Minggu, 07 Oktober 2018

Syurgamu, Syurgaku


Saat-saat itu masih kunanti, selalu kunanti
Dalam ruang tak begitu luas
Janji terukir bersama

Kuakui hati ini tak sabar menunggu
Saat-saat indah antara kau dan aku
Andai tak sempat saat itu datang
Jangan ungkap tabir kelam yang kan datang

Aku masih sabar untukmu
Ketika ijab qabul berkumandang
Kau menyerahkan hidup dan mati untukku

Terpasang cincin emas berkilau cinta
Janur melambai memberi salam bahagia
Saat itu kau dan aku menjadi satu
Satu rasa, satu jiwa

Hatiku adalah hatimu
Ragamu adalah ragaku
Bahagiaku adalah bahagiamu
Syurgamu adalah syurgaku



#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Buku Harian 3


Mematikan rasa itu bukan hal yang mudah. Saat hati masih berharap pada sosok Lucky, aku dihadapkan pada pilihan lain. Aku teringat pada kalimatnya di waktu itu, saat kami saling bertatap namun dihiasi dengan mata berkaca-kaca.
“Jika nanti ada seorang laki-laki yang bisa membangunkan istana impianmu, aku menerimanya. Maafkan aku yang tak bisa mewujudkan keinginanmu.”
“Aku bukanlah orang yang mudah jatuh cinta, tapi kepadamu cinta itu begitu mudah hadir dan tumbuh. Aku tak mau yang lain, aku cuma mau kamu yang menjadi pasangan hidupku. Bukankah itu rencana kita dari beberapa bulan lalu?” tanyaku.
“Keadaannya berbeda, Nilam. Untuk saat ini aku masih punya tanggung jawab, yaitu keluargaku. Aku anak lelaki satu-satunya. Kalau bukan aku, siapa lagi yang akan mencari nafkah untuk mereka, sedangkan bapakku, aku pun tak tahu dia di mana.”
Lucky menambahkan, “Aku sendiri berat untuk melepasmu. Sungguh, aku tak pernah menemukan, dan mungkin tidak akan menemukan lagi wanita sepertimu. Kau tak pernah menuntut apapun, menerimaku apa adanya, selalu menjadi penghibur di saat aku jatuh terpuruk. Kau wanita yang baik, aku yakin hidupmu akan disandingkan dengan orang baik pula. Jika memang berjodoh, pasti nanti akan ada jalan untuk kita bersama, mungkin, besok, lusa, atau kapanpun. Itu pun kalau kau masih sendiri saat aku kembali dari negeri orang.”
Tak berselang lama, ada lamaran datang. Kawan ibu melamarku untuk anaknya, Ahmad. Mungkin inilah jawaban sang waktu atas segala tanya.
“Kau dan Lucky memang saling mencintai. Tapi hidup itu rasional, Nak. Kamu perempuan, sedangkan Lucky tidak bisa memberi kepastian dalam waktu dekat. Ingat usiamu, Nilam. Mau sampai kapan kau akan menunggunya? Bukankah dia juga yang mengatakan akan menerima jika ada lelaki yang datang kepadamu? Lalu apa lagi yang kamu pikirkan? Ini pasti berat, jadi pertimbangkanlah. Ini hidupmu, kau pula yang harus mengambil keputusan.”
Apakah aku berkhianat jika menerima Ahmad? Kupikir tidak, meski hati masih meyakinkan bahwa aku akan bertakdir dengan Lucky. Inilah jalan yang kupilih, mengisi ruang dengan hati yang baru.


#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Sabtu, 06 Oktober 2018

Sajak Berpuisi

Kepada angin ingin kukabarkan
Ada gelisah mendera
Tapi ini bukan rindu

Jurang pemisah kian tampak di mata
Risau pun terus melanda
Dia ataukah kamu?

Sajak puisiku merana
Hati ingin bersamamu
Namun jarak tak mungkin bertamu

Sajakku berpuisi mesra
Dunia memihak padanya
Sayang, ia bukanlah kamu

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Kamis, 04 Oktober 2018

INDAH


Lelaki beristri itu berjalan dengan gagah, ia melewati kerumunan anak kecil yang tengah bermain gundu di gang sempit. Ibu-ibu kompleks enggan untuk menggodanya, bahkan menyapa pun tidak. Sambil bersiul kecil, sampailah ia di sebuah rumah minimalis bercat dinding hijau muda. Di depan teras, istrinya tengah duduk di atas kursi rotan. Suwanto, lelaki berjenggot itu lalu mendekati istrinya.
“Apa tidak ada lagi yang bisa kaulakukan selain berdiam diri sepanjang hari di rotan tua itu?” tanya Suwanto setelah mempertemukan bokongnya dengan kursi rotan di sebelah Marni.
“Apa harus aku jawab setelah pertanyaan itu selalu kaulontarkan setiap pagi?” Marni kembali bertanya.
“Aku bosan, Marni. Lihatlah keadaanmu sekarang. Badan tak segar, mata cekung, rambut berantakan, bahkan secangkir kopi atau teh pun tak pernah ada untukku. Ingat, Marni. Masih ada aku yang harus kauurus.”
“Kau sudah tua dan bisa mengurus kebutuhanmu sendiri. Tak seperti Indahku yang malang, dia masih terlalu kecil untuk merasakan kepedihan. Kenapa tak kaubunuh saja aku, Wanto? Aku pun bosan hidup berpuluh-puluh tahun dengan berpura-pura tidak ada rasa bersalah. Aku mau mati saja dan menyusul Indah. Pasti dia sudah besar dan menjadi gadis yang cantik di sana. Kulitnya putih mewarisi kulitku, rambutnya hitam lurus, dan hidungnya mancung mirip hidungmu.” Marni tersenyum tipis, sedangkan Suwanto hanya terdiam sambil menatap tingkah istri tercintanya.
“Kau masih ingat? Saat suaranya pertama kali kita dengar, kita menangis menyambutnya dalam pangkuan. Bayi yang sangat cantik, kata suster waktu itu. Itu air mata bahagia, tidak seperti satu tahun kemudian saat kita kembali menangis bersama untuk kedua kalinya. Indah merintih kesakitan, sampai suaranya pun hampir tak terdengar. Ia ingin menjerit minta tangan-tangan dokter itu memeriksanya. Tapi apa yang terjadi? Sungguh tak habis kupikir, mereka sudah cuci tangan sebelum menyentuh putri kecil kita. Inikah keadilan yang harus kita terima sebab kita orang tak terbiaya?”
“Sudahlah, Marni. Kejadian itu sudah dua puluh tahun berlalu. Indah pun tak akan suka melihatmu terus mengutuk takdir seperti ini. Kau tahu, semua tetangga memandang miring tentangmu. Dipikirnya kau sudah tak waras. Aku sedih mendengarnya, Marni. Kumohon, sadarlah dan terimalah kenyataan ini dengan ikhlas. Demi aku, juga demi Indah,” kata Suwanto dengan mata berkaca-kaca.
Marni tetap bergeming. Dengan mata kosong, ia berdiri dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, meninggalkan Suwanto yang mengusap air mata. Sebagai seorang ayah yang kehilangan putri semata wayangnya, Suwanto merasakan hal yang sama. Namun, ia menyimpan rasa sedihnya sendiri, membiarkan Indah berlalu dengan kenangannya.

#TantanganODOP4
#onedayonepost
#odopbatch6
#fiksi

Kisah sang Putri

Untuk buah hatiku, tenanglah sebentar
Aku ingin membagi kisah zaman dahulu
Kisah seorang putri nan jelita
Banyak-banyak disukai rakyatnya

Ia bertemu sang pengembara di suatu waktu
Dari kalangan tak berharta
Lalu mereka saling menjatuhkan hati
Berjanji sehidup dan semati

Raja menentangnya
Tak merestui cinta sang putri kepada sang lelaki
Betapa sedih hati putri
Hingga ia memilih tuk mengakhiri

Sang lelaki menyendiri
Meratapi kematian sang kekasih
Lambat laun tubuhnya semakin mengurus
Karena derita batin merindu tak bertepi

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Selasa, 02 Oktober 2018

Hanif Alfian

Kini kau bagai kalimat aktif intransitif
Tanpa objek pun ia bisa tetap tak pasif
Sama halnya dengan dirimu, Hanif
Ah... sungguh kau terlalu sensitif

Aku tak pantas kau cemburui
Kemarin kau melihat seorang lelaki
Yang memegang tanganku saat jalan kaki
Tapi bagiku hanya kau pujaan hati

Bukan dia, Hanif Alfian...
Tapi waktu yang akan menjelaskan
Dengannya hanya cinta sepintas jalan
Denganmulah aku hayalkan kebersamaan

Sanjunglah kembali untuk cinta nyata
Bersama kan kita tepiskan segala rasa duka
Yang terkadang kecut ibarat cuka
Rumah bahagia telah menanti kita berdua

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6

Senin, 01 Oktober 2018

Baiklah

Aku gagal
Kau sama sekali tak menoleh saat aku memanggil
Baiklah.

Lampu neon itu menatap sebal padaku
Kenapa tak kupecahkan saja ia
Agar kertas puisi itu tak lagi menjadi lagu pilu
Baiklah.

Kepada rumput aku bicara
Bahwa tak ada lagi cinta Rama dan Sinta
Kenapa mereka masih saja percaya
Baiklah.

Tentang hati yang kisruh
Kau sama sekali tak berbalik saat aku memintamu berlabuh
Baiklah.

Aku pahami soal ini
Soal materi

#komunitasonedayonepost
#ODOP_6