Minggu, 09 September 2018

Buku Harian 2 (part 1)

"Baik-baik di sana."
"Iya..." jawabku singkat, sedangkan dua jari kananku sibuk mengusap titik air terakhir di pipi.
Tidak. Ternyata air mata itu bukan yang terakhir mengalir. Mereka curang, menyerbu mataku yang cuma dua hingga tak mampu menampungnya. Kutumpahkan lewat senggukan yang tertahan. Memoriku mencoba mengulang kembali obrolanku dengannya satu jam yang lalu. Meyakinkan bahwa yang kudengar lewat telepon itu hanya mimpi.
Seorang pria tersenyum riang tanpa beban. Ia sederhana, namun tak mengurangi dayanya untuk menarik perhatianku. Di sudut taman itu aku dan dia bersenda gurau layaknya dua sejoli yang tengah kasmaran. Tangannya sesekali membelai rambutku yang sebahu. Hidung setengah mancungku pun tak elak dari cubitan manjanya. Kubalas dengan senyum dan rengekan manja pula. Bayanganku kembali pada masa itu.
"Kau menerima latar belakang keluargaku?" tanyanya, aku mengangguk.
“Kau tidak malu dengan pendidikanku yang tidak setara dengan...?" aku mengangguk memotong pertanyaannya.
"Kau tidak keberatan dengan pekerjaanku?" tanyanya kembali, aku tetap mengangguk.
"Kau terima aku apa adanya, aku pun menerimu dengan apa yang kau punya. Bagaimanapun keluargamu, dia akan menjadi keluargaku. Aku ikhlas jika kau bagi nafkahmu, karena aku tahu mereka masih membutuhkanmu."
Aku menghela napas. Bibir kami kompak memamerkan senyum termanis yang kami punya. Kerlip lampu taman seolah menjadi pengiring musik syahdu kala itu.
"Pendidikan bukanlah hal utama bagiku. Aku melihat ketulusanmu, bukan embel-embel gelar yang harus ada di belakang namamu. Terakhir, aku memilihmu justru karena pekerjaanmu. Meski kau bukan pegawai kantor berdasi, kau bukan PNS ataupun polisi, yang penting kau ikhlas untuk memberi rezeki. Aku pun bisa menghadirkan bahagia di hati." Kami kembali tersenyum. Kali ini ditambahi dengan sedikit gombalan-gombalan ala kadarnya.
Ah... sudahlah... itu hanya sekelumit kisahku dengannya yang berakhir di tengah jalan. Perjalanan manis yang berakhir pahit. Kalimat terakhir dari seberang telepon itu masih terngiang di telingaku. Aku akan baik-baik saja jika kau tak lagi mempermasalahkan masalah yang kuanggap bukan masalah. Ingin rasanya kuteriakkan kalimat itu agar ia paham bahwa aku mencintainya dengan ikhlas.
Ponselku berbunyi kembali, nada pesan masuk. Masih darinya.
Ketulusan sungguhlah aku rasakan darimu. Tapi coba kau bayangkan bagaimana aku. Jika suatu saat nanti akan ada banyak mulut tetangga yang mencibirku seolah aku tak berkaca diri. Itu akan sangat menyakitkanku dan keluargaku. Kau ikhlas mencintaiku, ikhlaskan pula untuk melepasku.

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Sabtu, 08 September 2018

Antara Amplop, Gawai, dan Ulat

Sebuah amplop merah jambu di tanganmu
Serasi dengan gaunmu
Tampak jelas bola indah menatap ke arahku
Kau tersipu malu di pesta itu

Berpura-pura lagakmu di depanku
Agar aku tak tahu kau perhatikanku
Tapi arah kamera gawaimu
Menjawab semua tanyaku

Aduhai bidadari bergaun brokat
Aku tak ingin menjadi ulat
Yang membuatmu geli dan tak terpikat
Lalu enggan untuk mendekat

#TantanganODOP1
#onedayonepost
#odopbatch6

Jumat, 07 September 2018

Seandainya

Hinakan aku, sayang...
Saat itulah kau tahu aku
Akan terlihat aku di matamu

Seingatku kau memang tak pernah memberikan janji
Ya
Tapi entah mengapa

Fatamorgana itu menyapaku pada suatu waktu
Ia mengabariku tentang sebuah luka
Aku dan kamu ada di antaranya

Intiplah hatiku satu detik saja
Jangan tertawa setelah kau tahu isinya
Tersenyumlah...
Agar tidak lagi ada
Seandainya

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Kamis, 06 September 2018

Imajinasi dan Inspirasi

Jika disuruh menulis, terkadang kita bingung apa yang akan ditulis. Jangankan merangkaikan kata menjadi kalimat, kalimat menjadi paragraf, lalu paragraf menjadi teks. Untuk menentukan idenya pun terkadang butuh waktu lama. Adakah yang pernah mengalami hal semacam itu? Bagi penulis pemula seperti saya, mencari ide tulisan itu seperti mencari jarum dalam jerami (lebay sedikit).
Untuk membuat sebuah tulisan imajinasi dan inspirasi sangat dibutuhkan. Imajinasi berasal dari kata imaji (sesuatu yang dibayangkan dalam pikiran). Menurut KBBI, imajinasi adalah daya pikir untuk membayangkan (dalam angan-angan) atau menciptakan gambar (lukisan, karangan, dsb) kejadian berdasarkan kenyataan atau pengalaman seseorang. Imajinasi juga dapat diartikan sebagai khayalan.
Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk melatih dan meningkatkan daya imajinasi. Pertama, fokus dan serius. Ketika pikiran terbagi, akan susah berimajinasi. Sebaliknya, jika fokus dan serius, khayalan atau gambaran tentang suatu hal akan lebih mudah dimunculkan dalam pikiran, baik berbentuk gambar, rangkaian kata, atau bentuk lainnya. Meskipun terkadang dalam hidup itu harus santai, tapi ada kalanya keseriusan itu dibutuhkan. Kedua, rasa ingin tahu. Semakin meningkatnya rasa ingin tahu, semakin besar pula kesempatan untuk mengembangkan imajinasi. Ketika seseorang mengasah rasa ingin tahunya, secara tidak langsung ia juga sedang berimajinasi tentang apa saja yang akan ia kaji. Ketiga, gali kreativitas. Antara kreativitas dengan imajinasi memiliki keterkaitan yang erat. Keempat, hayalan. Orang yang suka menghayal adalah orang yang mudah berimajinasi. Ia akan terlatih dengan hal-hal abstrak, meskipun tidak dilihat secara langsung.
Selain imajinasi, inspirasi juga dibutuhkan dalam kegiatan menulis. Inspirasi adalah ilham yang bisa muncul lewat apa pun, kapan pun, dan di mana pun. Ketika muncul ide, tulislah. Tak jarang ide itu hanya muncul sekali. Karena manusia itu tempatnya salah dan lupa, lebih baik ide yang muncul langsung ditulis. Cara kedua yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan kunjungan wisata. Dengan menikmati pemandangan alam yang menyegarkan, pikiran dan hati akan tenang. Siapa tahu inspirasi akan muncul di sana. Curahan hati teman pun bisa dijadikan sumber inspirasi dalam membuat tulisan. Sertakan juga daya imajinasi ketika mendengarkan curahan hati orang.
Imajinasi dan inspirasi adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan dalam kegiatan menulis. Ketika kedua hal tersebut dihadirkan, sebuah tulisan akan mempunyai makna karena terkadang menulis itu harus dipaksa.
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Rabu, 05 September 2018

Bahaya Rokok

Larangan merokok bukanlah hal yang baru di kalangan masyarakat Indonesia. Hal tersebut diperkuat dengan tersiarnya kabar tentang fatwa MUI yang mengharamkan rokok beberapa waktu lalu. Perdebatan pun tak dapat terelakkan sebab Indonesia merupakan negara yang jumlah perokoknya cukup besar. Dilansir dari tribunjogja.com, jumlah perokok aktif di Indonesia terus bertambah, hingga kini jumlahnya sudah mencapai 60 juta orang (17/4).
Banyaknya iklan tentang bahaya merokok tidak membuat masyarakat jera. Begitu pun dengan poster yang berisi larangan merokok ternyata tidak menjanjikan untuk ditaati semua pihak. Bukan hanya di jalan, di lingkungan sekolah pun sudah ada peraturan dilarang merokok. Namun, aturan hanyalah aturan. Seluruh siswa dilarang membawa rokok ke sekolah, apalagi mengisapnya di lingkungan sekolah. Jika ada yang kedapatan seperti itu, siswa tersebut akan kena sanksi. Namun, di lapangan banyak guru laki-laki yang dengan santainya merokok di lingkungan sekolah. Yang membuat miris adalah munculnya anggapan Aturan dibuat untuk dilanggar.
Contoh lain adalah ketika di bus umum. Jangankan bus kelas ekonomi, bus AC pun yang notabene tempat tertutup, terkadang masih ada yang menyalakan rokok di dalamnya.  Selain merugikan diri sendiri, para perokok aktif pun merugikan orang lain (perokok pasif). Senantiasa menghirup asap rokok secara pasif dapat meningkatkan risiko seseorang untuk terserang kanker paru-paru sebanyak 25 persen. Selain itu, perokok pasif juga meningkatkan risiko penyakit jantung koroner. Penyakit jantung koroner dapat menyebabkan serangan jantung, nyeri dada, dan gagal jantung (www.aladokter.com).
Masih berdasarkan www.aladokter.com, lebih dari 4000 bahan kimia yang terdapat dalam sebatang rokok. Setidaknya, 60 dari bahan kimia tersebut mampu menyebabkan kanker. Bahan-bahan berbahaya pada sebatang rokok, di antaranya:
1. Karbon monoksida
Zat yang tidak bisa terlihat atau terasa ini, kerap ditemukan pada asap knalpot mobil. Zat ini bisa mengikat diri pada hemoglobin dalam darah secara permanen, sehingga menghalangi suplai oksigen ke seluruh bagian tubuh. Karbon monoksida ini cenderung membuat Anda merasa kehabisan napas dan juga menjadi lebih mudah lelah.
2. Tar
Ketika merokok, kandungan tar di dalam rokok akan ikut terisap. Zat ini akan mengendap di paru-paru Anda dan berdampak negatif pada kinerja rambut halus yang melapisi paru-paru. Padahal, rambut tersebut bertugas untuk mendorong kuman serta partikel asing lainnya keluar dari paru-paru Anda. Tar dalam asap rokok mengandung berbagai bahan kimia karsinogen, yang dapat memicu perkembangan sel kanker di tubuh.
3. Gas oksidan
Gas ini bisa bereaksi dengan oksigen. Keberadaan oksidan dalam tubuh meningkatkan risiko terjadinya stroke dan serangan jantung.
4. Benzene
Zat yang ditambahkan ke dalam bahan bakar minyak ini bisa merusak sel pada tingkat genetik. Zat ini juga dikaitkan dengan berbagai jenis kanker seperti kanker ginjal dan leukimia.
Selain bahan-bahan di atas, masih banyak kandungan zat kimia beracun pada sebatang rokok seperti arsenic (digunakan dalam pestisida), formalin atau formaldehyde (digunakan untuk mengawetkan mayat), hydrogen cyanide (digunakan untuk membuat senjata kimia), dan amonia.
Begitu banyak kandungan berbahaya dalam sebatang rokok. Bayangkan jika Anda mengisap banyak rokok daam sehari, seminggu, sebulan bahkan bertahun-tahun.
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Selasa, 04 September 2018

Dia

Aku adalah sebiji kacang kering tak berwarna
Pahit mungkin, tak ada nilainya
Jika disandingkan dengan sang permata
Yang memancarkan kilau indah dengan harga tak terkira

Aku adalah seekor katak yang terperangkap dalam tempurung
Diam tak mampu berbuat apa
Andai aku bukan aku, andai aku adalah dia
Semua dapat kupinta, kau juga

Dia yang mendukungku tuk dapat bersamamu
Dia mendambakanmu
Dia juga mencintai tatap matamu
Dia sahabatku

Kini kubiarkan diri ini mengais daun kering di atas tanah
Karena tak ada lagi lorong yang dapat menyembunyikan kita untuk bersama
Janji suci yang pernah terucapkan dulu
Lupakanlah.
Hempaskan ia, terbangkan bersama angin lalu

Senja di ufuk barat pun menangis
Melihat tangannya meraihmu
Sedang matamu masih menatap ke arahku

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Senin, 03 September 2018

Buku harian 1

Buku Harian 1
Aku ingin menceritakan ini. Sebuah kisah antara seorang wanita Jawa dengan lelaki keturunan Cina. Mereka diperkenalkan pada suatu waktu. Ada benih cinta yang tumbuh setelah beberapa bulan bersama. Sampai akhirnya ada satu kata sepakat menikah. Pasti bahagia yang mereka rasakan. Tentang rencana tempat tinggal, juga tentang masa depan keduanya sudah dibicarakan dengan matang. Kau tahu apa yang terjadi selanjutnya? Muluskah perjalanan cinta mereka? Ternyata tak semulus pipi model iklan kosmetik di televisi.
Pria bermata sipit itu meminta izin dan restu kepada orang tua angkatnya. Meski kini mereka berbeda keyakinan, si pria bermata sipit itu tetap menghormati kedua orang tuanya. Ketika kecil si pria bermata sipit diasuh di sebuah panti asuhan di kota kembang. Sampai ada satu keluarga berkeyakinan Katolik mengangkatnya menjadi anak. Ia dibesarkan dan diberi kehidupan yang lebih layak. Hingga dewasa ia berkehidupan lebih dari cukup. Tampang yang rupawan, karir mapan, rumah bertingkat, sampai kendaraan antik dimilikinya. Hingga hidayah mendatangi si pria keturunan Cina untuk memeluk Islam.
Kau tebak, apa jawaban ibunya ketika ia meminta restu? Bukan jawabannya yang membuat si wanita Jawa menangis. Air matanya jatuh tak lain karena alasan dari sang calon mertua. Jika alasannya kurang cantik, si wanita Jawa bertekad untuk berusaha mempercantik dirinya. Jika alasannya kurang harta, si wanita Jawa bertekad untuk mencari jalan menjadi kaya. Jika alasannya kurang cinta, si wanita Jawa bertekad untuk memberikan seluruh kehidupannya. Namun bukan itu alasan untuk si wanita malang.
Si wanita Jawa berusaha tegar saat ia dan pria bermata sipit berada di pertemuan terakhir. Si wanita Jawa membalikkan badan, sebagai tanda perpisahan di antara keduanya. Air mata pun tak dapat dibendung. Kejamnya ibu tiri tak sekejam kehidupan cintanya. Salah siapa jika ia terlahir sebagai wanita asli dari sebuah daerah yang terkenal dengan wanita nakalnya? Yang menyakitkan lagi, si pria bermata sipit tak bisa memilih satu di antara dua. Ya, si wanita Jawa memahaminya.
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6