Rabu, 27 September 2017

BAHAGIA UNTUK IZZA



Memiliki wajah yang rupawan tak selamanya bisa menjamin kebahagiaan bagi seorang wanita. Bagi sebagian wanita, kecantikan fisik memang menjadi faktor utama yang menjadikannya bahagia, tapi tidak bagi seorang gadis berkulit putih keturunan Tionghoa, Izza. Memiliki rambut panjang hitam yang selalu tergerai, mata sipit, hidung mancung, dan serba-serbi kelebihan lainnya tidak menjadikan hari-harinya penuh warna cerah. Sebaliknya, penuh awan mendung yang selalu menyelimuti hati kecilnya.
“Izza, ini ada opor buat kamu. Dimakan, ya...” bu Tati memberikan bungkusan hitam dari tangannnya.
“Wah.. Bu Tati emang kokiku yang paling mengerti,” jawab Izza sambil mengulum senyum di bibir tipisnya.
Sejak kecil, Izza sering dititipkan ke bu Tati kalau mamanya sedang bekerja. Karena pekerjaan mamanya yang tidak memungkinkan membawa Izza yang masih kecil, bu Tatilah yang menjadi pengasuhnya. Tak aneh jika sampai sekarang bu Tati kadang masih memperlakukan Izza seperti anak-anak, maklum ia sendiri tidak mempunyai anak sejak dua puluh tahun menikah.
“Mamamu belum pulang?”
“Belum, Bu. Bu Tati seperti tidak tahu pekerjaan Mama saja. Pasti jam segini belum pulang, kan?”
“Ibu juga tidak habis pikir sama mama kamu. Kenapa dia tidak berhentis aja dari pekerjaannya itu? Kan masih banyak pekerjaan lain. Maaf, Izza... Bukannya Ibu lancang mau ikut campur urusan keluarga kamu, tapi Ibu kasihan melihat kamu seperti ini. Bagaimanapun juga kamu kan juga masih butuh perhatian dari Mamamu.”
“Izza juga berpikir seperti itu, Bu. Tapi Izza tidak bisa berbuat apa-apa.”
“Terusmau sampai kapan kamu sendiri seperti ini?:
“Maksud Bu Tati apa?”
“Kamu cari pacar lah,supaya ada yang menemani kalau mama kamu sedang tidak di rumah.”
“Apaan sih Bu Tati ini? Izza kan malu...”
“Ibu kan juga pernah muda, Za...”
Dua anak manusia itu bersenda gurau, tak terasa hari hampir berganti. Seperti biasa, bu Tati menemani Izza sampai mamanya pulang, seperti hari itu.
Anak kupu-kupu malam, julukan yang acapkali mendarat di telinga Izza. Geram, kesal, marah, kecewa, memang sering dirasakan Izza, tapi ia merasa tak berdaya dengan keadaan. Hal itulah yang membuatnya tak sebahagia gadis-gadis lain.
“Ma, mau sampai kapan Mama seperti ini? Izza sudah bukan anak kecil lagi, bukan anak yang belum mengerti waktu diledek teman-teman. Izza malu, Ma...”
“Eh, Izza... Kalau Mama tidak kerja, kita tidak akan bisa makan dan kamu tidak akan bisa sekolah sampai sekarang.”
“Tapi kan masih banyak pekerjaan yang lain, Ma...”
“Pekerjaan apa? Di kota sebesar ini tidak ada jaminan buat kebahagiaan kita kalau hanya mengandalkan kejujuran. Lagipula kamu ini, seperti orang baru saja. Semenjak papa kamu menghianati Mama dan meninggalkan kita, bagi Mama tidak ada keadilan di dunia ini. Jadi buat apa Mama menjadi orang yang baik, sedangkan orang lain bisa jahat sama kita?”
Begitu bencinya mama pada papa Izza, laki-laki yang membuat gadis manis itu tak pernah mengenal sosok ayah. Ia pergi bersama wanita lain ketika Izza masih berumur tiga bulan, dan mulai saat itulah mamanya menjadi wanita malam. Ia dididik menjadi gadis yang tak boleh percaya dengan laki-laki, karena menurut mamanya semua laki-laki itu sama.
“Izza, foto siapa ini?” tanya mama Izza sembari menunjukkan selembar foto yang ia temukan dari buku pelajaran anak semata wayangnya itu, yang tak lain adalah foto Taufan.
“Sudah berapa kali Mama bilang, kamu jangan pernah berhubungan sama yang namanya laki-laki. Yang ada kamu cuma akan sakit hati.”
“Itu cuma foto kakak kelas yang Izza suka, Ma.Dia laki-laki yang baik dan tidak seperti yang Mama katakan.”
“Tahu apa kamu tentang laki-laki? Mama jauh lebih pahamdari semua pengalaman pahit yang Mama alami.”
“Mama, tolong... Tidak semua orang itu sama dengan yang Mama pikirkan. Di dunia ini memang banyak orang jahat, tapi tetap ada laki-laki baik dan tulus. Pengalaman setiap orang itu tidak sama, Ma... Kenapa sih Mama harus berpikir seperti itu? Apa Mama tidak mau Izza bahagia?”
“Mama sayang sama kamu, makanya Mama bersikap seperti ini. Mama tidak mau kamu merasakan apa yang Mama alami. Sakit, Za... sakit...” mama Izza mengelus dadanya, terlihat setitik embun yang akan menetes dari pelupuk matanya.
“Sampai kapan pun Mama tidak akan pernah mengizinkan kamu pacaran,” lanjut mama.
“Izza tahu Mama sayang sama Izza, tapi sampai kapan Izza akan seperti ini? Izza juga mau seperti teman-teman yang lain. Izza juga berhak bahagia, Ma.”
“Kamu sudah punya Mama dan kebahagiaan itu bisa kita rangkai berdua.”
“Tapi, Ma....”
“Sekali tidak, tetap tidak. Cukup Mama saja yang menanggung semuanya.”
Pelukan hangat mama membuat Izza sedikit lebih tenang. Izza hanya bisa meratapi keadaan. Ingin rasanya ia mengutuk dunia yang dirasanya tidak adil pada kaum lemah, kaum yang teraniaya. Di satu sisi, mama adalah sosok pahlawan dalam hidupnya. Namun, ia pun ingin merasakan seperti yang dicurhatkan teman-teman sekelasnya. Setidaknya, ada hal lain yang bisa menambah semangat belajarnya.
“Aku malu, Bu.”
“Malu kenapa? Mungkin trauma yang menyebabkan mama kamu jadi seperti itu. Dengan pengalamannya yang pahit, mama kamu seolah ingin melampiaskan kekesalannya pada semua laki-laki.” Dengan lemah lembut, Bu Tati mengelus rambut Izza yang kala itu terurai lurus.
“Mama pernah cerita, dia merasa sakit hati dan mau balas dendam. Dengan menjadi wanita malam, mama akan menghancurkan rumah tangga orang lain. Setelah itu, akan ada banyak wanita yang merasakan rasa sakit hati yang pernah mama rasakan.”
“Hidup memang penuh cobaan dan masalah. Bagi sebagian orang, dunia ini memang kejam. Yang penting, bagaimana kita harus menyikapinya. Kamu sabar ya, sayang...”
Keduanya saling tersenyum.
“Apa yang harus Izza lakukan, Bu? Izza bosan mendengar cemoohan teman-teman. Apalagi saat pembagian buku raport kemarin, teman-teman ramai meledek karena waktu itu mama pakai pakaian seksi. Izza tidak suka mama ditertawakan seperti itu, tapi mama tidak mau mendengarkan permintaan Izza. Izza tidak tahu harus dengan cara agar mama mau berubah, Bu.”Bu Tati tak menjawab, namun genggamantangan dan pelukannya sedikit menentramkan perasaan Izza.
Ketika Izza mencoba memberontak, mamanya marah keras, bahkan Izza sampai dilarang untuk ke sekolah. Sudah hampir seminggu ia tak masuk sekolah, hanya menghabiskan waktu dengan sepinya suasana kamar. Bu Tati pun tak dapat berbuat apa-apa, karena kamar Izza dikunci ketika mamanya tak ada di rumah.
“Kasian Izza, May.” Bu Tati mencoba berbicara pada mama Izza ketika dirasanya sikap Maya sudah melewati batas.
“Apa urusan Bu Tati bicara begitu?”
“Saya ingin melihat keadaan Izza.”
“Izza baik-baik saja”
“Sudah berapa hari ini Izza tidak masuk sekolah. Dia butuh bersosialisasi dengan lingkungan luar.”
“Urusan Bu Tati cuma menjaga Izza kalau saya sedang tidak di rumah, tapi bukan mencampuri urusan keluarga kami lebih dalam. Jangan bawa pengaruh buruk buat Izza, Bu. Akhir-akhir ini Izza sering melawan saya, jangan-jangan Bu Tati yang menghasutnya”
“Sebelumnya saya minta maaf, Maya. Tapi apa tidak sebaiknya Izza dibiarkan saja dengan pilihannya sendiri? Menurut saya Izza sudah cukup dewasa untuk menyikapi masalah-masalah dalam hidupnya. Anak seusianya juga ingin pendapatnya didengar.”
“Memangnya saya minta pendapat Ibu? Izza itu anak saya, saya tahu apa yang terbaik buat dia. Bu Tati tidak usah ikut campur karena saya tidak akan pernah mengubah keputusan. Kebahagiaan Izza adalah tanggung jawab saya, apapun akan saya lakukan untuk membuat dia tertawa.”
“Izinkan saya untuk bertemu dengan Izza. Saya hanya ingin melihat keadaannya saja.”
“Sudah saya katakan kalau Izza baik-baik saja dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kalau sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, Bu Tati boleh pergi dari rumah saya sebelum ada masalah-masalah baru lagi.”
“Baik, Maya.Tapi satu hal yang kamu harus ingat. Bukan cuma kamu yang mau dimengerti, tapi anakmu juga.”
Sampai di suatu waktu, di mana semua orang penuh sesak, tak terkecuali mama Izza dan bu Tati, ikut melengkapi suatu acara yang sakral dan khidmat. Terlihat sekelompok ekor burung mengepakkan sayapnya di atas awan, ikut menghadiri acara yang sepertinya tak mau dilewatkan oleh setiap orang.
Dengan membawa sebuah keranjang penuh warna, sekali-sekali bu Tati menyeka air matanya, entah karena rasa haru atau karena sebab lain. Di sampingnya tengah duduk mama Izza. Dengan berlinang air mata, ia terus menatap ke satu titik di depannya. Tanah merah yang masih basah itu membuat semua tamu tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun.
Hari di mana gadis malang itu tak lagi dapat menahan beban yang dititipkan Tuhan kepadanya. Ia menyerah dengan keadaan, menghentikan semua dengan tangannya sendiri. Sungguh malang nasib gadis itu, racun itu telah menghancurkan masa depannya.
“Saya yang harus disalahkan dengan keadaan ini. Saya terlalu meninggikan ego, tapi tidak memikirkan perasaan Izza. Saya menyesal...” wanita setengah baya itu tak kuasa menahan tangis, teringat wajah anak semata wayang yang sangat ia cintai.
“Izza pernah cerita kalau dia sangat menyayangimu, May. Selama ini dia hanya memendam rasa sedihnya karena tidak mau melihat kamu semakin sedih dengan keluhannya. Izza sering melihatmu menangis di kamar, tapi dia tidak berani menanyakannya. Yang saya tahu, setiap hari Izza selalu mengatakan sayang pada mamanya di dalam tulisan diary.”
Mama Izza mendapati diary Izza di dalam laci kamarnya. Ada perasaan haru saat ia membuka diary perlahan. Foto Izza saat masih kecil yang digendong mamanya terpampang di halaman depan diary pink itu. Dengan usaha meneguhkan hati, mama Izza terus membuka isi diary yang semakin menyedot perasaannya itu.
“Ingat masa dulu bersama mama, Izza ingin seperti dulu. Kalau boleh, Izza ingin menjadi anak kecil mama, yang masih bisa merasakan hangatnya peluk dan cium mama. Izza ingin waktu bersama mama, bukan hanya uang, baju, makanan, tas, lipstik, bedak, parfum... Izza tahu mama berjuang menjadi ibu sekaligus ayah, tapi Izza tidak mau mama sampai mengorbankan diri demi Izza.
Izza kesepian, Ma... Izza butuh teman buat berkeluh kesah, sedangkan Mama tidak ada waktu buat Izza, meski hanya sehari penuh... Izza sering menunggu Mama pulang untuk bertukar cerita, tapi mama pulang terlalu larut malam, bahkan sampai dini hari dan Izza sudah tidur. Waktu Izza sarapan pagi mau berangkat sekolah, Mama masih tidur di kamar. Padahal Izza ingin sekali sarapan ditemani Mama dengan canda dan tawa. Tapi semua itu tidak menyurutkan rasa sayang Izza sama Mama, Izza tetap anak Mama yang selalu sayang pada pahlawan wanitaku. Maafkan Izza kalau suatu saat nanti Izza tidak kuat lagi bertahan. Izza sayang... Izza sayang sama Mama....”
“Mama juga sayang sama Izza... Maafkan Mama, Mama menyesal. Mama ingin Izza ada di sini dan Mama janji akan memberikan yang Izza mau. Mama akan berhenti bekerja dalam dunia gelap, Mama akan membuat Izza bangga. Katakan apa yang harus Mama perbuat agar kamu kembali lagi ada di sini? Menjadi anak Mama yang manis, sayang...”
Mata Maya membengkak. Air dari matanya tak berhenti sedetik pun. Mengapa kisah itu harus berakhir dengan penyesalan? Di saat semuanya bisa dikatakan terlambat, di saat tidak ada lagi jalan untuk merubah kekhilafan.

1 komentar:

Wira Satya Nagara mengatakan...

Kak Ima, di blog kk ndak ada widget follow blog nya, jdi aku ndak bisa follow kk, aku cuma bisa follow akun Gplus nya doank kak, Btw Cerpennya bkin seolah-olah sungguh terjadi, karena membawa emosional pembaca, apa ini diambil dari kisah nyata?