Minggu, 30 September 2018
MAR
Sabtu, 29 September 2018
Aku Malu pada-Mu
Jumat, 28 September 2018
Ketika R Menduri Hati
Ini bukan salahmu, kau mengikuti garis takdir hidupmu saja. Kau hanya mengiyakan saat Dia mendatangkannya. Ini bukan salahmu, kau hanya menjalani alur langit dan bumi, mengalirkan syair tentang segi tiga. Ini bukan salahmu saat orang memandang surat undangan dalam genggamanku. Ini bukan salahmu saat foto di undangan itu adalah fotomu dan bidadarimu. Ini salahku, pandai menyimpan rasa, takut menumbuhkan cinta, aku pula yang tersiksa.
"Kemarin aku bertemu dengannya," kata Ane tadi pagi.
"Apa dia mengatakan sesuatu?" tanyaku.
“Dia hanya menitipkan surat undangan itu."
Kembali kutatap surat yang masih terlipat di telapak tanganku, warna merah. Seperti ada api di dalamnya mataku, semakin lama api itu kian membakar. Tak tahan, kutumpahkan saja semuanya. Sedang Ane tak mampu berbuat apapun.
Bangku di taman itu menjadi saksi bisu betapa sesaknya rasa ini. Sangat sakit. Tangan mulus Ane perlahan merangkul pundak yang tak sadar kugetarkan. Di pundak Anelah aku memuaskan rasa ingin menjerit, menangis, dan menghilang. Teriakan yang tak terdengar, hanya tersimpan dalam hati.
Sembilan bulan yang lalu ia dan aku bertemu untuk pertama kalinya di acara pertunangan Ane. Setelah acara selesai, Ane memperkenalkan seorang laki-laki. Sosok pendiam, ramah, tapi mampu menarik perhatianku.
“Siapa tahu kalian berjodoh," kata Ane setengah berbisik jahil.
"Regi," suara lembutnya terdengar saat pertama kali ia menyebutkan nama.
“Nurma," jawabku.
Januari 2017 pertama kalinya tangan kami berjabat. Tak butuh waktu lama untuk aku dan Regi saling mengenal. Saling bertukar nomor kontak, menikmati makan malam di pinggir jalan, menghabiskan waktu untuk berbagi cerita.
Mei 2017 aku kembali bertemu dengan Ane. Sejak dipindahkan ke kantor utama, Ane memilih pindah tempat tinggal agar lebih dekat dengan tempat kerjanya.
"Bagaimana kabarmu, Nur?"
"Seperti yang kau lihat."
“Lalu bagaimana dengan Regi? Cieee...." Ane tertawa kecil.
"Maksudmu apa, Ne?"
“Kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu. Lihat, pipimu memerah. Wah, apa kalian sudah pacaran? Kenapa tidak memberi tahu aku? Jahat kamu, Nur. Apa kau sudah tidak menganggapku sahabat?"
Pipiku memerah? Benarkah? Kulirik Ane. Bibirnya terkatup rapat, agak dimonyongkan sedikit rupanya.
“Sudahlah, Ne. Jangan goda aku terus.”
"Tapi aku juga ingin tahu, Nur. Kalian sudah kenal baik, pasti sudah ada perkembangan ke arah yang lebih serius kan? Pacaran kek, tunangan, atau langsung menikah. Kamu suka Regi, kan?" kujawab pertanyaan Ane dengan anggukan malu-malu. Anggukan kepalaku dibalas dengan senyum ringan dihiasi lesung pipit di pipinya.
"Aku sayang kamu, Nur. Aku ingin melihatmu bahagia, dan aku yakin Regilah orangnya. Orang yang selalu bisa membuatmu tersenyum dan tertawa.”
Suasana saat itu sungguh membahagiakan, tak seperti yang sekarang.
"Regi akan menikah. Bukan dengan aku, tapi dengan..." mulutku tertutup, lalu Ane menenangkan.
"Aku pun tak habis pikir, kenapa ceritanya seperti ini. Maafkan aku, Nur...”
"Tidak ada yang bisa disalahkan, Ne. Mungkin Ulfa adalah pilihan Regi. Aku saja yang bodoh, terlalu yakin dengan sikap manisnya. Tanpa aku sadari bahwa ada cinta di antara mereka."
"Tapi Ulfa sahabatmu, dan dia tahu antara kamu dan Regi..." Aku tersenyum, menahan sesak yang menyelimuti hati.
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
Kamis, 27 September 2018
Masih tentang Rindu
Jika kau merindu
Jangan cari aku di dermaga
Karena aku tak lagi di sana
Jika kau ingin bertemu
Datanglah ke rumah
Tentu kau masih ingat jalannya
Beginilah arti merindu
Rinduku juga rindumu
Sayangnya tak mungkin bersatu
Beginikah rasa merindu
Yang tak bertemu di muara satu
Tapi tetap saja merindu
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
Rabu, 26 September 2018
Pengalaman Hidup
Setiap orang pasti punya kenangan dalam hidupnya, baik kenangan manis, pahit, ataupun konyol. Begitu pun aku. Dari masa kanak-kanak hingga berusia kepala dua, tak sedikit kejadian yang bisa dijadikan pengalaman hidup. Teringat pada masa kanak-kanak. Saat aku duduk di bangku kelas empat SD, ayah dan ibuku memutuskan untuk berpisah. Bukan hanya pisah rumah, tapi juga pisah dalam status pernikahan. Waktu itu aku tak memahami alasannya kenapa, karena setahuku tak pernah ada keributan antara ayah dan ibu. Yang aku ingat pada malam itu ayah memeluk dan menciumku sambil menangis. Dengan lirih ia berkata, "Kamu ikut Ayah ya, Nak...." Saat itulah aku mengerti bahwa akan ada jarak di antara kami. Dalam hati aku bertanya, kenapa bukan kakakku saja yang harus memilih?
Ayah selalu mendatangiku di sekolah setiap pagi. Ia memberiku uang, tanpa ketinggalan ciuman hangat di kening dan pipi. Sama sekali aku tidak menyukai keadaan ini. Setiap ayah pergi, aku langsung berlari ke kelas dan menangis. Teman-temanku pun heran, menanyakan apa yang terjadi. Tapi alhamdulillah, beberapa bulan berikutnya orang tuaku rujuk kembali.
Masih di masa Sekolah Dasar. Waktu itu musim hujan, jalan dari sekolah ke rumahku banjir. Saat pulang sekolah, aku kebelet pipis. Kupikir hanya satu kilometer, pasti bisa kutahan sampai rumah. Dengan santai aku dan teman-teman berjalan kaki menyusuri jalan yang sudah digenangi air karena diguyur hujan sejak pagi. Sampai di tengah perjalanan, hujan kembali turun. Jiwa anak-anak kami muncul dan mengajak untuk bermain air hujan. Alhasil, baju kami basah dari atas sampai bawah.
Dari tadi menahan pipis, ditambah kena air hujan yang menambah dingin, tak kuatlah aku. Tanpa sepengetahuan teman-teman, akhirnya mengalirlah air dari bendungan yang bongkah. Mereka tidak mungkin curiga, karena air itu mengalir bersamaan dengan derasnya air hujan yang membasahi seragam cokelatku. Ah, malu rasanya jika kuceritakan. Pengalaman konyolku ini tidak pernah aku ceritakan kepada siapa pun sebelumnya. Sesampainya di rumah, ibu heran. "Kenapa bajumu basah kuyup?" tanyanya. Kujawab sambil tersenyum geli, "Kehujanan."
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
Selasa, 25 September 2018
Pembawa Seplastik Apel dan Jeruk
Bagaimana jika aku merindu
Sosok pembawa seplastik apel dan jeruk
Turun dari motor vario hitam
Mampir saat pulang dari kota karawang
Di malam itu
Ia berikan buah tangannya untuk ibuku
Diterima dengan senyum sedikit kaku
Karena ia adalah orang baru
Bagaimana jika aku merindu
Sosok pembawa seplastik apel dan jeruk
Dan sepertinya aku merindu
Lagi
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6
Senin, 24 September 2018
Pura-Pura Bahagia Itu Menyakitkan
Hari ini, langit begitu panas. Angin enggan menyapaku yang tengah dilanda gelisah. Kemeja batik oranye dengan celana Levis hitam tak membuatku yakin saat kakiku melangkah ke sebuah acara pernikahan. Di sana terlihat sepasang pengantin, bahagia sekali kelihatannya. Mempelai wanita sangat cantik, balutan gaun biru toska menambah keanggunannya. Mempelai laki-laki tampan dengan kemeja putih berbalut jas hitam.
“Lihat Lina, dia cantik, bukan?" tanya Priyo sambil menunjuk sang ratu sehari yang sejak tadi tak pernah menutup senyumnya. Aku tersenyum kecut, mengacuhkan pertanyaan Priyo.
“Sampeyan mau jadi patung di sini atau mau kondangan? Gudeg itu sudah manggil-manggil aku, Den..." kata Priyo dengan memasang wajah kelaparan.
"Pikiranmu makan terus. Katanya kamu mau menemani aku, tapi di otakmu cuma makanan saja," jawabku agak ketus. Jahatnya Priyono, tak peduli dengan rasaku.
“Habis jarang banget ada gudeg di pesta pernikahan orang Jakarta. Kamu ini kaya ndak tahu aku saja..."
"Ya sudah. Kita berikan ucapan selamat ke pengantin dulu. Setelah itu, kamu boleh makan gudeg sepuasnya."
Priyo yang datang bersamaku mengisyaratkan agar kakiku melangkah lebih cepat. Matanya masih saja melirik barisan prasmanan, gudeg itu seolah punya daya tarik yang luar biasa. Sampailah aku di pelaminan bernuansa emas itu. Tinggal lima langkah lagi mataku dan matanya akan saling bertatap, seperti ketika tangannya masih mau kugenggam erat. Tak bisa dimungkiri, keringat dingin membasahi keningku sejak tiga puluh menit yang lalu, tepatnya sejak aku berdiri mematung menyaksikan pemandangan di hadapanku itu. Di sana harusnya aku yang menjadi pemeran utama.
Sampailah aku di hadapannya. Benar saja, keringatku semakin deras ketika senyum khasnya menyapa kedatanganku. Kujulurkan tangan, seraya mengucapkan selamat dan doa, meski sekadar basa-basi. Kebetulan yang menyakitkan. Di saat yang bersamaan, mengalunlah lagu Kandas. Bertambah hancurlah hatiku, suara vokalis organ itu begitu mendayu, membuka imajinasiku dengannya, Lina.
"Terima kasih sudah menyempatkan hadir di acara pernikahanku, Denis," ucap Lina. Dia tersenyum, membuat penyesalan itu semakin memuncak. Bodohnya aku, melepas wanita yang bukan hanya sederhana, tapi ia juga baik, sabar, dan pengertian hanya karena tergoda kecantikan dunia.
“Aku pun berharap suatu saat kamu akan menemukan seseorang yang kauinginkan, yang bisa melihat kekuranganmu menjadi kelebihan yang tak terlihat dari orang lain," lanjut Lina.
“Aku ikut berbahagia untukmu, Lin," sekali lagi kuulurkan tangan kepadanya. Kuanggap sebagai salam perpisahan.
“Pura-pura bahagia itu menyakitkan ya, Den,” kata Priyo sambil menikmati santapannya, langsung kubalas dengan mata melotot.
#tantanganODOP3
#onedayonepost
#odopbatch6
#fiksi