelah di wajah ayahnya.
"Kamu sudah makan, Nak?" tanya pak Soleh dengan penuh rasa bersalah.
"Kamu mau makan apa? Biar Bapak yang masak. Tapi maaf, Nak, di dapur hanya ada nasi dan tempe. Bapak belum punya uang buat beli bahan makanan yang lainnya.”
Ditatap mata ayahnya dalam-dalam. Bukan senyum ramah, melainkan hardikan yang diterima pak Soleh.
"Memangnya Bapak pernah memberi aku makan yang enak? Tiap hari tahu, tempe, tahu, tempe, paling hebatnya telur ceplok. Itu pun terhitung sebulan sekali. Bapak itu bukan bapak yang baik. Bapak tidak pernah memberikan apa yang aku minta."
Mendengar kata-kata anaknya, tubuh kurus pak Soleh bergetar, meski perlakuan seperti itu bukanlah pertama kali baginya.
“Jangankan makan enak, buat sekolah saja aku harus menahan malu tiap hari. Baju putih yang aku pakai ke sekolah ini baju sejak SMP. Enam tahun, Pak... dan Bapak tidak pernah membelikan baju baru. Rok abu-abu ini saja dapat dikasih tetangga. Terus Bapak bisanya apa?"
"Maafkan Bapak, Nak..." suara miris itu terdengar semakin parau.
"Sekarang Bapak lihat baju aku yang basah ini. Motor butut itu mogok, Pak. Aku harus mendorongnya berkilo-kilo, ditambah Bapak tidak memberikan uang untuk membeli bensin. Semua ini salah Bapak. Bapak tidak bisa memberikan kebahagiaan buat aku. Aku menyesal jadi anak Bapak..."
Tanpa mengindahkan ayahnya yang masih terisak, gadis berambut sepinggang itu membanting gelas seng yang sedari tadi terpajang di meja dekat dipan reot ayahnya. Napas pak Soleh tersengal, kedua tangannya menutup muka, dan kadang mengusap air yang mengalir dari mata.
"Maafkan Bapak, Nak..."

#tantanganODOP2
#onedayonepost
#odopbatch6
#fiksi

Selasa, 18 September 2018

Ini Bukan Senyummu

Ini bukan senyummu. Ini senyum kepalsuan yang kaumanipulasi menjadi senyum kebahagiaan. Dia memanjakanmu, menghadirkan segudang madu untukmu, menghayalkan surga hidupmu. Namun, dia pula yang menghancurkan kebahagiaan itu. Semua hanyalah semu.
Kau sempat berpikir akan hidup bersamanya. Lelaki beragama dengan penuh kesederhanaan, menjanjikan sebuah ikatan perkawinan. Kau mencintainya, ia pun mencintaimu. Semua berjalan dengan indah tanpa rintangan yang kau artikan.
Apakah kau membenci ayahnya? Entahlah. Ingin rasanya kautukar ayahnya dengan ayah yang lain agar kau tetap bisa bersama lelakimu. Kau menganggap ayahnya adalah seorang ayah yang tidak bertanggung jawab. Melepas kewajiban terhadap anak-anaknya, sehingga mengharuskan si dia melepasmu, demi harus menghidupi ibu dan adik-adiknya.
Dia mengkhawatirkanmu. Jika kalian tetap bersama, ia takut tak bisa membahagiakanmu. Karena ia harus membagi waktu, kasih, sayang, bahkan uang. Sesungguhnya kau tak merasa keberatan. Tapi sayangnya mulutmu terkunci. Tak ada satu pun kata yang terucap saat ia berkata menyerah. Ketika itulah kau merasa menjadi manusia paling bodoh. Kau pandai berkelakar dengan yang lain, tapi tidak kali ini. Jangankan menolak keputusannya, menatap matanya saja kau tak berusaha bisa.
Kau sadar bahwa sebenrnya kalian masih bisa hidup bersama. Namun, egomu yang membuat jarak itu semakin melebar. Dinding perpisahan semakin mengeras, seiring kerasnya hatimu dan hatinya yang tetap bertahan dengan keinginan masing-masing.
Lalu kau merasa ini sungguh berat. Kau ingin menangis. Tapi entah kenapa hari ini kau tak cengeng seperti biasanya. Air matamu membeku, mungkin karena kau ingin terlihat kuat. Tapi sayang seribu sayang. Kau bukanlah orang berhati baja. Kecewa? Iya. Sakit? Pasti. Tapi kau pun tak bisa berbuat apa-apa.
Kaupikir itu tidak adil buatmu. Harusnya bukan kau yang menjadi korban dalam keadaan ini. Sekali lagi bukan kau. Hari ini kau merasa terpuruk. Membayangkan bagaimana perasaan ayah ibumu, mendengarkan hubunganmu dengannya yang tak bisa berlanjut. Pertanyaannya, bisakah kau membuang semua kenangan indah dengannya? Mampukah kau menghapus mimpi-mimpi manis yang akan kau bangun bersamanya? Akankah ada pengganti yang seperti dia?

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Senin, 17 September 2018

Manda dan Kian

"Jangan menangis."
Hanya kalimat sendu itu yang kudengar darinya. Setelah enam bulan tak bertemu, air mataku tak tahan untuk berurai. Rindu pasti, tapi ada hal lain yang membuat mataku panas melihat perbedaan pada dirinya.
Cukup lama kami bergulat dengan diam. Anak angin perlahan mengibaskan helaian rambut yang sedari tadi menutupi mukaku, menyembunyikan mata yang sembab.
"Di tempat ini aku menyatakan cinta. Taman ini juga yang akan memberikan jawaban akan kelanjutan hubungan kita,” katanya. Kulihat kepalanya tertunduk. Namun aku masih tetap dengan diamku.
"Mungkin diammu itu adalah sebuah jawaban. Aku cukup mengerti..."
Kudengar ia menghela napas. Aku pun sudah bosan dengan diamku.
“Dari awal, sekarang, atau sampai kapanpun, aku menerimamu dan tak peduli dengan keadaanmu." Mendengar jawabanku, perlahan ia mengangkat wajahnya. Aku menghampirinya, lalu kupeluk laki-laki berkulit langsat itu.
"Apa kau siap menjalani hubungan dengan orang cacat seperti aku?" Aku tak peduli dengan pertanyaannya. Masih kupeluk ia yang duduk di kursi roda.
“Kianku yang sekarang ngga kalah ganteng dengan Kianku yang dulu ko," jawabku dengan senyum simpul. Awalnya memang sulit, tapi rasa sayangku padanya mengalahkan dari kesulitan apapun.
“Aku takut ayah dan ibumu tak menerimaku,” kata Kian saat kuminta ia bertemu dengan orang tuaku.
“Biarkan ini menjadi roller coaster kehidupan kita. Manda dan Kian tak akan terpisah, seperti janji pertama kita. Dan aku siap menjadi kaki buatmu."
Dua minggu berlalu. Bahagia luar biasa saat kutahu ayah dan ibu sama sekali tidak keberatan dengan keadaan Kian. Ayah dan ibu merestui rencana pernikahanku. Semua persiapan telah dilakukan. Gedung, tenda, catering, undangan, semua sudah siap. Layaknya pasangan pengantin, aku dan Kian menjalani masa pingit. Rindu tak terbendung, akhirnya datanglah hari yang dinanti itu.
Kebaya putih telah melekat di tubuhku. Melati bergelantung di rambutku. Kondenya memang berat, tapi lebih berat rasa rinduku pada Kian. Bahagia luar biasa, dalam hitungan jam aku akan menjadi Nyonya Kian Mandala.
Ponselku berdering. Muncullah nama Kianku dalam layar.
"Hallo... Manda..." kudengar suara dari seberang sana. Suara itu tak asing, tak lain itu suara Mba Risna, kakak Kian.
"Iya, Mba..." jawabku. Jantungku berdegup kencang, sayup-sayup terdengar suara isak mba Risna.
"Kian..." suara mba Risna kembali tertahan.
"Ada apa dengan Kian, Mba? Kian di mana? Akad nikah setengah jam lagi, tapi kenapa Kian belum datang juga?"
Mba Risna tak menjawab. Suara isak itu semakin terdengar jelas.
"Kian sudah tenang, Manda. Ia sudah tidak merasakan sakit lagi."
Tidak. Dengan sekuat tenaga kupastikan ini hanya mimpi. Tapi seketika aku terbangun. Setengah jam perjalanan kutempuh, kulihat wajahnya putih bersih. Ia tidur dan tersenyum, seolah ingin bangkit dan menyapa kedatanganku. Tiba-tiba mba Risna menepuk bahuku dari belakang, mengalihkan pandanganku dari jasad Kian.
“Kakinya lumpuh bukan karena kecelakaan, tapi karena kanker tulang yang menggerogoti tubuhnya. Ia sangat mencintaimu, Manda. Ia tak mau membagi sakit denganmu. Lihatlah. Ia tersenyum saat menyebut namamu dalam napas terakhirnya.”

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Minggu, 16 September 2018

Katamu

Katamu
Kita adalah sepasang burung dara
Terbang berdua mengepakkan sayap
Yang tak memikirkan apa itu duka

Katamu
Kita adalah ratu dan raja
Memimpin negeri dongeng penuh cinta
Yang tak lupa bersahaja pada rakyatnya

Katamu
Kita harus berpisah
Tanyaku
Apakah sebabnya
Jawabmu
Akal kita tak searah
Pintaku
Asal bukan karenanya

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Sabtu, 15 September 2018

Kita Lebih Indah

Merah
Hijau
Biru
Itulah warna

Satu
Dua
Tiga
Itulah angka

Aku
Kamu
Orang tua
Itulah kita

Adakah yang lebih indah?
Kurasa tidak

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Mengapa?

Cemburuku karenamu
Karena banyaknya keusilan matamu
Lirik sana lirik sini sesuka hatimu
Sedang aku tak terlihat olehmu

Aku yang tak bisa bersembunyi dalam tawa
Mengasingkan naluri tuk tak kenal luka
Adillah pada rasaku
Yang s'lalu berjuang untuk terus merindu

Kau mengembara di negeri asing
Pernahkah kau niatkan untuk kembali
Pada hati kecil penuh misteri
Namun entah kenapa kau tetap d hati

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Kamis, 13 September 2018

Ikhlas

Aku rela meluruhkan air mata untukmu
Sungguh rela
Aku ikhlas menjatuhkan hati untuk mencintaimu
Sungguhlah ikhlas

Kekasihku, dengarlah
Ada bisikan lirih ingin menyapa

Hatimu t'lah kukenali
Kau berdusta sekata pun akan kupahami
Tapi kau mencoba menafiknya
Lalu kau tenggelamkanku pada rasa bersalah

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6