Rabu, 27 September 2017

BAHAGIA UNTUK IZZA



Memiliki wajah yang rupawan tak selamanya bisa menjamin kebahagiaan bagi seorang wanita. Bagi sebagian wanita, kecantikan fisik memang menjadi faktor utama yang menjadikannya bahagia, tapi tidak bagi seorang gadis berkulit putih keturunan Tionghoa, Izza. Memiliki rambut panjang hitam yang selalu tergerai, mata sipit, hidung mancung, dan serba-serbi kelebihan lainnya tidak menjadikan hari-harinya penuh warna cerah. Sebaliknya, penuh awan mendung yang selalu menyelimuti hati kecilnya.
“Izza, ini ada opor buat kamu. Dimakan, ya...” bu Tati memberikan bungkusan hitam dari tangannnya.
“Wah.. Bu Tati emang kokiku yang paling mengerti,” jawab Izza sambil mengulum senyum di bibir tipisnya.
Sejak kecil, Izza sering dititipkan ke bu Tati kalau mamanya sedang bekerja. Karena pekerjaan mamanya yang tidak memungkinkan membawa Izza yang masih kecil, bu Tatilah yang menjadi pengasuhnya. Tak aneh jika sampai sekarang bu Tati kadang masih memperlakukan Izza seperti anak-anak, maklum ia sendiri tidak mempunyai anak sejak dua puluh tahun menikah.
“Mamamu belum pulang?”
“Belum, Bu. Bu Tati seperti tidak tahu pekerjaan Mama saja. Pasti jam segini belum pulang, kan?”
“Ibu juga tidak habis pikir sama mama kamu. Kenapa dia tidak berhentis aja dari pekerjaannya itu? Kan masih banyak pekerjaan lain. Maaf, Izza... Bukannya Ibu lancang mau ikut campur urusan keluarga kamu, tapi Ibu kasihan melihat kamu seperti ini. Bagaimanapun juga kamu kan juga masih butuh perhatian dari Mamamu.”
“Izza juga berpikir seperti itu, Bu. Tapi Izza tidak bisa berbuat apa-apa.”
“Terusmau sampai kapan kamu sendiri seperti ini?:
“Maksud Bu Tati apa?”
“Kamu cari pacar lah,supaya ada yang menemani kalau mama kamu sedang tidak di rumah.”
“Apaan sih Bu Tati ini? Izza kan malu...”
“Ibu kan juga pernah muda, Za...”
Dua anak manusia itu bersenda gurau, tak terasa hari hampir berganti. Seperti biasa, bu Tati menemani Izza sampai mamanya pulang, seperti hari itu.
Anak kupu-kupu malam, julukan yang acapkali mendarat di telinga Izza. Geram, kesal, marah, kecewa, memang sering dirasakan Izza, tapi ia merasa tak berdaya dengan keadaan. Hal itulah yang membuatnya tak sebahagia gadis-gadis lain.
“Ma, mau sampai kapan Mama seperti ini? Izza sudah bukan anak kecil lagi, bukan anak yang belum mengerti waktu diledek teman-teman. Izza malu, Ma...”
“Eh, Izza... Kalau Mama tidak kerja, kita tidak akan bisa makan dan kamu tidak akan bisa sekolah sampai sekarang.”
“Tapi kan masih banyak pekerjaan yang lain, Ma...”
“Pekerjaan apa? Di kota sebesar ini tidak ada jaminan buat kebahagiaan kita kalau hanya mengandalkan kejujuran. Lagipula kamu ini, seperti orang baru saja. Semenjak papa kamu menghianati Mama dan meninggalkan kita, bagi Mama tidak ada keadilan di dunia ini. Jadi buat apa Mama menjadi orang yang baik, sedangkan orang lain bisa jahat sama kita?”
Begitu bencinya mama pada papa Izza, laki-laki yang membuat gadis manis itu tak pernah mengenal sosok ayah. Ia pergi bersama wanita lain ketika Izza masih berumur tiga bulan, dan mulai saat itulah mamanya menjadi wanita malam. Ia dididik menjadi gadis yang tak boleh percaya dengan laki-laki, karena menurut mamanya semua laki-laki itu sama.
“Izza, foto siapa ini?” tanya mama Izza sembari menunjukkan selembar foto yang ia temukan dari buku pelajaran anak semata wayangnya itu, yang tak lain adalah foto Taufan.
“Sudah berapa kali Mama bilang, kamu jangan pernah berhubungan sama yang namanya laki-laki. Yang ada kamu cuma akan sakit hati.”
“Itu cuma foto kakak kelas yang Izza suka, Ma.Dia laki-laki yang baik dan tidak seperti yang Mama katakan.”
“Tahu apa kamu tentang laki-laki? Mama jauh lebih pahamdari semua pengalaman pahit yang Mama alami.”
“Mama, tolong... Tidak semua orang itu sama dengan yang Mama pikirkan. Di dunia ini memang banyak orang jahat, tapi tetap ada laki-laki baik dan tulus. Pengalaman setiap orang itu tidak sama, Ma... Kenapa sih Mama harus berpikir seperti itu? Apa Mama tidak mau Izza bahagia?”
“Mama sayang sama kamu, makanya Mama bersikap seperti ini. Mama tidak mau kamu merasakan apa yang Mama alami. Sakit, Za... sakit...” mama Izza mengelus dadanya, terlihat setitik embun yang akan menetes dari pelupuk matanya.
“Sampai kapan pun Mama tidak akan pernah mengizinkan kamu pacaran,” lanjut mama.
“Izza tahu Mama sayang sama Izza, tapi sampai kapan Izza akan seperti ini? Izza juga mau seperti teman-teman yang lain. Izza juga berhak bahagia, Ma.”
“Kamu sudah punya Mama dan kebahagiaan itu bisa kita rangkai berdua.”
“Tapi, Ma....”
“Sekali tidak, tetap tidak. Cukup Mama saja yang menanggung semuanya.”
Pelukan hangat mama membuat Izza sedikit lebih tenang. Izza hanya bisa meratapi keadaan. Ingin rasanya ia mengutuk dunia yang dirasanya tidak adil pada kaum lemah, kaum yang teraniaya. Di satu sisi, mama adalah sosok pahlawan dalam hidupnya. Namun, ia pun ingin merasakan seperti yang dicurhatkan teman-teman sekelasnya. Setidaknya, ada hal lain yang bisa menambah semangat belajarnya.
“Aku malu, Bu.”
“Malu kenapa? Mungkin trauma yang menyebabkan mama kamu jadi seperti itu. Dengan pengalamannya yang pahit, mama kamu seolah ingin melampiaskan kekesalannya pada semua laki-laki.” Dengan lemah lembut, Bu Tati mengelus rambut Izza yang kala itu terurai lurus.
“Mama pernah cerita, dia merasa sakit hati dan mau balas dendam. Dengan menjadi wanita malam, mama akan menghancurkan rumah tangga orang lain. Setelah itu, akan ada banyak wanita yang merasakan rasa sakit hati yang pernah mama rasakan.”
“Hidup memang penuh cobaan dan masalah. Bagi sebagian orang, dunia ini memang kejam. Yang penting, bagaimana kita harus menyikapinya. Kamu sabar ya, sayang...”
Keduanya saling tersenyum.
“Apa yang harus Izza lakukan, Bu? Izza bosan mendengar cemoohan teman-teman. Apalagi saat pembagian buku raport kemarin, teman-teman ramai meledek karena waktu itu mama pakai pakaian seksi. Izza tidak suka mama ditertawakan seperti itu, tapi mama tidak mau mendengarkan permintaan Izza. Izza tidak tahu harus dengan cara agar mama mau berubah, Bu.”Bu Tati tak menjawab, namun genggamantangan dan pelukannya sedikit menentramkan perasaan Izza.
Ketika Izza mencoba memberontak, mamanya marah keras, bahkan Izza sampai dilarang untuk ke sekolah. Sudah hampir seminggu ia tak masuk sekolah, hanya menghabiskan waktu dengan sepinya suasana kamar. Bu Tati pun tak dapat berbuat apa-apa, karena kamar Izza dikunci ketika mamanya tak ada di rumah.
“Kasian Izza, May.” Bu Tati mencoba berbicara pada mama Izza ketika dirasanya sikap Maya sudah melewati batas.
“Apa urusan Bu Tati bicara begitu?”
“Saya ingin melihat keadaan Izza.”
“Izza baik-baik saja”
“Sudah berapa hari ini Izza tidak masuk sekolah. Dia butuh bersosialisasi dengan lingkungan luar.”
“Urusan Bu Tati cuma menjaga Izza kalau saya sedang tidak di rumah, tapi bukan mencampuri urusan keluarga kami lebih dalam. Jangan bawa pengaruh buruk buat Izza, Bu. Akhir-akhir ini Izza sering melawan saya, jangan-jangan Bu Tati yang menghasutnya”
“Sebelumnya saya minta maaf, Maya. Tapi apa tidak sebaiknya Izza dibiarkan saja dengan pilihannya sendiri? Menurut saya Izza sudah cukup dewasa untuk menyikapi masalah-masalah dalam hidupnya. Anak seusianya juga ingin pendapatnya didengar.”
“Memangnya saya minta pendapat Ibu? Izza itu anak saya, saya tahu apa yang terbaik buat dia. Bu Tati tidak usah ikut campur karena saya tidak akan pernah mengubah keputusan. Kebahagiaan Izza adalah tanggung jawab saya, apapun akan saya lakukan untuk membuat dia tertawa.”
“Izinkan saya untuk bertemu dengan Izza. Saya hanya ingin melihat keadaannya saja.”
“Sudah saya katakan kalau Izza baik-baik saja dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kalau sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, Bu Tati boleh pergi dari rumah saya sebelum ada masalah-masalah baru lagi.”
“Baik, Maya.Tapi satu hal yang kamu harus ingat. Bukan cuma kamu yang mau dimengerti, tapi anakmu juga.”
Sampai di suatu waktu, di mana semua orang penuh sesak, tak terkecuali mama Izza dan bu Tati, ikut melengkapi suatu acara yang sakral dan khidmat. Terlihat sekelompok ekor burung mengepakkan sayapnya di atas awan, ikut menghadiri acara yang sepertinya tak mau dilewatkan oleh setiap orang.
Dengan membawa sebuah keranjang penuh warna, sekali-sekali bu Tati menyeka air matanya, entah karena rasa haru atau karena sebab lain. Di sampingnya tengah duduk mama Izza. Dengan berlinang air mata, ia terus menatap ke satu titik di depannya. Tanah merah yang masih basah itu membuat semua tamu tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun.
Hari di mana gadis malang itu tak lagi dapat menahan beban yang dititipkan Tuhan kepadanya. Ia menyerah dengan keadaan, menghentikan semua dengan tangannya sendiri. Sungguh malang nasib gadis itu, racun itu telah menghancurkan masa depannya.
“Saya yang harus disalahkan dengan keadaan ini. Saya terlalu meninggikan ego, tapi tidak memikirkan perasaan Izza. Saya menyesal...” wanita setengah baya itu tak kuasa menahan tangis, teringat wajah anak semata wayang yang sangat ia cintai.
“Izza pernah cerita kalau dia sangat menyayangimu, May. Selama ini dia hanya memendam rasa sedihnya karena tidak mau melihat kamu semakin sedih dengan keluhannya. Izza sering melihatmu menangis di kamar, tapi dia tidak berani menanyakannya. Yang saya tahu, setiap hari Izza selalu mengatakan sayang pada mamanya di dalam tulisan diary.”
Mama Izza mendapati diary Izza di dalam laci kamarnya. Ada perasaan haru saat ia membuka diary perlahan. Foto Izza saat masih kecil yang digendong mamanya terpampang di halaman depan diary pink itu. Dengan usaha meneguhkan hati, mama Izza terus membuka isi diary yang semakin menyedot perasaannya itu.
“Ingat masa dulu bersama mama, Izza ingin seperti dulu. Kalau boleh, Izza ingin menjadi anak kecil mama, yang masih bisa merasakan hangatnya peluk dan cium mama. Izza ingin waktu bersama mama, bukan hanya uang, baju, makanan, tas, lipstik, bedak, parfum... Izza tahu mama berjuang menjadi ibu sekaligus ayah, tapi Izza tidak mau mama sampai mengorbankan diri demi Izza.
Izza kesepian, Ma... Izza butuh teman buat berkeluh kesah, sedangkan Mama tidak ada waktu buat Izza, meski hanya sehari penuh... Izza sering menunggu Mama pulang untuk bertukar cerita, tapi mama pulang terlalu larut malam, bahkan sampai dini hari dan Izza sudah tidur. Waktu Izza sarapan pagi mau berangkat sekolah, Mama masih tidur di kamar. Padahal Izza ingin sekali sarapan ditemani Mama dengan canda dan tawa. Tapi semua itu tidak menyurutkan rasa sayang Izza sama Mama, Izza tetap anak Mama yang selalu sayang pada pahlawan wanitaku. Maafkan Izza kalau suatu saat nanti Izza tidak kuat lagi bertahan. Izza sayang... Izza sayang sama Mama....”
“Mama juga sayang sama Izza... Maafkan Mama, Mama menyesal. Mama ingin Izza ada di sini dan Mama janji akan memberikan yang Izza mau. Mama akan berhenti bekerja dalam dunia gelap, Mama akan membuat Izza bangga. Katakan apa yang harus Mama perbuat agar kamu kembali lagi ada di sini? Menjadi anak Mama yang manis, sayang...”
Mata Maya membengkak. Air dari matanya tak berhenti sedetik pun. Mengapa kisah itu harus berakhir dengan penyesalan? Di saat semuanya bisa dikatakan terlambat, di saat tidak ada lagi jalan untuk merubah kekhilafan.

KETIKA R MENDURI HATI



KETIKA R MENDURI HATI
Ini bukan salahmu. Kau hanya mengikuti garis takdir hidupmu saja. Ini bukan salahmu. Kau hanya menuruti permintaan dunia. Ini bukan salahmu. Kau hanya mengiyakan saat Dia mendatangkannya. Ini bukan salahmu. Kau hanya menjalani alur langit dan bumi kita. Ini bukan salahmu. Kau hanya mengalirkan syair tentang kau dan hatinya. Ini bukan salahmu saat mereka memandang surat undangan dalam genggamanku. Ini bukan salahmu saat mereka iba menatap keadaanku. Ini bukan salahmu saat foto di kertas itu adalah fotomu. Ini bukan salahmu saat ada sosok bidadari tersenyum manis beriringan dengan fotomu. Ini tetap bukan salahmu.
Ini salahku. Aku yang pandai menyimpan rasa. Aku yang lihai menyembunyikan suka. Aku yang tak berani mengatakan “ya”. Aku yang takut menumbuhkan cinta. Aku yang mundur secara perlahan.
“Kemarin aku bertemu dengannya,” kata Ane tadi pagi.
“Apa dia mengatakan sesuatu?” tanyaku.
“Dia hanya menitipkan surat undangan itu.”
Kembali kutatap surat yang masih terlipat di telapak tanganku. Warna merah kertas undangan itu tak semerah mataku yang terasa panas. Seperti ada api di dalamnya, semakin lama api itu kian membakar. Tak tahan, kutumpahkan saja semuanya, sedang Ane tak mampu berbuat apa-apa.
Bangku di taman itu menjadi saksi bisu betapa sesaknya rasa ini. Sangat sakit. Tangan mulus Ane perlahan merangkul pundak yang tak sadar kugetarkan. Kurebahkan kepala yang begitu berat. Di pundak Anelah aku memuaskan rasaku. Rasa ingin menjerit, menangis, dan menghilang. Teriakan yang tak terdengar, hanya tersimpan dalam hati.
Inikah jawabannya? Delapan bulan yang lalu ia dan aku bertemu untuk pertama kalinya. Sebatas senyum dan salam yang hadir di antara kami. Kala itu aku tengah menghadiri acara pertunangan Ane. Aku pun larut dalam bahagia yang terpancar dari senyum sahabatku itu. Di jari manisnya sudah terpasang cincin bermata zamrud yang begitu indah.
Entah disengaja ataupun tidak, setelah acara pertunangan selesai, Ane memperkenalkan seorang laki-laki kepadaku. Sosok pendiam, ramah, tapi mampu menarik perhatianku.
“Aku ingin kebahagiaan hari ini bukan hanya buatku, tapi kita rasakan bersama. Dia teman sekantorku, orangnya baik. Aku yakin kalian cocok. Lebih bagus lagi kalau kalian berjodoh,” kata Ane setengah berbisik jahil.
“Regi,” suara lembutnya terdengar saat pertama kali ia menyebutkan nama.
“Nurma,” jawabku.
Januari 2017 pertama kalinya tangan kami berjabat. Senyum simpul pun saling tersungging. Ane benar. Tak butuh waktu lama untuk aku dan Regi saling mengenal. Saling bertukar nomor kontak, menikmati makan malam di pinggir jalan, menghabiskan waktu untuk berbagi cerita, meski sekadar cerita selama satu hari di tempat kerja masing-masing.
Mei 2017 aku kembali bertemu dengan Ane. Maklum, sejak dipindahkan ke kantor utama, Ane memilih pindah rumah agar lebih dekat dengan tempat kerjanya. Keadaan yang memaksa kami tak bisa berjumpa seperti dulu. Masa-masa SMP yang orang bilang adalah masa puber, kami habiskan dengan penuh canda tawa. Berlanjut hingga lulus, kami kompak untuk masuk ke SMA yang sama. Meskipun terlahir dari keluarga kaya, Ane tidak tumbuh menjadi remaja sombong. Selain cantik, ia adalah gadis yang sopan dan sederhana. Tak heran jika Ben tak mau melepaskan Ane. Pertunangan mereka adalah buktinya.
“Bagaimana kabarmu, Nur?”
“Seperti yang kau lihat. Aku baik, Ne.”
“Lalu bagaimana dengan Regi? Cieee....” Ane tertawa kecil.
“Maksudmu apa, Ne?”
“Kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu. Lihat, pipimu memerah. Wah, apa kalian sudah pacaran? Kenapa tidak memberi tahu aku? Jahat kamu, Nur. Aku sudah tidak dianggap sahabat lagi.”
Pipiku memerah? Benarkah? Kulirik Ane. Bibirnya terkatup rapat, agak dimonyongkan sedikit rupanya. Namun, kutahu sahabatku itu bukan orang yang mudah naik darah.
“Sudahlah, Ne. Jangan goda aku terus.”
“Tapi aku juga ingin tahu, Nur. Kalian sudah kenal baik, pasti sudah ada perkembangan ke arah yang lebih serius kan? Pacaran kek, tunangan, atau langsung menikah. Kamu suka Regi, kan?” kujawab pertanyaan Ane dengan anggukan malu-malu. Anggukan kepalaku dibalas dengan senyum ringan dihiasi lesung pipit di pipi Ane.
Kuakui apa yang dikatakan Ane memang benar. Rasa suka itu sudah hadir sejak pertama tanganku berjabat dengannya, Regi. Tapi inilah kelemahanku. Aku tak pandai mengungkapkan perasaan, apalagi rasa suka terhadap seorang laki-laki. Betapa bodohnya aku, rasa yang selama ini kututup rapat ternyata tidak bisa disembunyikan dari detektif Ane. Itulah Ane Zarita Syakilla, sahabat yang penuh dengan pengertian dan perhatian.
“Percayalah, kamu akan jadi orang pertama yang akan tahu.”
“Aku cuma ingin mendengar kabar yang terbaik, tidak seperti waktu hubungan dengan mantan-mantanmu. Aku sayang kamu, Nur. Aku ingin melihat kamu bahagia dan aku yakin Regilah orangnya. Orang yang bisa membuat kamu selalu tersenyum, menghapus air matamu yang cengeng, dan mau disuruh ke toko kue malam-malam kalau kamu mau makan roti selai coklat.”
Kami tertawa. Harapan tulus termanis Ane yang kulihat kala itu dan betapa beruntungnya aku memiliki sahabat sepertinya. Semut pun iri. Meski terkadang terjadi perselisihan, tak pernah ada jarak antara kami. Pernah ia marah, namun hanya bertahan lima menit. Waktu terlama Ane merajuk selama berkawan denganku.
Ane menyarankan aku untuk meminta kejelasan status dari Regi. HP ku berdering, ada satu pesan masuk saat lagu “Ada Cinta” tengah mengalun di sudut kamarku. Suara Acha dan Irwansyah sekejap tak terdengar ketika kulihat pesan itu dikirim dari orang yang memang sedang kutunggu kabarnya, Regi. Perasaan apa ini, Tuhan? Hanya membaca namanya, hatiku berdegup begitu kencang.
Hai, Nurma. Apa kabar? Besok bisa ketemu? Ada yang ingin aku bicarakan. Kita ketemu di Cafe Laria jam 10 pagi ya...
Waktu berjalan lambat. Kulirik jam di kamar, masih menunjukkan pukul 23.45 WIB. Kali ini sulit rasanya memejamkan mata, yang kubayangkan hanya esok tepat pukul 10.00 WIB. Tak boleh terlambat sedetik pun, pikirku.
Nanti dulu, besok adalah hari Senin di mana itu adalah hari keramat yang biasanya penuh dengan segudang tugas di kantor. Benar saja. Tumpukan kertas sudah menggunung. Vas bunga mawar mini yang setiap harinya terparkir manis di atas mejaku hampir tak terlihat karena begitu banyaknya tagihan kerjaan. Oh, Tuhan... bagaimana dengan pukul 10.00 WIB?
Arlojiku seolah mengatakan masih ada waktu. Baiklah, tidak boleh ada yang menghalangiku untuk bertemu dengan Regi. Dengan mata yang menahan kantuk, dengan sisa harapan yang kubangun sendiri, tanganku begitu cekatan melahap selembar, dua lembar, hingga beratus lembar. Mataku berubah menjadi mata elang yang tajam, membidik huruf dan angka yang berderet pada lembaran putih itu. Untunglah, jarak kantorku tak jauh dari Cafe Laria, tempat yang disebut Regi tadi malam.
Dadaku masih tersengal. Kuseka peluh manja yang sesekali menetes di kening dan pipi karena memburu waktu. Kulayangkan pandangan ke sekitar, ternyata Regi belum datang. Masih tersisa lima menit lagi untukku menyiapkan diri sebelum Regi benar-benar datang. Deg... deg... deg... ada sesuatu yang aneh. Setiap aku bertemu dengan Regi, bunga-bunga cinta tumbuh bermekaran dengan cepat. Entahlah, kali ini bukan rasa cinta, tapi ketakutan.
Akhirnya sosok itu datang. Aku menikmati senyumnya yang sudah terkulum dari kejauhan. Ia berjalan, karismanya tak luntur sedikit pun meski terpanggang sinar matahari. Ia semakin dekat, rasa ketakutanku pun semakin menjadi. Kutarik napas dalam, sedalam rasaku yang selama ini masih tersimpan manis.
Setelah menanyakan kabar, kesibukan, dan pertanyaan-pertanyaan yang terasa hanya sebagai pelengkap basa-basi di antara kami, Regi mengatakan bahwa ia akan pergi. Mulai besok ia akan tinggal di Semarang selama tiga bulan. Ia ditugaskan untuk meliput kehidupan rakyat Siwal, Kecamatan Kaliwungu.
“Mungkin ini adalah pertemuan terakhir kita. Tapi setelah aku kembali, kau adalah orang yang pertama kali aku temui. Di pertemuan kita berikutnya, aku ingin mengatakan sesuatu untuk pertama kalinya dalam hidupku. Sampai saat ini aku masih mengumpulkan keberanian untuk mengatakannya. Kuharap kamu mau bersabar untuk mendengarkan apa yang ingin kusampaikan.”
September 2017. Kenangan hari terakhir sebelum Regi pergi kembali bergerak perlahan dalam pikiranku. Kenangan tinggallah kenangan. Hanya dalam hitungan waktu dunia begitu mudah berubah. Janur kuning segar sudah melengkung, ijab lantang sudah terdengar.
Aku masih mencoba berdiri dengan sisa tenaga yang kukumpulkan. Para tamu mulai berdatangan, mengantre hanya sekadar untuk memberikan ucapan selamat atas sebuah kebahagiaan di atas duri hati. Betapa kejamnya mereka, pikirku. Kuingat tanganku masih menggenggam selembar undangan yang masih terlipat rapi. Sejak Ane memberikan benda itu, aku memang sengaja membiarkannya tetap terbungkus. Ikatan pita di atasnya tak membuat hatiku tertarik untuk membukanya sama sekali.
“Nur, kamu tidak apa-apa?” tanya Ane yang sedari tadi menemaniku berdiri mematung. Menyaksikan sebuah acara yang seharusnya sakral dan membahagiakan, tapi tidak bagiku. Aku hanya mengangguk tanpa senyum yang biasa kutunjukkan.
“Apa kamu sudah membaca undangannya?” Aku menggeleng.
“Waktu Regi menitipkan undangan itu padaku, ia berpesan agar kamu membaca semua isinya.”
Awalnya aku tak menghiraukan Ane. Apapun isi di dalamnya sudah tidak ada artinya lagi. Yang ada hanya luka dan air mata. Ada secarik kertas di dalam lipatan undangan itu. Perlahan kubuka, ada tulisan Regi yang telah menari di atasnya.
Meski hanya beberapa bulan, aku merasakan kebahagiaan yang begitu luar biasa. Pertama kali aku mengenal seorang wanita yang tidak cantik rupanya saja, tapi kepribadian dan segala yang ada pada dirinya mampu membuatku menjadi orang setengah gila.
Apa kamu ingat, di bulan Mei aku pernah menjanjikan akan mengatakan sesuatu untuk pertama kalinya dalam hidupku? Aku cinta kamu. Sayang, kalimat itu tidak bisa aku ucapkan secara langsung. Ketika kau baca surat ini, aku harap kau tidak merasakan hal yang sama agar tidak ada yang tersakiti selain aku. Mungkin ini adalah jalan yang harus dilalui olehku dan olehmu.
Tiga minggu yang lalu saat aku kembali dari Semarang, aku menepati janjiku. Aku menemuimu. Tapi aku tidak mau mengganggumu yang sedang berdua dengan seorang laki-laki gagah, tampan, putih, dan necis di depan rumahmu. Pasti dia adalah kekasihmu. Kulihat kalian begitu bahagia, kau tertawa lepas seperti tanpa beban. Saat itu juga aku mundur. Sampai seminggu berikutnya, aku dikenalkan Mama dengan Riani. Katanya, luka di hati hanya bisa diobati dengan hati yang baru. Aku memilih Riani untuk menemani hari-hariku ke depan, meski aku merasa jahat karena masih menyimpan cinta pertama di hati, Nurma.
“Dia adalah sepupuku. Konyol. Sekarang impas, kita sama-sama tersakiti...” kututup kembali undangan berinisial R&R itu dengan segala kenangannya.

GUNTUR




Gelegar suram menggempur
pUlang ke rimbaan terpekur
maNuver suara menggusur
berTeriak petir hendak terkubur
mendUngnya tak melipur
beraiR mata terlebur

Guntur menusuk relung
GUntur tak lagi di sini tuk kusanjung
haNguskan penantian menggunung
minTa balas tak terujung
kuraUp kalimat menyerah mulai terhitung
pengaRah patah arang melimbung

KITA





Ke marilah, sayang
Kita menikmati waktu di ujung gersang
Sanjunglah duka di tengah gelisah
Mendiamkan sukma di hamparan luka
Hingga kita saling tahu
Antara laut dan biru
Tidak akan pernah menyatu
Aku dan kamu
Di sini
Memakan semua elegi
Yang hadirnya mengatasnamakan cinta